Beginilah tampilan batik tulis dengan pewarna kulit ari biji kakao dari desa di Wisata Desa BMJ Mojopahit, Desa Randu Genengan, Kecamatan Dlanggu hasil kreasi oleh pengrajin binan Dinkop Kabupaten Mojokerto.

IM.com – Pengrajin batik di bawah naungan Dinas Koperasi Kabupaten Mojokerto sedang getol melakukan eksperimen menggunakan kulit air biji kakao sebagai bahan pewarna batik. Hasil kreasi batik dengan bahan pewarna baru ini nantinya diyakini bakal laku keras di pasaran dengan harga jual Rp 150 ribu sampai Rp 1,5 juta.

Ide membuat bahan pewarna batik ini tercetus ketika para pengrajin binaan Dinkop Mojokerto melihat banyaknya kulit ari biji kakao di Wisata Desa BMJ Mojopahit, Desa Randu Genengan, Kecamatan Dlanggu, yang dibuang begitu saja.

Selain menyediakan wahana berlibur dan edukasi, Wisata Desa BMJ Mojopahit juga memiliki pabrik mengolah buah kakao menjadi berbagai olahan coklat. Setiap produksi coklat di pabrik ini menghasilkan limbah kulit air biji kakao yang tak terpakai dan dibuang sia-sia.

“Sayang sekali kalau dibuang percuma. Maka, kami mencoba bereksperimen untuk memanfaatkan kulit ari biji kakao itu menjadi sesuatu yang bemanfaat. Awalnya, hasil belum maksimal, lalu kami eksperimen lagi,” kata pembina pengrajin batik Dinkop Kabupaten Mojokerto, Ayu Christina (36), Selasa (30/7/2019).


Pada eksperimen berikutnya, Ayu mencampur ari biji kakao tadi dengan tawas. Tetapi kali ini hasilnya juga ternyata masih pudar.

 “Lalu kami coba campur dengan bahan pewarna alam, ternyata bisa, warnanya jadi agak pekat. Beberapa campuran bahan memang bisa menghasilkan warna berbeda,” ujar pengrajin asal Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto ini.

Ia mencontohkan, pembangkit warna tunjung (sejenis logam) misalnya akan menghasilkan warna gelap. Sedangkan tawas menghasilkan warna terang dan kapur menghasilkan warna cerah.

”Untuk awet tidaknya, tergantung perawatan,” cetusnya.

Pengrajin batik tulis Kabupaten Mojokerto melihat hasil kreasi warna batik dari bahan kulit ari biji kakao.

Setelah sukses menghasilkan beragam varian warna, eksperimen kini berlanjuut ke pemeliharaan warna. Menurut Ayu, batik tulis tidak boleh dijemur di panas yang terik agar warnanya awet.

“Juga kalau mencuci, tidak boleh menggunakan mesin cuci namun cuci tangan dengan menggunakan bahan campuran keren atau sampo. Untuk disetrika, suhunya juga tidak boleh terlalu panas,” urainya.

“Belum dijual karena kita masih akan bereksperimen, dengan kayu dan daun tanaman kakao. Yakni apa yang bisa dieksplor dari Wisata Desa, yang pertama ya baru kulit ari ini karena jadi limbah yang dibuang,” jelasnya.

Ayu menjelaskan, motif batik tulis kreasinya nanti juga akan dikembangkan dengan desain khas Majapahit.

Seperti gambar gapura, surya Majapahit, buah maja, putri campa dan lainnya. Target kedepan, lanjut Ayu dengan batik pewarna dari kulit ari biji kakao bisa diproduksi banyak.

“Sasarannya (penjualan) ke dalam dan luar negeri serta banyak peminat. Ini masih dikembangkan namun Wisata Desa siap untuk kulit arinya. Kita juga punya program membina pengrajin batik tiap kecamatan, mereka akan membuat komunitas sendiri. Karena selama ini, untuk mencari pencanting yang sulit,” tuturnya.

Saat ini, Dinas Koperasi tengah menggelar workshop membatik untuk ibu-ibu kopwan yang diberikan secara gratis. Kegiatan ini akan diperluas untuk masyarakat umum.

“Dinas Koperasi juga memiliki Klinik Bisnis untuk menarik tamu dibuat mini work shop dengan anggota 5 sampai 10 orang. Maret mulai,” ujar Ayu.

Kepala Dinas Koperasi Kabupaten Mojokerto, Yoko Priyono menargetkan, batik Mojokerto yang berkembang sejak dua tahun lalu mampu bersaing dengan hasil kreasi Solo dan Jogja.

Untuk mencapai target itu, Dinas Koperasi sudah membentuk forum usaha kelompok bersama dan sudah berjalan sejak tahun 2018 lalu. Untuk tanaman kakao berkembang dengan baik di Mojokerto sehingga Dinas Koperasi Kabupaten Mojokerto berkolaborasi dengan Wisata Desa BJM Mojopahit agar lebih terkenal.

“Kira-kira manfaat apa dari coklat ini untuk batik, akhirnya kulit ari daripada dibuang dijadikan bahan pewarna batik. Karena pada waktu itu, pengagas Wisata Desa mengatakan jika kulit air biji kakao jika terkena di baju warnanya tidak bisa hilang,” jelasnya.

Namun semua perlu proses, terkait lama kelunturan akan kerja sama dengan ISIS Solo dan Balai Batik Solo. Menurutnya, baik buruknya batik dari kain dan seni goresan tangan. Mutu kain jelek maka akan cepat rusak. Untuk pemasaran, pihaknya bekerjasama dengan pusat perbelanjaan daring (online marketplace).

“Serta perusahaan yang bergerak dalam bidang pengiriman dan logistik untuk pemasaran online, saya kira tidak ada masalah. PR kita, hanya bagaimana batik yang sudah ditetapkan pemerintah masuk warisan dunia ciri khas Indonesia. Batik menjadi semua trend, pemasaran saya optimis,” tegasnya. (im)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here