Putri sulung Gus Dur, Zannuba Ariffah Chafsoh Rahman Wahid alias Yenny Wahid belum menentukan arahdukungan Barikade Gus Dur untuk pasangan capres-cawapres.

IM.com – Para pengikut dan penggemar Presiden keempat RI, Abdurrahman Wahid (Gus Dur) atau yang lebih dikenal Gusdurian belum menentukan arah dukungan ke salah satu pasangan capres-cawapres. Kendati, dua pasangan capres-cawapres terus berupaya memikat warga NU, khususnya para Gusdurian yang harus diakui memiliki magnet besar.

Putri sulu Gus Dur, Zannuba Ariffah Chafsoh Rahman Wahid alias Yenny Wahid menegaskan, warga nahdliyin dan Gusdurian memiliki mekanisme sendiri untuk memutuskan dukungannya ke Jokowi atau Prabowo. Salah satunya yakni dengan mempelajari Visi dan Misi calon presiden.

“Kalau NU sudah pasti ada mekanisme sebelum membuat keputusan. Kita dengar dulu visi dan misi para calon,” kata Yenny saat jumpa pers bersama Prabowo Subianto di Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Kamis (13/9/2018).

Sedianya, para Gusdurian akan mengundang Prabowo dan Jokowi untuk memaparkan visi-misinya. Setelah mendengarkan visi dan misi calon presiden, Gusdurian dan kader NU akan menggelar silaturahmi nasional (Silatnas) guna menentukan dukungan.

“Visi misi kan tanggal 23 September, kita akan lakukan silatnas dulu. Barisan kader Gus Dur ini banyak, ada yang pendukung pak Prabowo, ada pak Jokowi,” jelasnya.

Yenny merasa perlu mendengar komitmen Prabowo dan Jokowi terhadap demokrasi, bangsa, Islam menjadi inspirasi, tapi tidak mesti dijalankan sebagai hukum positif. Ini hal-hal inti yang disampaikan keduanya.

Kalau Sinta Nuriyah ibunya, kata Yenny, tetap sebagai ibu bangsa, yang nantinya akan memberikan restu mau kemana suara kader Gus Dur. Namun Yenni sendiri secara pribadi nampaknya lebih condong ke Prabowo.

Hal itu bisa dilihat dari pengakuannya soal kedekatan keluarga Gus Dur dengan Prabowo. (Baca: Begini Kedekatan Keluarga Prabowo dan Gus Dur).

“Beliau (Prabowo) adalah aset bangsa, visinya luas sekali. Walau latar belakang militer, komit pada demokrasi luar biasa, tantangan adalah mngatur pesta demokrasi adalah menghindari benturan, eksesif,” puji Yenny.

Di sisi lain, salah satu kelompok Gusdurian yang tergabung dalam Barisan Kader Gus Dur (Barikade Gus Dur) mengamini pernyataan Yenny soal mekanisme dalam menentukan arah dukungan capres-cawapres. Namun dari sisi rasa, dukungan Barikade Gus Dur Jatim malah cenderung ke pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin.

Walau begitu, Koordinator Barikade Gus Dur Jatim, Arizal mengaku tak bisa membuat keputusan sendirian sebelum ada keputusan resmi dari Barikade Pusat. Karena sikap Barikade Gus Dur akan diputuskan dalam silaturahmi nasional (Silatnas) yang akan digelar pada 5-6 Oktober 2018.

“Harapan kami keputusan Silatnas nanti sesuai dengan aspirasi dan suasana kebatinan Barisan Kader Gus Dur di Jatim yang mendukung Jokowi-Ma’ruf Amin. Semoga keputusannya senafas dengan aspirasi para kader Gus Dur di Jatim,” ujar orang dekat Hasan Aminuddin ini.

Arizal mengakui apapun hasil keputusan Barikade Gus Dur dalam Pilpres 2019 bergantung pada sosok Yenny Wahid sebagai pembina DPP Barikade Gus Dur. Namun keputusan dukungan akan diambil, tentumya lewat pertimbangan yang matang. Di antaranya dengan mendengar visi dan misi para Capres-Cawapres serta aspirasi Kader Gus Dur se-Indonesia.

Kedekatan Yenny Wahid dengan Prabowo langsung ditanggapi dingin oleh adiknya, Alissa Wahid. Menurut Alissa, Gusdurian tidak boleh dijadikan kendaraan untuk kepentingan politik praktis.

“Bisa tidak seorang Gusdurian mengikuti sikap politik @yennywahid dan Barikade GusDur? Kalau personal ya boleh. Tidak boleh mengatasnamakan gusdurian atau komunitas lokal gusdurian,” tulis Alissa Wahid. (sun/im)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here