Foto kiri: Screenshot percakapan whatsapp Gilang dengan korban diduga siswa SMAN 1 Puri, Mojokerto. Foto kanan: Gilang (kiri) pose bersama stand up komedian Ernest Prakasa yang diunggah di akun instagram @ernestprakasa.

IM.com – Screenshot percakapan terduga pelaku pelecehan seksual menyimpang, Gilang Eizan, dengan korban, membanjiri media sosial. Salah satu gambar tangkapan layar yang beredar ternyata berisi chattingan mahasiswa Universitas Airlangga Surabaya itu dengan target mangsanya yang disebut seorang siswa di SMAN 1 Puri, Mojokerto.

Dalam screenshot itu, hanya omongan panjang lebar Gilang yang tertangkap layar menyebut siswa SMAN Puri itu dengan panggilan ‘Dek’. Pelaku menyebut status lawan bicaranya dalam obrolan melalui aplikasi Whatsapp (WA) itu sebagai siswa baru di sekolah tersebut.

Entah bagaimana awal mula mereka bertemu hingga berkenalan, namun korban telah memberi identitas nomor pelaku pada aplikasi Whatsapp-nya dengan nama ‘Mas Gilang’.

Km masih kelas XII ‘kan? Sudah ambil SKL? Atau ijazah? Sudah ataupun belum, Mas bisa membuat itu ditahan Dek. Mas sekarang gak menggertak karena Mas merasa dirugikan setelah kesalahan kamu yang begitu banyak, km mundur begitu saja. Mas tau kamu sekolah di SMAN 1 Puri sejak awal karena Mas punya relasi di sana,” tulis Mas Gilang, sebagaimana nama yang tercantum dalam aplikasi obrolan itu.


Perkataan monolog Gilang masih terus berlanjut cukup panjang dalam obrolan. Pada intinya, dia mendesak disertai ancaman kepada target agar menuruti kemauannya.

Mas sudah baik-baik sejak awal ke kamu. Dan km ga menghargai Mas. Setidaknya, km ga menghindar Dek. Dan km bisa penuhi buat bantu aku sebagai upaya km menebus kesalahanmu,” tambah Gilang.

Gambar screenshot perkataan Gilang kepada mangsanya itu diunggah oleh pemilik akun twitter @rdjoko_n. Dalam utas postingannya, dia mengaku sebagai kakak kelas korban di SMAN 1 Puri.

Dari pengakuan @rdjoko_n ini terkuak, adik kelasnya itu ternyata bukan lagi sekadar target mangsa. Melainkan sudah pernah menjadi korban pelecehan oleh pelaku yang memiliki fantasi dan perilaku seksual menyimpang. Pelaku ditengarai memiliki orientasi seks LGBT atau homoseks.

Hal itu dibuktikan dengan foto korban yang seluruh tubuhnya dari ujung kepala hingga kaki dibungkus kain putih (pocong) dengan diikat tali rafia. Foto ini juga diunggah kakak kelas korban.

“Ceritanya adek kelas cowo kena juga sama si #gilang bungkus ini fren, udah di blok sama ade kelas gw,” tulis akun @rdjoko_n diikuti unggahan foto korban yang terbungkus kain putih sembari berbaring.

Postingan @rdjoko_n dibanjiri komentar dari netizen. Ada juga yang mengaku kakak kelas korban. Namun pemilik akun tidak membeberkan identitas korban dalam postingannya maupun utas komentar.

Korban Mengaku Sesak Nafas dan Trauma

Nama Gilang Eizan menghebohkan media sosial dalam dua hari terakhir. Aksi Gilang viral di medsos dengan beragam hastag untuk menandai perbincangan seputar aksi menyimpangnya. Hingga Kamis (30/7/2020) malam pukul 22.30 WIB, kata kunci ‘Gilang’ sudah digunakan lebih dari 202 ribu kali dan menduduki posisi keempat trending topik di Indonesia. Di bawahnya menyusul kata kunci ‘Bungkus’ dengan 119 ribu cuitan.

