Peserta seleksi CPNS sedang serius mengerjakan soal tes SKB dengan sistem Computer Assisted Test (CAT).

IM.com – Badan Kepegawaian Daerah Jatim menyoroti kecilnya prosentase jumlah calon pegawai negeri sipil (CPNS) yang lulus tes tahap awal Seleksi Kompetensi Dasar (SKD) tahun 2018. BKD meminta Badan Kepegawaian Nasional (BKN) menurunkan standar kelulusan (passing grade) pada tes SKD untuk mengantisipasi potensi tidak terpenuhinya kebutuhan tambahan jumlah PNS di masih-masih pemerintah daerah akibat banyak pelamar yang gagal.

Tingkat kelulusan pelamar CPNS 2018 di seluruh daerah di Jatim pada tes SKD ini cukup merisaukan. Betapa tidak, dari 53 ribu pelamar, hanya 5,3 persen yang lulus di tes tahap awal ini.

“Usulan skema penurunan passing grade akan disampaikan besok,” kata Ketua Badan Kepala Daerah Jawa Timur (BKD Jatim) Anom kepada wartawan di Surabaya, Kamis (15/11/2018).

Sedianya, akan ada pertemuan BKN dengan BKD di Kantor Kanreg 2 Surabaya, Jumat besok (16/11/2018). Pertemuan ini akan dihadiri perwakilan BKD dari beberapa daerah di Jatim dengan agenda khusus membahas perubahan skema passing grade SKD.


BKD Jatim mengusulkan penurunan tiga poin pada nilai SKD. Sehingga nantinya hasil yang lulus bisa diumumkan pada 22-23 November 2018.

“Kita harapkan dari hasil tes diturunkan 3 (poin).Sehingga dalam waktu dekat bisa diumumkan,” ujar Anom.

Selain passing grade, Anom menyatakan ada faktor lain kenapa banyak pelamar yang gugur. Yakni jam tes dan persiapan.

“Sama persiapan dari BKN terlalu pendek (untuk mengadakan tes),” ucapnya.

BKN Enggan Turunkan Standar Kelulusan

Sementara Kepala BKN Bima Haria Wibisana tak bergeming dengan kondisi miris tingkat kelulusan CPNS di tahap awal seleksi. Ia menyatakan, akan tetap meneruskan proses CPNS 2018 bagi peserta yang lulus tanpa harus menurunkan passing grade.

“Kita akan meneruskan apa yang menjadi hasil dari tes sekarang ini, jadi yang sudah lulus akan terus mengikuti tes berikutnya,” kata Bima, Kamis (15/11/2018).

Menurut Bima, passing grade SKD CPNS 2018 ini tidak berbeda dengan tahun lalu. Secara nasional, kata Bima, jumlah peserta tes SKD yang lolos mencapai 13 persen.

Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB), Syafruddin hari ini melaporkan, jumlah pelamar CPNS di tingkat pusat yang lolos tes kurang dari 100 ribu orang.

Hanya masalahnya sekarang, ada ketimpangan tingkat kelulusan antara pusat dan daerah. Peserta dianggap lolos tes SKD bila mampu melawati ambang batas (passing grade) yang telah di tentukan, yakni 100 soal untuk SKD.

“Yang di daerah ini menjadi masalah karena nilai kelulusannya rata-rata hanya 3 persen. Ini yang membuat formasi-formasi di daerah akan kosong kalau hanya 3 persen dari peserta yang lulus,” kata Bima Haria Wibisana.

Wakil Presiden, Jusuf Kalla turut angkat bicara ihwal rendahnya kelulusan CPNS pada tahap tes SKD ini. Menurutnya, hal ini terjadi akibat kurangnya sumber daya manusia terdidik yang memiliki skilled labour alias keterampilan yang dibutuhkan di dunia kerja.

“Dari 1,8 juta orang (yang boleh ikut ujian), yang bisa lulus cuma delapan persen. Delapan persen itu kurang dari 100 ribu (orang), padahal yang dibutuhkan 200 ribu,” kata Wapres di acara Tempo Economic Briefing 2018 di Hotel Ritz Carlton Jakarta, Kamis.

Wapres mendorong perlunya perbaikan sistem pendidikan dan penyetaraan untuk pendidikan di Pulau Jawa dan di luar Pulau Jawa. Pemerintah akan terus meningkatkan sistem pendidikan Indonesia dengan mengikuti perkembangan teknologi yang ada.

“Upaya kita untuk mengikuti bukan hanya membeli teknologinya, tapi bagaimana mendidik orang dengan betul-betul dapat mengikuti semua ini pada masa datang,” jelasnya. (son/im)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here