Petani cabai rawit di Kecamatan Dawarblandong yang terpaksa membiarkan tanamannya mengering akibat kekurangan air dan irigasi kering.

IM.com – Nasib para petani cabai di sejumlah wilayah di Kabupaten Mojokerto, kurang mujur. Di saat cabai rawit meroket hingga Rp 70 ribu per kilogram, para petani malah mengalami gagal panen.

Para petani di Kecamatan Dawarblandong misalnya, justru merugi akibat tanaman cabai mengering sebelum dipanen. Tanaman cabai yang terhampar di lahan pertanian Desa Pucuk, Kecamatan Dawarblandong tampak mengering di musim kemarau ini.

“Sejak awal Juni lalu mulai mengering karena tidak ada air, irigasi kering,” ungkap Sunardi, salah seorang petani di Desa Pucuk, Jumat (19/7/2019).

Menurutnya, jika irigasi berjalan normal, biasanya bisa menghasilkan rata-rata 3-4 kuintal cabai dari setiap hektar lahan.

“Hasilnya bisa Rp 5 juta sekali panen. Tapi kalau kondisinya seperti ini (kering), tidak laku dijual. Biarkan saja mengering di pohonnya,” ujarnya.

Karena gagal panen, Sunardi mengalami kerugian Rp 4 juta untuk setiap hektare lahan yang digarapnya. Kerugian itu berasal dari pengeluaran biaya tanam dan perawatan yang selama ini.

“Mau bagaimana lagi, kami tak bisa berbuat apa-apa. Karena tanaman cabai sangat membutuhkan air untuk tetap bertahan hidup,” ujarnya.

Karena banyak petani lokal yang gagal panen, stok cabai rawit di sejumlah Pasar di Kota dan Kabupaten Kota Mojokerto didatangkan dari luar daerah. Banyak juga yang dari luar pulau.

“Cabai di sini kiriman dari Sulawesi. Kalau kualitasnya sama baik, tapi cuma sulit saja mendapatkan barang,” kata salah seorang pedagang di Pasar Tanjunganyar Kota Mojokerto.

Hal ini menyebabkan harga cabai meroket Rp 70 ribu dari sebelumnya hanya Rp 25 ribhu per kilogram.

Ia berharap, pemerintah segera mengambil langkah terkait dengan mahalnya harga cabai ini. Sebab kenaikan ini juga merugikan pedagang lantaran penjualannya menyusut.

“Sebelum kenaikan, sehari saya bisa menjual 5 kuintal. Sekarang pembeli mengurangi jumlah pembelian karena harga mahal, paling banyak 3 kuintal,” tandasnya.

Selain tidak adanya pasokan dari petani lokal, melejitnya harga cabai rawit ditengarai ada andil distributor. Harga cabai sengaja dimainkan oleh distributor nakal.

“Kita sedang berkomunikasi dengan teman-teman Disperindag daerah lain untuk bisa memasok kebutuhan cabai rawit ini untuk stabilitas harga,” tutur Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Mojokerto Ruby Hartoyo.

Daerah lain penghasil cabai yang disebut Ruby adalah Kabupaten Nganjuk, Kediri dan Blitar, Trenggalek serta Tulungagung. “Kecamatan Dawarblandong yang menjadi sentra tanaman cabai rawit sudah habis,” ujarnya. Ruby mengungkapkan, untuk mencukupi stok, beberapa pedagang terpaksa mengambil cabai rawit dari daerah sentra yang ada di Jateng. Diakuinya, petani dari daerah sentra itu biasanya rutin memasok cabainya ke distributor di Malang Raya dan Surabaya. (im)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here