Komisioner KPU Kabupaten Mojokerto Divisi Teknis dan Data Achmad Arif. Foto: Martin.

IM.com – Hanya satu pasangan calon perseorangan yang berpeluang ikut meramaikan perebutan kursi Bupati-Wakil Bupati Mojokerto periode 2021-2026. Duet Subagya Martasentana-Abdi Subhan dinyatakan memenuhi syarat minimal sebagai pasangan bakal cabup-cawabup Mojokerto.

Munculnya Subagya-Abdi memang cukup mengejutkan. Mengingat, nama Subagya sebelumnya digadang sebagai bacabup perseorangan mendampingi Ervanda Krismianto. (Baca: Dua Sosok Ini Siap Duet Calon Independen Pilkada Mojokerto 2020).

Namun tak banyak yang menyangka, Subagya justru muncul sebagai cabup independen berpasangan dengan Abdi Subhan yang dinyatakan memenuhi syarat dukungan minimal.

“Defri diganti Abdi Subhan, menjadi operator (liaison officer/LO) SILON,” kata Komisioner KPU Achmad Arif kepada inilahmojokerto.com, Senin (24/2/2020). SILON merupakan aplikasi sistem informasi pencalonan pemilu.


Dengan penggantian itu, komposisi pasangan berubah. Subagya naik menjadi bacawabup dan Abdi Subhan menduduki bacawabup.

“Berdasar pantauan di SILON sampai Minggu pukul 24.00 WIB, hanya pasangan ini satu-satunya yang memenuhi syarat dukungan minimal,” ujar Arif.

Pasangan ini berhasil mengumpulkan 63.395 dukungan dari syarat minimal dukungan sebanyak 62.338 orang. Dukungan sebanyak itu tersebar minimal di 18 kecamatan sesuai Peraturan KPU Nomor 18 Tahun 2019.

“Sebenarnya belum selesai semua (pengecekan dan penghitungan) masih 14 kecamatan, terakhir tanggal 26 Ferbuari. Kalau sudah semua dan memenuhi syarat dukungan minimal dan berikut sebarannya akan dinyatakan diterima.  25,” jelas Arif.

Selanjutnya, KPU akan melakukan verifikasi faktual pada berkas dukungan calon perseorangan yang sudah dinyatakan memenuhi syarat mulai tanggal 27 Februari sampai dengan 25 Maret 2020. Arif menjelaskan, dalam verifikasi faktual pihaknya akan memeriksa hard copy (bukti fisik) semua berkas dukungan sebanyak 63.395 yang diserahkan pasangan Subagya-Abdi.

“Sejauh ini, kita sudah melihat sudah banyak yang kekurangan. Misalnya tidak ada tanda tangannya (dalam surat pernyataan dukungan), tidak menggunakan e-KTP dan lain-lain. Yang tidak memenuhi syarat itu tidak kita masukkan ke jumlah dukungan,” papar Arif.

Dengan demikian, sangat mungkin pasangan Subagya-Abdi ini akan gugur dalam verifikasi faktual ini jika ternyata ratusan ribu berkas dukungan yang mereka serahkan ke KPU banyak yang tidak memenuhi syarat.

Namun jika dinyatakan lolos verifikasi faktual, maka pasangan Subagya-Abdi bisa mendaftarkan diri sebagai cabu-cawabup Mojokerto pada 16 sampai 18 Juni. Tahap pendaftaran ini juga berlaku bagi pasangan calon dari partai politik. (Baca: Mau Maju Calon Independen di Pilkada Mojokerto? Ini Syaratnya).

Sebagai informasi, untuk penyerahan berkas syarat dukungan bakal calon independen sudah ditutup pada Minggu (23/2/2020) pukul 24.00 WIB. Dengan demikian, tiga pasangan calon independen lain otomatis gugur dan tidak bisa mengikuti tahapan berikutnya. Ketiga pasangan tersebut yakni Edi Weliang-Eka Setya Hari Suci,  Daimatul Alfiah-Ismail, dan Supardi-Aslikhatul Mahmudah.

“Nama terakhir itu menyerahkan surat pencabutan mandat (Pendaftaran) pukul 23.00 WIB (Minggu, 23/2/2020). Sementara dua nama lain otomatis dinyatakan gugur karena tidak mememnuhi syarat dukungan minimal,” ungkap Arif.

Pasangan Subagya-Abdi yang dinyatakan memenuhi syarat administasi dukungan minimal, bersama puluhan simpatisannya mendatangi Kantor KPU Kabupaten Mojokerto, Minggu malam jelang penutupan penyerahan berkas. Kepada wartawan, Subagya menyampaikan rasa syukurnya bisa memenuhi syarat sebagai cabup independen.

“Saya dan tim sempat spot jantung, perjuangan dan harapan kami selama ini, berbulan bulan kami lalui akhirnya bisa diterima tepat pada waktunya,” ujar ketua Organisasi Masyarakat (Ormas) Baladika ini.

Subagya juga menjelaskan alasannya mengambil jalur perseorangan untuk bertarung di Pilkada Kabupaten Mojokerto 2020. Pertama, karena sulitnya mendapatkan rekomendasi dari partai politik.

“Kedua, biaya untuk maju lewat parpol jauh lebih besar dibanding independen.  kalau tidak punya finansial yang cukup juga akan berat untuk menggerak mesin partai, pasti butuh anggaran besar,” ungkap Ketua Organisasi Amatir Radio Indonesia (ORARI) Mojokerto Raya. (im)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here