Postingan akun twitter @gilangbungkus yang diunggah Senin pagi (3/8/2020) pukul 9.18 WIB.

IM.com – Pelecehaan seksual fetish bungkus jarik yang diduga dilakukan Gilang Aprilian Nugraha Pratama masih sumir. Sosok dan cerita seputar indikasi perilaku menyimpangnya kian menjadi misterius karena mahasiswa Universitas Airlangga (Unair) Surabaya itu menghilang dan para korban pun belum ada yang mau melapor ke polisi.

Hingga kini, Gilang belum dapat dihubungi. Anehnya, muncul akun twitter baru @gilangbungkus dengan profil dan foto asli Gilang.

Sekarang banyak yang nyariin aku! Heloo kemana aja kalian dari dulu? Kenapa baru sekarang sibuk nyariin aku?,” cuit @gilangbungkus dalam unggahan foto profilnya.

Meski baru dibuat, akun yang memakai nama


Bukannya aku gak mau klarifikasi apapun, aku hanya butuh waktu untuk menenangkan pikiranku saat ini, jadi mohon jangan telpon ataupun wa! Akan ada waktu untuk klarifikasi, aku janji,” kata Gilang dalam cuitannya yang diposting Senin pagi (3/8/2020) sekitar pukul 10.05 WIB.

Tak sampai di situ, ia bahkan mengaku bisa saja bunuh diri jika penyakit vertigonya kambuh akibat desakan banyak pihak melalui telepon atau secara langsung. Dalam beberapa percakapan dengan korbannya melalui whatsapp yang screenshotnya beredar di medsos, Gilang memang kerap mengatakan menderita sakit vertigo dan cepat kambuh apabila permintaan ‘bungkus jariknya’ tidak dituruti.

Bukanya gimana”, bukannya sombong! Telpon q blokir itu supaya aku bisa tenangin diri dari semua ini! Apa kalian mau vertigo ku kambuh? Gimana kalo nanti aku bundir?,” imbuhnya dalam cuitan itu.

Dari klaim pihak Unair, kemarin, Gilang sedang berkumpul bersama keluarganya di Kalimantan. (Baca: Korban Gilang ‘Fetish Bungkus Jarik’ Bermunculan, Unair Terima 15 Aduan).

Hari ini, Dekanat Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unair disebutkan telah mengggelar audiensi dengan pihak keluarga Gilang. Namun tidak ada penjelasan lebih rinci ihwal rapat audiensi itu.

“Ini masih rapat klarifikasi. Rapat klarifikasi dengan keluarga Gilang, dengan Ibu dan Kakak Gilang,” kata Wakil Dekan I FIB Unair, Puji Karyanto, saat dikonfirmasi wartawan, Senin (3/8/2020).

Polisi Minta Korban Melapor

Sementara itu, Kepolisian Daerah Jawa Timur (Polda Jatim) turun tangan meminta para korban pelecehan fetish bungkus jarik melapor ke polisi. Pasalnya, sampai sekarang belum ada satu pun dari mereka yang berani menceritakan pengalaman pahitnya dipaksa pelaku membungkus diri dengan kain dengan ikatan tali menyerupai pocong.

Belum adanya laporan atau keterangan dari saksi maupun korban membuat proses penyelidikan sedikit terhambat. Karena itu, kepolisian pun belum bisa memanggil Gilang Aprilian untuk diperiksa.

“Karena prosesnya masih penyelidikan, tentunya masih menunggu hasill dari penyidik nanti,” kata Kepala Bidang Humas Polda Jatim Komisaris Besar Trunoyudo Wisnu Andiko, Senin (3/8/2020).

Truno menerangkan, proses penyelidikan terhadap dugaan kasus pelecehan seksual fetish bungkus jarik ini hanya berdasar laporan yang dibuat sendiri oleh petugas (tipe A). Ia menegaskan, penanganan kasus dugaan pelecehan semacam ini tetap harus berdasarkan delik aduan dari korban atau saksi.

Untuk membuat korban fetish Gilang agar tidak merasa risih melapor, Ditreskrimsus dan Ditreskrimum Polda Jatim bekerjasama membuka jalur layanan aduan khusus. Yakni melalui sms, telepon atau whatsapp di nomor 082143578532. Truno mengatakan pusat layanan pengaduan itu akan menjamin kerahasiaan dan perlindungan terhadap para saksi serta korban.

“Jalur khusus pengaduan ini bisa membuat saksi dan korban terlindungi dalam bentuk program perlindungan awal dari penyidik. Kemudian akan kita koordinasikan dengan komisi perlindungan. jadi kita mengimbau dan mengharapkan kepada para saksi korban untuk segera melapor,” tandasnya.

Sebelumnya, pihak Universitas Airlangga (Unair) Surabaya –tempat Gilang kuliah- mennyatakan sudah ada 15 aduan terkait dugaan pelecehan oleh mahasiswa jurusa Sastra Indonesia itu. Namun tidak ada satu pun dari mereka yang melapor mau membuka identitasnya atau menceritakan pengalamannya.

“Masih sumir karena belum mencantumkan identitasnya secara jelas dan pasti,” ujarnya. Hal ini mengakibatkan polisi tidak bisa menindaklanjuti pengaduan yang masuk ke pihak Unair.

Sebagai informasi, sejumlah orang yang mengaku pernah menjadi korban Gilang lebih nyaman menuuturkan kisah pahitnya di media sosial. Dari cerita-cerita di medsos inilah, perilaku mahasiswa yang kini berada di Kalimantan itu viral.

Siswa SMAN 1 Puri salah satunya yang pernah menjadi sasaran Gilang. Hal itu diungkapkan juga melalui medsos oleh salah seorang yang mengaku kakak kelas siswa tersebut. (Baca: Siswa SMA Puri Diduga Pernah Jadi Korban Pelecehan Seks Bungkus Jarik Gilang).

Namun siswa kelas XII (3) itu belum sempat menjadi korban karena dia menolak permintaan Gilang. Meskipun, pelaku terus memaksa disertai ancaman kepada calon mangsanya itu agar menuruti perintahnya yakni membungkus seluruh tubunya dengan kain jarik atau warna putih (kafan) dengan diikat tali. Kepada calon korbannya, Gilang selalu berdalih ritual bungkius jarik itu untuk penelitian yang sedang dilakukannya.

Dari hasil penelusuran inilahmojokerto.com, ternyata banyak siswa SMAN 1 Puri lain mengalami hal sama dengan siswa kelas XII tadi. Bahkan sudah ada yang menjadi korban.

Sayangnya, tidak ada dari mereka yang mau menceritakan pengalamannya. Malah identitasnya pun minta ditutupi.

Keengganan korban untuk terbuka inilah yang menghambat proses penyelidikan polisi. Selain itu,sangta mungkin polisi menutup kasus ini jika korban membiarkan dugaan pelecehan ini berlalu begitu saja. (im)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here