Seperti batu-batu dengan empat warna, manusia barangkali berbeda bentuk luarnya, namun mereka berasal dari satu sumber yang sama.

inilahmojokerto.com – Salam sayangku padamu, cucu-cucuku. Kemarilah, marilah kita berjalan di gunung berkarang. Lihat, satu sisinya putih, dan sisi lain hitam. Di sini di samping kita berwarna bumi, hampir berwarna sumsum, dan sisi jauh dari gunung berwarna kehijau-hijauan bercampur dengan hitam.

Gunung itu disusun dari batu yang mempunyai empat warna berbeda. Engkau dapat membagun rumah indah menggunakan batu-batu yang berwarna dari gunung itu.

Cucu-cucuku, datanglah ke sini dan aku akan menunjukkanmu sesuatu. Lihat apa yang terjadi ketika kita membenturkan batu hitam ini dengan sangat keras. Ah, batu ini menyala!

Tahukah engkau dari mana percikan itu datang? Dari dalam batu.

Sekarang kita memukul keras batu yang berwarna bumi. Api juga memancar dari batu itu. Sekarang cobalah yang putih dan yang kehijau-hijauan. Percikan api keluar dari keempat batu-batu itu, bukankah begitu?

Meskipun warna batu-batu itu berbeda, mereka bereaksi sama karena mereka semua berasal dari satu ibu, yakni bumi. Apa pun warnanya, batu adalah batu.

Cucu-cucuku, pikirkan tentang hal ini. Manusia mungkin berbeda bentuk luarnya, tetapi kita semua dari sumber yang sama. Sebelum kita membenturkan batu, apakah engkau tahu bahwa ia akan menghasilkan percikan api? Tidak, kita tidak tahu.

Dengan jalan yang sama, jika kita membenturkan kebenaran dengan kearifan yang ada dalam diri kita, percikan akan melayang.

Seperti rumah yang dibangun dengan keempat warna batu, tubuh kita dibangun dengan empat unsur tanah, api, air dan udara. Keempat unsur ini juga diwakili oleh empat agama-agama besar.

Ketika Tuhan membuat Adam a.s., Dia menciptanya hanya dari segenggam tanah, tetapi dari satu genggam itu, semua agama sudah berkembang dan menjadi seperti gunung batu raksasa.

Kebenaran dan kekuatan Tuhan dapat ditemukan dalam keempat agama-agama itu. Setiap agama mempunyai jenis doa yang berbeda, dan itu tergantung kita untuk menemukannya.

Kita harus memukul salah satu dengan kearifan untuk menampakkan percikan rahmat Tuhan, qudrat-Nya, dan sembilan puluh sembilan sifat dan perbuatan-Nya, yang dikenal dengan wilayat. Percikan itu akan beterbangan, tetapi untuk memulai api, kita membutuhkan sesuatu untuk menyalakan, sesuatu yang akan terbakar, seperti kapas.

Di mana saja percikan rahmat itu jatuh, kita harus menempatkan kapas sifat-sifat dan perbuatan Tuhan, tingkah laku-Nya, dan perilaku baik-Nya.

Jika kita menempatkan kapas itu secara hati-hati dengan keimanan, keyakinan, dan keteguhan iman, percikan rahmat akan jatuh padanya, dan akan mulai membara. Lalu kita harus mengalirkannya dengan nafas “La ilaha illa-Allah: Tidak ada Tuhan selain Engkau, ya Allah,” maka api kekuatan Tuhan akan muncul di dalam kasih-Nya.

Cahaya-Nya akan berkilau dari dalam sifat-sifat-Nya, dan gemerlapan-Nya akan terpancar dari dalam cahaya-Nya.

Kasihku padamu, anak-anakku, cahaya mataku yang berkilauan. Kalian harus memahami akibat dari sifat-sifat, perbuatan-perbuatan, dan perilaku setiap empat agama besar, empat batu berwarna ini.

Mereka mungkin tampak berbeda di luarnya, tetapi mereka datang dari sumber yang sama. Kebenaran adalah satu. Kita harus melihat kebenaran dalam agama-agama itu dan melihat bagaimana api dapat dinyalakan agar dapat memberikan kehangatan untuk semua kehidupan. Kita harus memahami keempatnya, setahap demi setahap. Lalu kita dapat membantu orang dan hidup dalam damai.

Orang dari agama yang berbeda mungkin berselisih satu sama lain, yang berkata, “Inilah Tuhanku, Tuhan Yang benar. Tuhanmu tidak ada apa-apanya. Kalian berbeda dengan kami!”

Tetapi mereka salah. Tidak seperti itu. Jika engkau melihat pohon, bebatuan, dan semak-semak, engkau akan melihat butir yang sama, kebenaran yang sama, realitas yang sama yang ada dalam segala sesuatu.

Engkau harus mengambil sari dari setiap hal yang engkau alami dan kemudian teruskanlah. Engkau harus berkembang dan memahami dampak dari setiap sifat dan tindakan.

Engkau harus mengetahui apa yang benar dan apa yang salah, apa yang baik dan apa yang buruk, apa itu surga dan neraka, apa yang benar dan apa yang salah, apa yang diizinkan dan apa yang dilarang. Engkau harus mengetahui misteri terdalam dari penciptaan alam, esensi, dan manifestasi.

Engkau harus menemukan makna dalam segalanya. Engkau harus mengetahui yang baik dan yang buruk di setiap hal yang engkau lihat atau cium. Dalam segala hal yang engkau kerjakan, engkau harus menekan keburukan di kiri dan menerima kebaikan di kanan. Hanya jika engkau mengumpulkan apa yang engkau butuhkan, hidupmu akan menjadi benar.

Empat tingkatan agama diadakan supaya engkau dapat menaikinya dan pergi melebihinya. Benturkan masing-masing agama dengan kebajikan, dan peraslah sari keagungan dan sifat-sifat Tuhan di mana saja engkau menemukannya.

Kemudian kebenaran akan berkembang, dan engkau akan melihat kejernihan jiwa, keanggunan rahmat-Nya, dan kehidupan sempurna pada manusia sejati, seorang insan.

Kemudian engkau akan mengetahui makna quthbiyyat. Engkau akan menghilang ke dalam Nur, Cahaya Allah, dan engkau akan berpadu dengan-Nya. Engkau akan ada di dalam Allah dan Allah ada di dalam dirimu. Keduanya menjadi satu.

Setelah engkau menjadi sempurna, engkau akan melihat-Nya sebagai kesempurnaan itu. Setelah engkau menjadi cahaya, Dia akan menjadi Yang Mahaterang, Yang ber-Daulat.

Dalam cahaya itu, kesempurnaan-Nya bisa menjadi terlihat. Dia adalah Penguasa keanggunan, Yang Esa Yang tak terbandingkan. Allah adalah tak terduga. Jika engkau menjadi hamba-Nya dan melakukan tugas-Nya itu akan menjadi baik. Engkau harus melakukannya!

Kasihku padamu, cucu-cucuku dari keluarga yang satu, Tuhan Yang Satu, dan doa yang satu. Ketika engkau mendapati keadaan itu, maka engkau akan mengetahui kedamaian, ketenangan, dan cinta dalam kehidupanmu sendiri, dan engkau akan mencintai semua kehidupan.

Jika masing-masing dari kalian mencari keadaan ini dengan kebajikan dan pemahaman, hal itu akan menjadi kemenangan hidupmu. Kemenangan itu adalah kedamaian.

Kasihku padamu, cahaya mataku yang berkilauan, cucu-cucuku, saudara-saudaraku, putra-putriku. Pikirkanlah sedikit hal ini dan berusahalah memahami maknanya. Kasihku padamu.

 

Sumber:

Buku Kebun Ma’rifat Vol.4

Oleh M. Rahim Bawa Muhaiyaddeen

14

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini