Tanpa sentuhan ruh, pendidikan hanya menghasilkan orang pintar yang berpotensi merusak : menipu, membohongi, memanipulasi, mengadu domba, bahkan korupsi.

Oleh : Moh. Sila Basuki Widodo
(Pendiri Majelis Kota Santri)

inilahmojokerto.com – Pendidikan Ruhani (Ruh) adalah proses belajar-mengajar ilmu tentang ruh — bukan sekadar teori spiritual, tetapi perjalanan memahami hakikat diri manusia sebagai makhluk Allah. Secara sederhana saya spill keterangan (definisi) tentang ruh dan yang bertautan dengannya sebagai berikut :

Ruh adalah sumber kehidupan dari Allah (QS. Al-Isra’ [17]:85 — “Mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah : ruh itu termasuk urusan Tuhanku…”).
Jiwa adalah kesadaran diri (perasaan dan kesadaran batin).
Nyawa adalah “nafs” kehidupan jasmani.
Sukma adalah inti jiwa yang terdalam.

Dalam tradisi tasawuf klasik, para ulama seperti Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menjelaskan bahwa manusia terdiri dari jasad dan ruh ; jasad adalah kendaraan, sementara ruh adalah pengemudi yang menentukan arah perjalanan hidup.

Adalah Prof. Dr. KH. Imam Suprayogo — Profesor dan mantan Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang (1997–2013) — yang dikenal sebagai reformis pendidikan Islam melalui integrasi sains dan agama.

Beliau berhasil memecahkan rekor MURI tahun 2009 karena konsistensi menulis artikel harian di situs resmi kampus.

Dengan telaten beliau melalui berbagai metode dan media melakukan Pendidikan Ruh, meskipun tak lagi melalui lembaga pendidikan formal sebagaimana saat beliau mendedikasikan “energi” hidupnya sebagai pengajar, guru besar, dan rektor di berbagai universitas di Malang.

Saya (penulis) boleh dibilang salah satu “murid” beliau. Bersama teman-teman dari Surabaya, Sidoarjo, Pasuruan, dan Batu, kami belajar ilmu agama (ilmu ruhani) kepada beliau. Kami sepakat memberi nama majelis ini sebagai Pengajian Majelis Kota Santri.

Mengaji secara umum berarti mempelajari, menelaah, atau membaca Al-Qur’an, Al-Hadits dan kitab-kitab Islam lainnya untuk memahami, merenungkan, dan mengamalkan ajaran yang terkandung di dalamnya.

Allah berfirman :
“Dia-lah yang mengutus seorang Rasul… membacakan ayat-ayat-Nya, menyucikan mereka, dan mengajarkan Kitab dan Hikmah.” (QS. Al-Jumu’ah [62]:2)

Ayat ini menunjukkan bahwa pendidikan dalam Islam bukan hanya transfer ilmu, tetapi juga proses tazkiyatun nafs (penyucian jiwa).

Dalam sesi mengaji bareng di kediaman beliau (Senin, 16 Februari 2026), Prof. Imam Suprayogo menyatakan bahwa pendidikan hakiki adalah mendidik ruh, bukan sekadar kecerdasan intelektual.

Pendidikan harus fokus pada : Penataan rohani, Penyucian jiwa dan Pembangunan karakter berbasis Al-Qur’an. Hal ini sejalan dengan konsep ulama klasik seperti Ibn Sina dan Al-Farabi yang menekankan bahwa tujuan pendidikan adalah membentuk manusia utuh secara rasional dan spiritual.

Ruh yang sehat akan memimpin otak (logika dan matematika), lalu menggerakkan seluruh tubuh menuju kebaikan. Namun realitasnya, banyak manusia lebih mengandalkan logika dan matematika daripada memosisikan Allah di dalam qolbu, sehingga ruh yang seharusnya memimpin justru dinafikan.

Rasulullah SAW bersabda : “Ketahuilah, dalam tubuh ada ‘segumpalan’ ; jika ia baik maka baiklah seluruh tubuh, dan jika rusak maka rusaklah seluruh tubuh. Itulah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Tanpa sentuhan ruh, pendidikan hanya menghasilkan orang pintar yang berpotensi merusak : menipu, membohongi, memanipulasi, mengadu domba, bahkan korupsi.

Pandangan ini selaras dengan kritik para pemikir Islam modern seperti Syed Muhammad Naquib Al-Attas yang menyebut krisis peradaban modern sebagai akibat dari kehilangan adab dan orientasi spiritual.

Korupsi, kolusi, dan nepotisme seringkali dilakukan bukan karena kurangnya kecerdasan, tetapi karena miskinnya ruhani.

Beliau mensinyalir bahwa Islam sebagai agama (pendidikan ruh) nyaris hanya tinggal nama jika tidak diimplementasikan dalam kehidupan. Islam bukan sekadar identitas, melainkan ilmu yang harus : Dipelajari, Dipahami, lalu Diamalkan dalam sikap dan perilaku.

Allah berfirman : “Wahai orang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan ?” (QS. Ash-Shaff [61]:2-3)

Proses mendidik ruh diawali dengan mengenali diri sendiri. Manusia terdiri dari :
Jasad (unsur tanah, air, api, angin) kemudian Ruhani (nafs, roh, jiwa). Setiap manusia memiliki potensi kebaikan dan keburukan — tarik menarik antara takut kepada Allah dan godaan duniawi.

Konsep ini disebut Al-Qur’an sebagai tazkiyah : “Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya.” (QS. Asy – Syams [91]:9)

Tiga Pilar Ma’rifat :

1. Mengenal Diri (Ma’rifatun Nafs)
“Man arofa nafsahu faqad arofa rabbahu” : Barang siapa mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya. Kesadaran diri melahirkan kerendahan hati karena manusia sadar akan kelemahannya dan kebutuhan total kepada Allah.

2. Mengenal Rasulullah (Ma’rifatur Rasul)
Mengenal Nabi Muhammad SAW berarti meneladani akhlak beliau sebagai uswatun hasanah (QS. Al-Ahzab [33]:21): Shidiq, Amanah, Tabligh dan Fathanah.

3. Mengenal Allah (Ma’rifatullah)
Puncak pengenalan adalah mengenal Allah melalui sifat-Nya dan Asmaul Husna.
Dzikrullah menjadi jalan utama menuju kesadaran spiritual : “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d [13]:28) Dan sebaik-baik dzikir adalah shalat.

Prof. Imam Suprayogo sering mengingatkan pentingnya integrasi ilmu umum dan ilmu agama agar manusia menjadi Ulul Albab — orang berakal sehat yang senantiasa berdzikir (QS. Ali Imran [3]:190-191).
Dalam filosofi Jawa disebut “ngallah” — kesadaran ilahiyyah atau Rabbani.

Penutup

Insyaa Allah, dengan mengenal diri, mengenal Rasulullah, dan mengenal Allah secara mendalam, seorang muslim akan menjadi mukmin yang bukan hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga mulia secara spiritual dan beradab.

Karena pada akhirnya, pendidikan sejati bukan hanya mencerdaskan pikiran, melainkan menghidupkan ruh.

Semoga manfaat.

Sidoarjo, 18 Februari 2026
Moh. Sila Basuki Widodo
(Pendiri Majelis Kota Santri)

9

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini