IM.com – Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jawa Timur mengapresiasi Dinkes Kota Mojokerto karena telah menindaklanjuti penataran dan lokakarya dalam rangka akselarasi penurunan Angka Kematian Ibu – Angka Kematian Bayi. Hasilnya Dinkes Kota Mojokerto mencatat, hingga bulan Oktober 2017, Angka Kematian Ibu (AKI) di Kota Mojokerto 0 (nihil).

Penataran dan lokakarya (Pentaloka) dinilai efektif, karena dalam pentaloka ada sinergitas antara masyarakat, dokter dan rumah sakit dan tidak semua kota/kabupaten di Jatim menindaklanjuti pentaloka tersebut.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Propinsi Jawa Timur, Drg Fitria Dewi mengapresiasi dan mengucapkan terima kasih kepada Kota Mojokerto khususnya Dinkes. “Pentaloka merupakan satu cara stategis untuk menurunkan akibat kematian ibu dan akibat kematian bayi (AKI-AKB),” ujarnya, Selasa (5/12/2017).

Dinkes Kota Mojokerto dinilai telag berhasil menekan bahkan tidak ada akibat kematian ibu saat melahirkan di di Kota Mojokerto pada tahun 2017 ini. Capaian Kota Mojokerto relatif cukup bagus dibanding tahun kemarin. Artinya bisa mempertahankan dan menjaga, program kesehatannya mendapat dukungan dari kepala daerahnya.


“Walikota Mojokerto intens terjun ke masyarakat dan posyandu Kota Mojokerto mendapatkan penghargaan nasional. Dukungan Kota Mojokerto terhadap kesehatan menjadi kontribusi di Jatim. Kasus kematian ibu saat melahirkan di Jatim paling banyak di Jember. Faktornya dari hulu ke hilir mulai, baik menyangkut budaya, pendidikan, pola hidup kesemuanya saling mempengaruhi,” tuturnya.

Walikota Mojokerto, Mas’ud Yunus mengatakan, dalam rangka mengurangi atau menurunkan angka AKI-AKB di Kota Mojokerto, implementasinya di dalam lingkungan keluarga dan masyarakat. “Harapannya dilakukan pembinaan sehingga kualitas SDM di Kota Mojokerto meningkat,” urainya.

Kepala Dinkes Kota Mojokerto, Christina Indah Wahyu menjelaskan, jika AKI di Kota Mojokerto tahun 2017 tercatat nol, pada tahun 2016 terdapat satu kasus dan tahun 2015 sebanyak 2 kasus.

“Hanya 1 digit, tidak pernah lebih dari 5 digit. Jika lebih dari 5 digit sudah di atas target nasional AKI-AKB sehingga upaya kita bagaimana jangan sampai meninggal,” katanya.

Indah menambahkan, pentaloka adalah untuk mengawasi dan evaluasi jangan sampai ibu dan bayi meninggal. Sehingga kasus yang sebelumnya meninggal harus dicari tahu penyebabnya, diawasi dan evaluasi terus serta dilakukan langkah antisipasi. Tujuannya agar berat badan bayi yang dilahirkan tidak kurang dari 2,5 kilogram.

“Pengawasan untuk bayi sampai usia 5 tahun dan pengawasan dimulai dari ibu hamil. Jangan sampai kurang gizi, terkena penyakit menular, amenia, ini yang harus dijaga. Diperlukan peran serta semua pihak, bagaimana gizi ibu hamil baik karena masalah utama adalah ekonomi. Dinkes hanya bisa memberikan bantuan susu,” jelasnya.(ning/uyo)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here