Kebakaran selama sepekan menghanguskan 170,39 hektare lahan dan vegetasi hutan di kawasan Tahura Raden Soerjo, Pegunungan Anjasmoro, Kabupaten Mojokerto.

inilahmojokerto.com – Kobaran api selama sepekan telah menghanguskan lahan dan vegetasi hutan seluas 170,39 hektare di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Soerjo, Pegunungan Anjasmoro, Kabupaten Mojokerto. Meski kebakaran mulai terkendali, satu titik api masih dalam penanganan tim gabungan.

Kebakaran tersebut tidak hanya merusak vegetasi, tetapi juga mengancam kelestarian ekosistem hutan dan sumber air di kawasan sekitarnya.

Sementara itu, jalur pendakian Bukit Cendono di Kecamatan Pacet masih ditutup demi keselamatan pengunjung.

Kepala UPT Tahura Raden Soerjo, Agustiningtyas Marini, mengatakan penanganan kebakaran yang berlangsung sejak Selasa (13/10/2026) mulai menunjukkan hasil.

“Masih satu titik api yang sedang dipadamkan teman-teman,” ungkap Agustiningtyas, Senin (19/10/2026).

Api sebelumnya membakar kawasan Resort Konservasi Wilayah (RKW) 06 Mojokerto Barat, meliputi Desa Begaganlimo dan Desa Dilem, Kecamatan Gondang. Sejumlah perbukitan yang terdampak antara lain Puthuk Sembung, Puthuk Duro, dan Puthuk Kencur.

Kobaran api juga sempat menjalar ke Bukit Cendono, Kecamatan Pacet, tetapi berhasil dijinakkan sebelum meluas lebih jauh.

Kerusakan Hutan dan Ancaman Ekologis

Luas kawasan terdampak kebakaran mencapai sekitar 170,39 hektare. Angka tersebut menunjukkan besarnya kerusakan vegetasi yang harus dipulihkan setelah seluruh titik api berhasil dipadamkan.

Dampak karhutla tidak hanya berupa lahan dan tumbuhan yang hangus. Kerusakan tutupan vegetasi berpotensi mengganggu fungsi hutan sebagai penyangga ekosistem, termasuk dalam menjaga tata air dan kestabilan tanah.

Karena itu, luas lahan terbakar tidak bisa langsung disamakan dengan nilai kerugian finansial. Penghitungan kerugian ekonomi dan dampak ekologis jangka panjang memerlukan pendataan tersendiri.

Tim gabungan dari UPT Tahura Raden Soerjo, polisi hutan, Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api, dan relawan masih melakukan pemadaman secara manual.

Medan perbukitan yang terjal dan sulit dijangkau menjadi tantangan dalam menjangkau titik-titik api.

“Kami masih fokus pemadaman, karena masih ada titik api yang belum padam,” kata Agustiningtyas.

8

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini