Wali Kota Mojokerto, Ika Puspitasari (Ning Ita) kala mengunjungi pasien DBD di Rumah Sakit Umum Daerah Dr Wahidin Sudiro Husodo.

IM.com – Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari memberi perhatian khusus terhadap penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) yang jumlahnya terus meningkat. Ning Ita sapaan Wali Kota Mojokerto akan meluncurkan program baru yang diberi nama Prokasih (Program Kali Bersih) untuk menanggulangi wabah DBD.

Prokasih dijalankan mulai awal Feburari 2019. Dalam pelaksanaannya, Pemkot Mojokerto akan melibatkan seluruh puhak terkait.

Selain OPD (organisasi perangkat daerah) terkait, Pemkot akan melibatkan seluruh stakeholder termasuk TNI, Pramuka, Tagana, komunitas remaja. Seluruh elemen masyarakat termasuk RT-RW dan kader Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) pun diminta berpartisipasi aktif dalam penanggulangan DBD ini.

“Musim penghujan seperti ini memang rentan wabah, salah satunya demam berdarah. Ini harus sama-sama kita perangi. Salah satunya adalah dengan bersih-bersih sungai,” jelas Ning Ita saat menjenguk pasien DBD di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr Wahidin Sudiro Husodo Kota Mojokerto, Kamis (31/1/2019).


Pemkot menegaskan tidak akan melakukan fogging.  Melainkan akan lebih memaksimalkan kader PSN. Ning Ita mengatakan, pihaknya akan lebih memaksimalkan partisipasi aktif masyarakat termasuk sekolah dan organisasi yang ada dibawah naungan OPD terkait untuk menanggulangi DBD.

“Tetapi kita cegah bersama-sama, PSN kita gerakkan.Keterlibatan semua masyarakat juga kita gerakkan supaya tidak lebih banyak lagi yang terjangkit DBD. Minimal bisa menjaga lingkungannya sendiri,” ujar Ning Ita.

Dalam kesempatan itu, Ning Ita tak lupa memberi semangat kepada keluarga pasien DBD di RSU Dr Wahidin Sudiro Husodo. Ning Ita menghimbau agar keluarga pasien, umumnya warga Kota Mojokerto selalu menjaga kebersihan lingkungan rumah.

Demam Berdarah Dengue memang sedang mewabah di hampir seluruh daerah di Jatim. Kasusnya terus meningkat sampai hari ini, total ada 3.000 orang lebih yang terjangkit DBD dengan 52 orang diantaranya meninggal dunia akibat DBD.


“Memang ada daerah yang sudah ditetapkan KLB, tapi kalau belum ditetapkan menjadi KLB bukan berarti daerah tersebut bisa tenang-tenang saja. Intensitas kegiatan pencegahan harus tetap ditingkatkan. Seperti pemberantasan sarang jentik nyamuk termasuk dengan fogging, tanaman lavender dan rosemary yang bisa mengusir nyamuk,” kata Kepala Dinas Kesehatan Jawa Timur dr. Kohar Hari Santoso .

Untuk penyakit infeksi termasuk DBD, lanjutnya, faktor terbesar adalah daya tahan tubuh, lingkungan dan musim. Pihaknya sudah mengeluarkan kirim surat edaran ke instansi kesehatan se-Jatim untuk melakukan pencegahan-pencegahan DBD.

”Banyak upaya yang dilakukan termasuk PSN dan kalau ada orang terkena DBD yang lain jangan sampai terkena,” ujarnya.

Sementara rumah sakit di Kota Mojokerto pun dibanjiri pasien DBD dalam beberapa pekan terakhir. Rata-rata pasien DBD yang menjalani perawatan di rumah sakit di Kota Mojokerto meningkat dua hingga tiga kali lipat. (Baca: RS di Mojokerto Dibanjiri Panderita DBD).

Sejak awal Januari 2019, RSUD dr. Wahidin Sudiro Husodo sudah menangani 182 pasien DBD. Dalam sehari, rata-rata 2 sampai 9 pasien baru masuk ke rumah sakit BUMD tersebut.

“Sampai Rabu (29/1) jumlah pasien DBD yang masih menjalani rawat inap 30 orang,” ungkap Direktur dr Sugeng Mulyadi.

Rinciannya, 9 pasien merupakan warga Kota Mojokerto, 15 orang dari Kabupaten Mojokerto. Sedangkan enam pasien lainnya dari luar kabupaten dan kota. (im)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here