Pasien penderta demam berdarah menjalani rawat inap di RSI Sakinah, Sooko, Mojokerto.

IM.com – Jumlah penderita demam berdarah dengue (DBD) di wilayah Kabupaten Mojokerto, terus meningkat seiring maraknya pasien yang meninggal dunia di sejumlah daerah lain di Jatim. Namun sampai sekarang, pemerintah kabupaten belum menyatakan kejadian luar biasa (KLB) DBD.

Peningkatan jumlah pasien DBD ini membuat uang rawat inap di rumah sakit di Mojokerto penuh. Rumah Sakit Islam Sakinah, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto misalnya, tercatat menampung 88 pasien rawat inap penderita DBD yang terdiri dari balita dan anak-anak.

“Jumlah pasien DBD terus meningkat sejak Desember 2018. Bulan Januari 2019 sudah 88 pasien,” kata dokter RS Islam Sakinah, dr Roisul Umam.

Roisul mengatakan, kebanyakan pasien yang sudah sebulan rawat inap di RSI Sakinah memang berasal dari wilayah Kabupaten Mojokerto. Beberapa dari Kota Mojokerto dan Kabupaten Jombang


“Rata-rata pasien yang rawat inap sudah dalam kondisi lemah, trombositnya (sel darah) terus menurun,” ungkapnya.

Jumlah trombosit yang terlalu rendah akan mengancam nyawa jika mengakibatkan pendarahan di otak. Walaupun hal ini termasuk jarang, tetapi beberapa kasus pernah terjadi.

Pada kebanyakan kasus, trombositopenia berat dapat diobati jika penyebab utamanya dikendalikan. Untuk itu, jika Anda merasakan gejala trombositopenia, segara konsultasikan ke dokter untuk menghindari komplikasi yang mungkin terjadi.

Makanya tak heran, Unit Donor Darah Palang Merah Indonesia Kota Mojokerto beberapa pekan terakhir dibanjiri permintaan trombosit untuk penanganan penderita DBD sejak November 2018. Permintaan itu meningkat dua kali lipat sejak awal Januari 2019.

“Sebelumnya 250 kantong menjadi 500 kantong darah Trombosit,” kata Staf Pelayanan Medis PMI Kota Mojokerto Yanuar.

Untuk mengantisipasi lonjakan permintaan itu, pihaknya menggandeng pendonor darah dari berbagai instansi pemerintahan maupun swasta untuk mencukupi kebutuhan tersebut.

Namun kondisi ini tidak membuat Pemkab Mojokerto memberlakukan status KLB DBD. Hal ini sama dengan sikap Pemerintah Provinsi Jatim.

Pemprov Jatim belum bergeming menetapkan status KLB meski tercatat sudah ada 2.660 kasus DBD, 46 penderita di antaranya meninggal dunia selama bulan Januari 2019.Hanya beberapa daerah yang sudah ditetapkan sebagai KLB seperti Kabupaten Ponorogo, Kabupaten Jombang, Kabupaten Bojonegoro dan beberapa daerah.

“Kita membantu non KLB. Belanjanya kita keluarkan seperti KLB. Tapi menetapkan KLB, belum,” tutur Gubernur Jatim, Soekarwo.

Kepala Dinas Kesehatan Jatim Dr Kohar Heri Santoso di Surabaya, menambahkan, meskipun belum ditetapkan KLB, namun beberapa daerah sudah mulai memberlakukan KLB karena angkanya yang sudah memenuhi kriteria.

“Alasannya, karena tidak semua kabupaten/kota kondisinya seperti itu. Kita lebih cenderung spesifik kepada daerah yang peningkatannya signifikan. Nanti daerah yang tidak signifikan dinyatakan KLB juga tidak pas. Tapi, kami tetap memantau secara khusus,” kata Kohar.

Adapun rincian kasus DBD dan korban yang meninggal dunia yakni 271 kasus di Kabupaten Kediri, terbanyak di Jatim. Demikian pula jumlah penderita yang meninggal dunia di daerah ini tercatat paling banyak yakni 12 orang.

Kabupaten Tulungagung menjadi daerah dengan kasus DBD terbanyak kedua dengan 249 kasus. Tiga orang di antaranya meninggal dunia.

Serta dan Kabupaten Bojonegoro menyusul di urutan ketiga dengan 177 kasus. Empat orang dilaporkan meninggal dunia.

“Jumlah kasus DBD pada Januari tahun ini dibanding tahun lalu cenderung lebih tinggi. Hal itu disebabkan beberapa faktor, seperti musim, lingkungan dan kondisi masyarakat,” ujar Kohar.

Dari data tersebut, Jatim menduduki peringkat ke-5 di Indonesia dengan kasus DBD paling banyak. Namun, Kohar menyatakan peringkat tersebut tidak terlalu penting dan buka landasan untuk memberlakukan status KLB. (pit/im)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here