Putri sulung Presiden keemat RI (alm) Abdurrahman Wahid memimpin Barisan Kader Gus Dur dan Gusdurian menyatakan dukungan untuk pasangan Joko Widodo-Ma'ruf Amin di Pilpres 2019.

IM.com – Barisan Kader (Barikade) Gus Dur akhirnya melabuhkan dukungannya untuk pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin di Pilpres 2019. Capres incumbent itu meraup berkah dukungan para Gusdurian dan keluarga Presiden keempat RI almarhum Abdurrahman Wahid setelah lobi yang dilakukan cawapres Ma’ruf Amin dengan  istri Gus Dur, Sinta Nuriyah dan Mahfud MD.

Usai menggelar tetutup, Sinta Nuriyah memang menegaskan sikap politiknya dalam Pilpres 2019. Ia mengatakan, dalam pilpres ini dirinya hanya berperan sebegai ibu bangsa.

Dia kemudian menyampaikan pesannya agar Pilpres 2019 menjadi ajang untuk mempererat persaudaraan, bukan tempat untuk saling hujat saling fitnah dan melontarkan kebencian.

“Karena itu, pesta rakyat itu harus kita lakukan secara santun damai secara adil jujur dan dilakukan secara kesatria. Itu yang saya harapkan karena ini demi keutuhan bangsa dan negara RI. Itu pesan politik saya,” kata Sinta usai bertemu calon wakil presiden Ma’ruf Amin di kediamannya, Ciganjur, Jakarta Selatan.


Namun sikap politik lebih terang dari keluarga Gus Dur dan Gusdurian disampaikan Putri sulung Gus Dur, Zannuba Ariffah Chafsoh alias Yenny Wahid beberapa saat usai pertemuan ibundanya dengan dua tokoh tadi.

Pernyataan dukungan Yenny Wahid dan Barikade Gus Dur untuk Jokowi-Ma’ruf Amin disampaikan secara terbuka oleh di kantor sekretariat Gusdurian, Jalan Kalibata, Jakarta, Rabu sore (26/9/2018).

“Dengan ini kami nyatakan mendukung pasangan nomor 1 Jokowi-Ma’ruf Amin,” kata Yenny Wahid didampingi sejumlah kiai dan kader Gus Dur.

Arah dukungan Yenny dan Barikade Gus Dur ini sejatinya sudah terasa di awal pidatonya. Pada paragraf kedua sebelum mengucapkan dukungan yang tegas, Yenny mengutip pendapat Imam Syafei yang mengatakan kedudukan seorang pemimpin terhadap rakyatnya ibarat kedudukan seorang wali terhadap anak yatim.

Yenny berpendapat bangsa Indonesia sedang susah. Karena itu pemimpin yang dicari adalah orang yang mau ikut gerah.

“Pemimpin yang kami rindu adalah pemimpin yang mendengar nurani rakyat. Yang tidak berjarak dengan masyarakat. Pemimpin yang tidak canggung memeluk warga dan bersama mereka berbaur dan berbagi aroma keringat,” ujar Yenny Wahid.

Kriteria ini pula yang menjadi alasan Yenny dan Gusdurian mendukung Jokowi-Ma’ruf. Duet ini dianggap paling mirip dengan kriteria sosok pemimpin yang mereka idamkan.

“Dua-duanya berfikir dan bertindak sederhana, namun kaya dalam karya. Oleh karena itu, dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim, dengan ini kami menyatakan mendukung pasangan No. 1. Bismiillah Presiden Jokowi akan kembali memimpin Indonesia,” ujar Yenny Wahid menutup pidatonya.

Dalam acara tersebut, hadir berbagai elemen dari kader Gus Dur. Antara lain Forum kiai kampung Nusantara. Garis poltik almawadi alumni mahasiswa Timur Tengah, Gerakan Kebangkitan Nusantara.

Selain itu, Satuan Mahasiwa Nusantara (Samara), Milineal Political Movement, Komunitas Santri Pojokan, Jaringan Perempuan untuk NKRI, dan Forum Profesional Peduli Bangsa. (put/im)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here