Para tersangka sindikat pengedar narkoba diringkus Satnarkoba Polres Mojokerto Kota selama Operasi Tumpas Semeru 26 Januari hingga 6 Febuari 2019.

IM.com – Peredaran narkoba di Mojokerto semakin meresahkan. Kota Mojokerto dan sekitarnya bahkan disebut mulai menjadi sasaran empuk peredaran narkoba jaringan Internasional yang menyisir dari Surabaya.

“Bandar-bandar dari China menjadikan Indonesia, khususnya Surabaya dan wilayah di sekitarnya sebagai mangsa empuk,” papar Ketua BNN Kota Mojokerto, AKBP Suharsih kepada wartawan, Kamis (14/2/2019). Para bandar menyelundupkan zat adiktif itu melalui perbatasan, seperti Aceh, Kalimantan dan pulau lain.

“Untuk Jawa Timur, narkoba diselundupkan melalui Madura,” ujarnya.

Sinyalir itu diindikasi dari jumlah tersangka pengedar dan jumlah narkoba dari berbagai jenis yang dibongkar polisi terus meningkat. Selain itu, area peredarannya pun semakin massif menyasar ke warung-warung kopi hingga permukiman warga.


Menurut Suharsih, semakin maraknya peredaran narkoba di Mojokerto karena faktor ekonomi dan kurangnya kesadaran masyarakat tentang bahaya zat adiktif itu.

“Mereka (para pengedar) tergiur duit besar dan mudah diperoleh dari jualan narkoba,” kata Suharsih. Di sisi lain, imbuh Suharsih, para generasi muda sekarang menganggap narkoba itu adalah gaya hidup.

Merujuk data dari BNNK Mojokerto, lebih dari 100 tersangka pengedar narkoba di kota ini ditangkap polisi. Untuk 2019, hanya dalam kurun 10 hari di awal tahun ini, Satresnarkoba Polres Mojokerto Kota sudah meringkus 16 tersangka. (Baca: Polres Mojokerto Kota Tangkap 16 Tersangka Narkoba, Tiga di Antaranya Satu Keluarga).

Angka itu belum termasuk yang berada di tahanan Polsek wilayah hukum Polres Mojokerto Kota.

Suharsih menjelaskan, narkoba jenis sabu-sabu merupakan barnag haram yang paling banyak dikonsumsi di Kota Mojokerto. Kemudian disusul ekstasi dan ganja. Dari data BNN Kota Mojokerto, tahun 2018 lalu barang bukti seberat 3 kg berhasil diamankan dari ketiga jenis barang haram tersebut. Sementara untuk wilayah yang masuk zona merah, Kecamatan Prajurit Kulon menjadi yang paling banyak diincar pengedar. Bandar bahkan menargetkan warung-warung sebagai sasaran.

“Modus yang masif dilakukan adalah sistem lepas. Dari keterangan pelaku, mereka membeli dengan cara transfer, kemudian dikirim paketnya. Cara ini yang umum dilakukan sehingga bandar besar sulit terdeteksi,” tegas Suharsih.

Menyikapi kondisi tersebut, BNN terus melakukan sosialisasi sampai ke tingkat RT/RW terkait bahaya narkoba. Teemasuk door to door ke sekolah, pengajian, dan rumah-rumah.

“Kami juga sudah menggandeng banyak instansi. Harapannya, masyarakat bisa paham bahaya narkoba. Memilih kegiatan positif dan lainnya,” tandasnya. (joe/im)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here