Fatmawati, warga Desa Suruh, Kecamatan Dawarblandong, Mojokerto, menunjukkan belalang goreng buatannya yang sudah banyak dipesan pecinta kuliner.

IM.com – Banjir belalang di musim penghujan menjadi berkah bagi Fatmawati, warga Desa Suruh, Kecamatan Dawarblandong, Mojokerto. Ibu rumah tangga ini bisa meraup omzet berlipat karena orderan belalang goreng buatannya melonjak dari biasanya.

Berawal dari kebiasaan mencari belalang di sawah untuk konsumsi sendiri, Fatma kemudian mencoba mengembangkannya untuk bisnis kuliner. Masakan yang cukup unik, belalang goreng buatan Fatma ini ternyata mendapat respon positif dari para tetangga yang mencicipinya.

“Ada dua jenis belalang yang saya masak, yaitu belalang padi, dan kayu. Harganya untuk yang mentah Rp 150 ribu/kg. Kalau yang sudah dibersihkan (bagian-bagian yang tak layak konsumsi), tambah Rp 15 ribu menjadi Rp 165 ribu,” ujar Fatma kata Fatma saat ditemui di rumahnya, Kamis (21/2/2019). Ia mengaku mendapat pasokan bahan mentahnya dari para pemburu belalang.

Sadar akan keuntungan melimpah dari bisnis belalang, perempuan berusia 34 tahun itu terus mengembangkan bisnisnya. Ia mengkreasikan masakan belalangnya menjadi beberapa varian. Antara lain, belalang kemasan mentah, goreng rasa sedang dan pedas.


“Untuk belalang goreng saya hargai Rp 280 ribu/kg. Kami juga mengemas ukuran satu ons dengan harga Rp 30 ribu. Setiap harinya kami bisa menggoreng dua sampai tiga kg. Tapi kalau banyak pesanan, bisa sampai delapan kg,” ujarnya sembari membersihkan belalang sebelum dikasih bumbu dan digoreng.

Tak hanya itu, Fatma pun merambah media sosial sebagai sarana pemasaran produknya. Ibu tiga anak itu mengaku tidak bisa lepas dari smartphone miliknya lantaran banyaknya pelanggan yang menghubunginya.

Alhasil, bisnis kuliner unik yang sudah 4 tahun dijalankan Fatma ini semakin banyak dikenal. Omzetnya saat ini bahkan bisa menyentuh puluhan juta rupiah setiap bulannya.

“Sudah banyak yang memesan. Bahkan saya sudah pernah menerima orderan dari Kalimantan Timur dan Batam. Kalau wilayah Jawa Timur sudah biasa, seperti Surabaya, Sidoarjo, Malang, dan kota lainnya. Saya kirim lewat jasa ekspedisi, sesuai permintaan konsumen,” jelas Fatma sembari menunjukkan bagaimana proses penggorengan, mulai dari memasukkan bumbu dan belalang ke wajan, hingga siap untuk disajikan.

Lezatnya kuliner belalang goreng buatan Fatma juga diamini Tini, pelanggan tetap belalang goreng Fatma. Tini mengaku setiap hari dirinya membeli belalang, baik untuk camilan atau lauk makan.

“Bumbunya khas. Ada pedas, gurih, dan asin. Tapi kalau saya, paling suka dengan menu yang pedas. Tidak menemukan rasa yang sama dari belalang goreng lainnya,” 

Pujian Tini itu disambut senyum simpul oleh Fatma. Sesekali dia mengusap keringat di pipinya, efek dari panasnya wajan. Menurut Fatma, dia tidak memiliki bumbu spesial. Hanya Bawang putih, bawang merah, cabai dan garam. Namun dia menekankan, rasa nikmat belalangnya itu karena saat memasak, dia menyamakannya seperti memasakkan sang suami.

Kini, Fatmawati tidak perlu lagi repot-repot untuk bekerja ke luar untuk memenuhi kebutuhan hidup. Dari penjualan belalang goreng, dia bahkan sudah mampu membeli mobil, tanah, dan beberapa properti untuk investasi masa depan. (joe/im)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here