Dandim 0815 Mojokerto Letkol Inf Dwi Mawan Sutanto saat meninjau banjir di Dusun Balong Desa Banyulegi Kecamatan Dawarblandong Kabupaten Mojokerto, pertengahan Desember 2020 lalu.

IM.com – Empat kecamatan dikategorikan wilayah paling rawan banjir di Kabupaten Mojokerto. Tingkat kerawanan tinggi lantaran tiga sungai yang melewati empat wilayah tersebut belum dinormalisasi.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mojokerto memetakan tiga kecamatan langganan banjir dan angin puting beliung yakni Jetis, Gedeg, Kemlagi serta Dawarglandong. Setiap musim penghujan, air meluap dari Sungai Watudakon dan anak sungai Brantas dan kali lamong (anak Bengawan Solo) ke pemukiman warga. (Baca: Banjir Rendam Lima Dusun di Utara Sungai Mojokerto).

“Tiga sungai tersebut tidak dinormalisasi. Paling parah di anak sungai bengawan solo yang notabenenya dikelola oleh Balai Besar Wilayah Sungai Solo,” ujar Kepala BPBD Kabupaten Mojokerto, Muhammad Zaini, Rabu (20/1/2021).

Zaini mengungkapkan ramalan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) terkait adanya peningkatan curah hujan. Fenomena itu disebabkan munculnya kejadian alam global La Nina moderat menjadi lemah pada bulan Maret 2021.

“BMKG memprediksi terjadi peningkatan curah hujan sebesar 40%, dan puncaknya adalah bulan Februari,” ujarnya.

Dalam situasi seperti itu, BPBD dengan instansi terkait hanya bisa memberikan peringatan dini kepada masyarakat di empat kecamatan tersebut agar selalu waspada. Sosialisasi juga berupa edukasi tentang tidak membuang sampah sembarangan, dan evakuasi diri dari bencana alam banjir kepada masyarakat di empat kecamatan tersebut.

“Warga dihimbau untuk tetap waspada karena fase yang sedang terjadi adalah transisi darurat,” cetus Zaini. Pihaknya menghimbau kepada masyarakat selalu siap siaga dengan menjaga alam dan memperhatikan kondisi di lingkungan sekitarnya.

“Semua pihak jangan buang sampah sembarangan,jangan menebang pohon seenaknya. Kita jaga alam, alam juga akan menjaga kita,” imbuhnya.

Selain alarm peringatan dini, BPBD Kabupaten Mojokerto juga membuat aplikasi android yang bernama Simona. SIMONA (Sistem Informasi Mojokerto Bencana) merupakan aplikasi yang bertujuan memudahkan masyarakat Mojokerto memantau kondisi hujan setiap desa di seluruh wilayah Kabupaten Mojokerto.

“Simona juga memudahkan penyampaian informasi peringatan dini cuaca ekstrim dari BMKG atau SimonRain App, ke seluruh masyarakat Mojokerto. Memudahkan proses pelaporan jika terjadi bencana hidrometeorologi ataupun bencana lainnya. Cukup di download di Playstore,” jelasnya. (im)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here