Muhammad Albarra (Gus Barra).

Allah SWT melalui Rasulullah SAW telah mengajarkan kepada kita bagaimana menjadi pemimpin yang baik dan amanah. Ilmu dan akhlak kepemimpinan itu ternyata sudah ditanamkan oleh Allah kepada kita sejak lahir sebagai manusia yang didaulat menjadi Khalifatullah atau wakil Tuhan di muka bumi.

Ajaran itu sebagaimana difirmankan Allah dalam Surat Al-Baqarah ayat 30:

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً. قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ. قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, sesungguhnya Aku hendak menjadikan satu khalifah di muka bumi. Mereka (malaikat) berkata, apakah Engkau hendak menjadikan di bumi itu siapa yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji-Mu dan menyucikan-Mu? Tuhan berfirman, sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Betapa eloknya penuturan Allah dalam ayat tersebut yang mencerminkan keindahan sastra yang jujur dengan menggunakan metode qishshah atau berkisah.  Suatu cerita yang tidak dibuat-buat sebagaimana karya fiksi, melainkan demi penyampaian kebenaran yang kokoh.

Pesan sentral yang terkandung dalam ayat tadi ialah maklumat atau berita didaulat atau diangkatnya manusia oleh Allah sebagai Khalifah atau Wakil Tuhan di muka bumi ini; yaitu ditetapkannya manusia sebagai pemakmur, pengatur dan pengelola sistem kehidupan di panggung dunia ini. Supaya tercipta kehidupan yang harmonis, damai, tentram dan sejahtera serta memperoleh kebahagian hidup di dunia hingga akhirat.

Dipilihnya manusia oleh Allah sebagai khalifah, bukannya memilih makhluk lain seperti jin, malaiakat apalagi hewan, lantaran hanya manusialah yang memiliki kelayakan dan kepantasan menjadi pemimpin, mengelola alam, dengan aneka kelebihan dan potensi yang dipunyai manusia seperti akal dan intuisi.

Manusia sebagai makhluk paling istimewa di antara makhluk lainnya lantaran dikaruniai akal budi dan perasaan hati, sehingga dari waktu ke waktu senantiasa mampu menciptakan kemajuan-kemajuan yang mencengangkan dalam berbagai bidang khususnya semenjak umat manusia mulai mengenal tulisan yang selanjutnya dikenal dengan nama zaman sejarah.

Akal budi inilah yang membedakan antara hewan dan manusia, sebagaimana pernyataan para ahli mantiq atau logika yang merujuk pada tesisnya Aristoteles: “Al insaanu hayawanun naatiq”: manusia adalah hewan yang mampu berpikir. Itulah mengapa hewan dari zaman batu, zaman bahula hingga era kemajuan teknologi dan informasi sekaramg ini keberadaannya sama saja, tetap begitu-begitu saja, tetap telanjang, tetap tak tahu etika, tetap bodoh.

Al-Our’an menjelaskan bahwa keistimewaan dan kelebihan manusia dari makhluk-makhluk lainnya, ialah karena manusia disamping dilengkapi dengan organ-organ tubuh atau badan. indria utama, pendengaran dan penglihatan seperti ada pada makhluk-makhluk lainnya, juga dianugerahi akal fikiran, tekad dan semangat. Allah berfirman :

قُلْ هُوَ الَّذِي أَنْشَأَكُمْ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ قَلِيلًا مَا تَشْكُرُون

Katakanlah : “Dialah yang menciptakan kamu dan menjadikan bagimu pendengaran, penglihatan dan hati (akan tetapi) sangat sedikit kamu bersyukur (QS. Al-Mulk [67]: 23).

Dengan akal itu manusia bisa berfikir, dan dengan fikirannya itu manusia bisa membedakan antara yang baik dengan yang buruk, antara yang benar dengan yang salah, dan dengan fikirannya itu pula manusia bisa menggali dan memanfaatkan kekayaan alam serta mengembangkan dan meningkatkan taraf hidup dan kehidupannya.

Sebagai makhluk yang terhormat, bahkan dimuliakan oleh Allah, manusia mengemban amanah luhur yang tidak sanggup diemban oleh makhluk lainnya, Allah berfirman:

إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنْسَانُ ۖ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا

“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanah tersebut dan mereka takut akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanah itu oleh manusia. Sungguh manusia itu amat zalim dan amat bodoh (QS. Al-Ahzab [33]: 72).

Dalam ayat tersebut Allah memberikan amanah kepada manusia. Tetapi Allah juga mengetahui bahwa akan ada sisi lain dari sifat manusia yang melakukan kerusakan. Hal ini pernah disinggung oleh para malaikat yang bertanya sembari mengira bahwa makhluk manusia ini diprediksi kelak akan membikin kerusakan, kekacauan dan saling menumpahkan darah.

Menjawab pertanyaan mereka Allah menjawab dengan singkat tanpa membenarkan ataupun menyalahkannya, karena memang akan ada di antara yang diciptakannya itu yang berbuat seperti apa yang diduga malaikat.

Allah menjawab singkat:” Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Allah kemudian menegaskan dalam firman-Nya:

… ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan-tangan manusia…” (QS. Ar Ruum [30]: 30).

Amanah dan tanggung jawab yang diemban oleh manusia ialah kekhalifahan, yaitu menjadi pemimpin di muka bumi mewakili Tuhan dalam merealisasikan aturan-aturan-Nya.

…هُوَ أَنشَأَكُم مِّنَ ٱلْأَرْضِ وَٱسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا…

“…Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya… (QS. Hud [11]: 61).

Memakmurkan bumi yang menjadi tanggung jawab manusia seperti tersebut pada ayat di atas, bukan hanya mengambil manfaatnya semata-mata, tetapi juga terkandung di dalamnya tanggung jawab untuk memelihara kelestariannya. Sehingga segala sesuatu yang ada di bumi ini termasuk udara akan tetap berfungsi sesuai dengan ketentuan sunatullah.

Seorang pemimpin yang baik langsung bisa mentadabburi ayat-ayat di atas sebagai kiasan untuk berbuat adil dan bertanggung jawab atas amanah yang diberikan oleh rakyat kepadanya. Ia akan menjaga amanah seraya berusaha keras mensejahterahkan rakyatnya, tidak mau melihat orang-orang yang dipimpinnya miskin, kelaparan dan terus dihimpit masalah.

Amanah yang dibebankan masyarakat kepada para pemimpin mengandung arti bahwa pihak pemberi amanah yaitu Tuhan percaya dan mengharapkan si pemegang amanah akan melaksanakannya sesuai dengan keinginan pemberinya, dan bukan sebaliknya seturut kehendak nafsu manusia sendiri.

Kesanggupan manusia untuk menerima tugas atau amanah sebagai khalifah Allah di bumi tersebut mengandung resiko dan akibat yang luas. Sebab manusia secara fitrah membawa potensi baik sekaligus potensi buruk. Demikian pula, pemimpin yang didaulat oleh rakyat harus mampu juga mengemban amanah dan tanggung jawab.

Meski menerima amanat ini tidak mudah mengamalkannya, namun disebabkan amanat ini pula manusia menjadi berderajat lebih tinggi ketimbang malaikat karena manusia dapat berbuat lebih daripada malaikat dengan modal kemerdekaanya serta pengetahuannya tentang kehendak Allah melaui pembacaan atas wahyu. Oleh karena itu, untuk dapat mengetahui kehendak Tuhan, manusia diberi wahyu yang dibabarkan di dalamnya mengenai apa yang diinginkan Tuhan agar diwujudkan oleh manusia di muka bumi ini.

Dengan demikian tugas kekhalifahan sudah dibekali oleh Allah rambu-rambu jalan bernama petunjuk wahyu supaya dapat melaksanakannya dengan optimal sesuai apa yang di kehendaki sang pemberi amanat. Hikmah ini bisa dijadikan hikmah bagi para calon pemimpin yang berniat naik untuk didaulat oleh rakyat.

Akhirnya, kita berharap semoga kita yang telah diamanahi tanggung jawab sebagai Khalifah Allah mampu melaksanakan dan menjalankannya dengan baik sesuai apa yang dikehendaki oleh Allah. Dan agar berhasil mengamalkannya maka menjadi kewajiban bagi kita dalam menjalani kehidupan di alam dunia ini untuk senantiasa berpegang teguh pada ajaran Al-qur’an, Sunnah Nabi dan dawuh para Ulama solih seraya berupaya meneladani nama-nama Allah yang indah yaitu Asmaul husna.

Insya Allah dengan komitmen mentaati apa yang telah diatur oleh syariat agama, manusia tidak akan menyeleweng dan menyimpang dari tugas tanggungjawabnya selaku pemimpin, pengelola dan pemakmur di bumi ini. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini