Personel Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Kabupaten Mojokerto menjalani pelatihan penyelamatan korban bencana banjir di Sungai Brantas.

IM.com – Memasuki musim penghujan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mojokerto meningkatkan kesiagaan menghadapi bencana. BPBD menggembleng personel dari Tim Reaksi Cepat (TRC) yang bertugas melakukan penyelamatan terhadap korban bencana.

Penggemblengan ini juga sebagai ujian bagi personel TRC dan relawan untuk mendapatkan lisensi kemampuan dalam penyelamatan korban bencana alam di semua medan. Lisensi ini merujuk pada Peraturan Menteri (Permen) Ketenagakerjaan Nomor 9 tahun 2016.

’’Banyak yang bisa melakukan penyelamatan atau mengoperasionalkan alat-alat. Tapi untuk menjamin proses penyelamatan dan evakuasi korban bencana alam berjalan baik, personel penyelematan harus benar-benar teruji. Ini dibuktikan dengan Lisensi itu,’’ kata Kepala BPBD Kabupaten Mojokerto, M. Zaini.

Dalam penggemblengan di Sungai Brantas dan Jembatan Gajah Mada, puluhan anggota TRC dibekali Medical First Responder atau pertolongan pertama hingga vertical rescue. Personel TRC juga dilatih teknik memindahkan ke lokasi lebih aman.

“Mereka dilatih bagaimana mekanisme penyelamatan, korban maupun barang berharga di berbagai medan. Dari titik rendah ke titik yang lebih tinggi sampai pada medan yang curam atau vertical,’’ terang Zaini.

Peserta diajari untuk menggunakan alat-alat pada ketinggian. Seperti tali karmantel, descender, ascendare, mobile fall arester, dan lainnya.

Vertical rescue, lanjut Zaini, merupakan salah satu bentuk kegiatan teknis penyelamatan korban yang paling berbahaya. Zaini meminta kepada para peserta agar meningkatan pelatihan, kerjasama tim dan komitmen individu karena merupakan hal yang terpenting yang diperlukan untuk pemulihan korban yang terjebak dalam lingkungan vertikal.

Harapannya, lanjut Zaini, ketika ada korban bencana jatuh dari tebing, personil mempunyai pengetahuan dan keterampilan untuk digunakan sewaktu-waktu.

“Ketika menyelamatkan korban yang berada pada ketinggian tidak hanya satu dua orang saja. Harus ada (personel) juga yang standby di bawah,’’ tutur Zaini.

Selain itu, tim penyelamatan juga dituntut bisa mengoperasikan perahu karet dalam melakukan evakuasi jika terjadi bencana banjir. Termasuk teknik mengevakuasi, sehingga tidak sampai merugikan korban ataupun petugasnya sendiri.

Menurut Zaini, beberapa wilayah di Mojokerto memiliki potensi bencana. Karena itu, Tim penyelamatan dan relawan harus memiliki ketangguhan serta kemampuan yang memadai untuk melakukan pertolongan pertama sampai evakuasi.

’’Adanya pelatihan petugas dan relawan sudah mengetahui apa yang harus diperbuat. Terutama untuk penyelamatan korban bencana dari ketinggian,’’ tandasnya. (im)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here