Penggagas dan penyelenggara wayang kulit virtual 7 hari 7 malam, M Sulthon (tengah) menerima penghargaan dari Senior Manajer MURI Sri Widayati (kiri) dan Wakil Ketua DPR RI Aziz Syamsuddin (kanan), Sabtu (19/9/2020).

IM.com – Pagelaran wayang kulit virtual yang digelar 7 malam di Kecamatan Trawas,  Kabupaten Mojokerto, meraih penghargaan Museum Rekor Indonesia (MURI). Adalah H M Sulthon, pemrakarsa sekaligus penyelenggara acara tersebut yang mendapat kebanggaan.

MURI menilai pagelaran seni wayang kulit secara virtual yang selama sepekan penuh (19–25 Agustus 2020) merupakan kegiatan spektakuler. Rekor pun diberikan berdasar pertimbangan dan kajian berbagai pihak, termasuk Wakil Ketua DPR Aziz Syamsuddin yang menyempatkan diri datang dalam penyerahan penghargaan MURI di Trawas, Sabtu (19/9/2020).

“Pagelaran wayang virtual ini resmi tercatat di MURI sebagai rekor dunia karena wayang adalah budaya tradisional yang sudah diakui oleh UNESCO. Kegiatan ini luar biasa masuk kategori muri, yang mana kami sangat mengapresiasi bahwa kegiatan dilaksanakan di tengah Pandemi Covid-19 sehingga layak dikukuhkan sebagai rekor dunia,” ujar Senior Manajer MURI Sri Widayati kepada wartawan, Sabtu (19/9/2020).

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Ketua DPR RI, Aziz Syamsuddin mengatakan, penghargaan tinggi layak diberikan kepada M Sulthon selaku pemrakarsa dan penyelenggara wayang kulit virtual 7 hari 7 malam. Selain dalam situasi pandemi Covid-19, pagelaran seni tersebut dapat menunjukkan kekayaan budaya Indonesia di mata dunia.

“Sejak RI merdeka 17 Agustus 1945, baru pertama ini ada pagelaran wayang kulit selama 7 hari 7 malam, apalagi digelar secara virtual.  Semoga apresiasi MURI ini juga menjadikan semakin banyak pihak yang meniru Gus Ton untuk peduli seni budaya asli Indonesia,” ungkap Aziz Syamsuddin saat memberi sambutan sebelum penyerahan penghargaan Rekor Dunia MURI.

Sementara M Sulthon dalam sambutannya usai menerima penghargaan MURI merasa bersyukut acara yang digagas dan diselengggarakannya berlangsung lancar. Ia mengaku, tujuan kegiatan seni spektakuler itu bukan lantaran untuk meraih penghargaan semata.

“Saya memang dengan tulus ingin menyelenggarakan acara ini untuk kebaikan dan melestarikan Seni Budaya Asli Indonesia, terutama wayang kulit asli Jawa,” ujar pria yang akrab disapa Gus Ton ini.

Selain itu, Gus Ton ia bersama teman-temannya berinisiatif menggelar acara ini agar menjadi contoh para seniman dan budayawan agar tetap berkreasi di tengah pandemi Covid-19. Menurutnya, kegiatan ini diawali dari Pagelaran Wayang Kulit Virtual Online 7 malam di Gunung Kawi saat perayaan HUT NKRI ke-75 dan peringatan Tahun Baru Islam 1 Muharram/Syuro 1442 H beberapa waktu lalu.

“Lakonnya Wahyu Rizky Lumintu selama 7 malam, harapannya saya pribadi sekeluarga dan masyarakat umumnya supaya mendapat rejeki yang terus menerus,” tuturnya menceritakan lakon pagelaran wayang kulit virtual di rumahnya yang mendapat rekor MURI.

Selain rekor MURI, Gus Thon juga mendapat penghargaan dari Lembaga Prestasi Rekor Indonesia Dunia (LEPRID). (im)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here