Sosok lain yang mengaku sebagai korban adalah salah seorang mahasiswa perguruan tinggi negeri di Surabaya berinisial MF (21). Dalam postingannya di twitter, MF membeberkan kronologi lengkap pengalaman pahitnya mulai berkenalan dengan mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unair Surabaya itu hingga pelecehan seksual yang dialaminya.

“Dia sudah follow saya dari tahun lalu, minta di-follow back,” kata MF, Kamis (30/7/2020).

Namun, pelaku baru mengajak ngobrol MF melalui pesan pribadi, Jumat (24/7/2020) pekan lalu Dalam chattingan itu, pelaku meminta nomor WA yang dirasa janggal oleh korban.

Jumat kemaren si anak ini, namanya Gilang, ngechat aku. Dia ngaku dari Unair, angkatan 2015. Terus akhirnya nanyain no WA ke aku, sebelum aku kasih aku tanya dong, buat apa?,” ujar akun @m_fikris dalam cuitannya, Rabu (29/7/2020) pukul 18.22 WIB.

Pelaku pun menjelaskan maksudnya minta nomor WA agar bisa berbincang lebih leluasa karena dia mengaku membutuhkan bantuan korban untuk riset. Korban pun menuruti permintaan pelaku.

“Kasihan saja, dia kan juga mohon-mohon. Kata dia, maba (mahasiswa baru) mana tahu susahnya mahasiswa lama,” ujarnya.

Obrolan keduanya pun berlanjut di aplikasi WhatsApp. Dalam obrolan itu, Gilang meminta MF untuk membungkus diri dengan lakban dan kain jarik.

Korban yang awalnya menolak langsung dibuat luluh oleh Gilang. Lagi-lagi, Gilang berdalih untuk kepentingan penelitiannya disertai rengekan penyakit vertigonya akan kambuh jika tidak dituruti.

“Saya itu memikir kasihannya, terus dia juga cerita-cerita penyakitnya gitu. Dia memaksa dan mengancam akan bunuh diri, penyakitnya kambuh, emosinya meledak karena nggak diturutin,” kata MF,” ungkap MF.

Pemilik akun @m_fikris mengunggah foto percakapannya dengan Gilang dan pengalamannya menjadi korban pelecehan seksual.

MF pun mau menuruti perintah Gilang melalui WhatsApp. Dengan dibantu oleh seorang kawannya, tubuh MF kemudian dililit lakban, hingga mata dan mulutnya tertutup. Badannya lalu dibungkus jarik, rapat-rapat.

Saat proses pembungkusan itu, MF mengaku tubuhnya merasakan sangat tidak nyaman. “Sesak nafas, panas dan gerah,” ucapnya.

Proses pembungkusan tubuh MF itu didokumentasikan oleh temannya. Foto dan videonya kemudian dikirimkan kepada Gilang, dengan dalih laporan penelitian.

Usai kejadian itu, MF merasa trauma. Dia baru menyadari apa yang dilakukannya tadi sesuai perintah pelaku ternyata adalah tindakan pelecehan seksual setelah perilaku Gilang viral di medsos.

“Saya berharap pelaku dihukum, karena korbannya sudah banyak banget. Takutnya nambah korban lagi, dia kan juga ngincerngincer maba gitu,” ujarnya.

Pelaku Diburu Polisi

Gilang kini sedang dicari jajaran Polrestabes Surabaya karena ulahnya memerintahkan para korban yang semuanya pria untuk membungkus diri dengan kain jarik dan lakban menyerupai ‘pocong’ dengan alasan kepentingan penelitian. Bahkan ada yang diminta menggunakan kain putih atau kafan seperti yang dialami siswa SMAN 1 Puri Mojokerto.

“Polisi sudah datang,” kata Wakil Dekan I Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unair, Puji Karyanto saat dikonfirmasi. Pihak Dekanat FIB maupun universitas menyerahkan proses hukum lebih lanjut ke kepolisian.

“Menyerahkan kepada yang berwenang, artinya sikap fakultas tegas, tidak akan melindungi perbuatan yang dinilai bersalah,” kata Kepala Pusat Informasi dan Humas (PIH) Unair, Suko Widodo. (im)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here