Ramadan di SMA Negeri 1 Kutorejo tak sekadar menjadi rutinitas ibadah tahunan. Melalui program bertajuk Pondok Ramadan, sekolah ini menghadirkan rangkaian kegiatan religius yang dirancang untuk menanamkan memori positif sekaligus membentuk karakter siswa.

inilahmojokerto.com – Ramadan di SMA Negeri 1 Kutorejo tak sekadar menjadi rutinitas ibadah tahunan. Melalui program bertajuk Pondok Ramadan, sekolah ini menghadirkan rangkaian kegiatan religius yang dirancang untuk menanamkan memori positif sekaligus membentuk karakter siswa.

Kegiatan berlangsung pada 23–25 Februari 2026 menjadi ruang pembelajaran yang menyatu antara spiritualitas, kebersamaan, dan kepedulian sosial.

Sejak pagi, siswa memulai hari dengan sholat dhuha berjamaah, dilanjutkan dengan materi seputar wakaf Al-Qur’an dan pemaknaan Ramadhan di dalam kelas.

Siang hingga sore, suasana berpindah ke masjid untuk tadarus dan kajian kitab. Menjelang berbuka, siswa mengikuti ngabuburit di Bazaar Ramadan yang dikelola OSIS, MPK, dan ekstrakurikuler, sebelum akhirnya ditutup dengan buka bersama dan sholat tarawih.

Program ini diperkuat dengan kegiatan lain seperti literasi Qurani dan wakaf Al-Qur’an yang melibatkan guru, tenaga kependidikan, dan siswa.

Menurut Waka Humas, Indah Sari Wulan, S.Pd, kegiatan tersebut tidak hanya memperkuat pemahaman agama tetapi juga menanamkan nilai berbagi sejak dini.

“Melalui wakaf Al-Qur’an dan literasi Qurani, siswa belajar bahwa ibadah bukan hanya hubungan vertikal dengan Tuhan namun juga kontribusi nyata kepada sesama,” ujarnya.

Dampak positif dari program ini mulai terlihat, terutama dalam pembentukan karakter siswa. Mereka tidak hanya memahami ajaran agama secara teoritis, tetapi juga mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Staff Kesiswaan, Endang Eko Susilowati, S.Pd, menegaskan bahwa pengalaman spiritual seperti ini akan membekas dalam jangka panjang.

“Memori kebersamaan selama Ramadhan ini akan menjadi rambu moral bagi siswa. Mereka punya pengalaman langsung tentang nilai kebaikan sehingga lebih mudah menghindari perilaku negatif,” jelasnya.

Dari sisi siswa, kegiatan ini juga memberi pengalaman berbeda. Ketua MPK, Natasya Erika Putri, mengaku merasakan suasana Ramadhan yang lebih bermakna.

“Kami tidak hanya belajar agama, tapi juga belajar kerja sama, berbagi, dan menghargai waktu. Rasanya lebih dekat dengan teman dan guru,” ungkapnya.

Dengan pendekatan yang menyatukan edukasi dan praktik nyata, SMA Negeri 1 Kutorejo menunjukkan bahwa pendidikan karakter bisa tumbuh dari pengalaman sederhana namun bermakna.

Ramadhan pun menjadi momentum untuk membangun generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berakhlak. (kim)

3

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini