Durian khas Trawas selalu diburu wisatawan yang berlibur ke Trawas

IM.com – Rasa durian khas Trawas selalu membuat ketagihan. Aroma, serta rasanya manis pahit dan daging. Maka, belum afdol bila berkunjung ke Trawas tidak mencicipi buah durian Trawas yang memiliki daging tebal.

Trawas merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Mojokerto. Lokasinya berada di wilayah pegunungan. Selain memiliki beragam obyek wisata alam dan sejarah juga dikenal penghasil buah yaitu salak dan durian.

Rasa durian Trawas itu tak akan ditemukan di wilayah lain. Untuk mendapatkan pun tidak sulit. Salah satunya di warung lesehan Bu Juni, di kawasan Daplang, Desa Trawas. “Beberapa pelanggan, bila ke Trawas belum mencicipi durian asli Trawas, belum afdhol,” ungkap Juni (24), putra sulung pemilik lesehan durian Warung Bu Juni.

Dalam berjualan, lanjut Juni, harus jujur pada pembeli. Apalagi sebagian besar pemesan dan pembeli durian di warungnya adalah pelanggan setia. Pajangan ratusan durian yang ada di warungnya pun, lebih banyak durian “import” dari kawasan Pasuruan. Sementara yang asli durian Trawas hanya puluhan saja.


“Kita sediakan durian asli Trawas. Cuman tidak lebih dari 30 buah. Separohnya sudah pesanan pelanggan Surabaya. Biasanya kalau sudah musim durian gini, durian Trawas ratusan buah pun lakunya sangat baik. Ndak sampai sejam,” ujar Juni yang juga salah satu perangkat Desa Belik Kecamatan Trawas.

Pendapatan yang diperoleh dari penjualan durian di hari libur bisa mencapai Rp 1 – 2 juta. “Lumayan untuk tambahan penghasilan keluarga. Sekaligus kita ingin turut mendukung perwujudan Trawas sebagai kawasan wisata andalan di Kabupaten Mojokerto,” kilahnya.

Keunikan dan kenikmatan durian asli Trawas, juga diakui salah satu pembeli di warung Bu Juni. Adalah Muhammad Kholili (48), bapak tiga anak yang beralamat di Pesapen Barat – Surabaya. Dirinya mengaku penasaran merasakan durian Trawas, karena informasi dari anak pertamanya dua tahun lalu. Akhirnya, sekarang sering ke Trawas sekedar ingin mengulangi sensasi rasa durian Trawas.

“Anak saya pernah ikut training ke Trawas. Katanya waktu itu beli durian di sekitar vila tempatnya menginap. Bahkan dia bawah pulang dua buah. Rasanya memang beda. Tebal, manis pahit, dan aromanya tajam banget. Jadi ketika liburan gini, saya dan keluarga pingin ke Trawas tak hanya untuk berwisata. Justru pingin menikmati durian asli Trawas sepuasnya,” ungkapnya sembari menikmati durian sambil lesehan.

Menurut Kholili, masalah harga bukan persoalan. Harga tak terpaut jauh, hanya sekitar 5 – 10 ribu saja. Tetapi sensasi rasa dari durian Trawas itu yang unik dan mahal harganya. Bahkan Kholili pernah beli durian di kawasan Sidoarjo yang katanya asli durian Trawas. Tapi setelah dicicipi, Kholili langsung tahu bahwa durian yang akan dibelinya bukan durian khas Trawas.

Kholili dan keluarga serta beberapa temannya, kini menjadi pelanggan setia warung Bu Juni. Acapkali mereka pesan lewat telpon dulu sebelum berangkat ke Trawas. Bahkan beberapa kali mereka langsung menuju rumah Bu Juni yang terletak di Desa Belik. “Jangan pernah ngaku ke Trawas kalau anda belum pernah merasakan sensasi durian asli Trawas!” imbuh Kholili.(use/uyo)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here