Muhammad Anwar, menunjukkan mesin roasting kopi berkapasitas 5 kg dan 15 kg ciptaannya.

IM.com – Pesatnya perkembangan industri dan bisnis kedai kopi melecut kreativitas, Mochammad Anwar, warga Dusun Geneng, Desa Sumberwuluh, Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto. Pria lulusan SMA itu mampu menciptakan mesin roasting kopi berkapasitas 5 kg-15 kg dengan harga sangat terjangkau.

Sebagai penghasil biji kopi terbesar keempat di dunia, tak heran Indonesia punya potensi besar untuk bisnis kopi. Banyak peluang usaha yang muncul dari kopi.

Dari hulu, misalnya, peluang untuk bertanam kopi sudah tak diragukan lagi. Di hilir apalagi, banyak usaha yang muncul, mulai dari menjadi pemasok hingga mendirikan kedai kopi.

Minum kopi saat ini sudah jadi bagian dari gaya hidup masyarakat. Tak heran jika usaha kedai kopi semakin menjamur.


Tengok saja, kafe atau kedai kopi bertebaran di sejumlah sudut kota. Selain menyuguhkan suasana yang unik, menarik dan nyaman, mereka juga punya racikan kopi andalan. Pemasok kopi sangrai (roaster) juga menjadi peluang menjanjikan dengan menjamurnya kedai kopi ini. Namun, ada satu peluang yang tampaknya belum dilirik banyak orang, yakni membuat mesin roasting atau sangrai kopi.

Di banyak kedai kopi, Anda mungkin akan menemukan mesin yang berfungsi menggoreng kopi dari kopi mentah menjadi siap untuk digiling. Ternyata sudah ada beberapa pemain lokal yang memproduksi mesin sangrai tersebut.

Peluang bisnis industri ini dimanfaatkan ini oleh Mochammad Anwar, asal pria asal Dusun Geneng, Desa Sumberwuluh, Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto. Mulanya, ia merintis bengkel bubut bernama Roykan Teknik dengan membuat berbagai mesin rosting, salah satunya mesin roasting kopi.

Pria yang hanya tamatan SMA itu menargetkan pasar menengah ke bawah. Produk roasting pria berusia 32 tahun ini dipasarkan dengan harga yang terjangkau. Tentu, kualitasnya pun cukup teruji.

Anwar memang ingin mengisi kekosongan pada pasar mesin roasting kopi. Ia mengatakan, kebanyakan produsen roasting kopi menargetkan pasar kelas menengah ke atas, terutama untuk produk impor. Harga yang ditawarkan pun gila-gilaan, bisa mencapai miliaran rupiah untuk kapasitas puluhan kilogram.

“Produsen kopi rata-rata keberatan beli mesin rosting karena harganya tidak terjangkau. Sehingga saya bikin mesin rosting kopi sesuai dengan permintaan dan harga yang cukup terjangkau. Pasar saya memang kelas menengah ke bawah,” ungkapnya, Jum’at (30/9/2022).

Anwar mulai memproduksi mesin roasting kopi sejak 2016. Hingga sekarang, ratusan mesin sudah berhasil ia jual dengan beragam kualiatas. Harga pun menyesuaikan dengan kualiatas. Saat ini ia memproduksi mesin dengan kapasitas 5 kilogram (kg) dan 15 kg.

Mesin  berkapasitas 5 kg dengan kualitas dengan kualitas biasa dibanderol Rp 5 jutaan dan harga Rp 10 juta untuk kualitas lengkap. Sedangkan yang paling mahal dibanderol Rp 16 juta per unit berkapsitas 15 kg.

“Harga bisa kita tekan, tergantung yang mesan mintanya bagaimana,” klaim dia.

Menurut Anwar, beberapa tahun belakangan, masyarakat terbuka terhadap produk lokal, termasuk untuk mesin sangrai atau roster. Maklum, dari segi kualitas, ia bilang, banyak roaster yang sudah bisa bersaing dengan buatan luar negeri.

Berdasarkan pengalaman Anwar, Industri ini terbuka lebar untuk dikembangkan dan dipasarkan ke para pelaku, UMKM, petani, dan peternakan. Saban bulan, William bisa menjual puluhan unit mesin rosting. Permintaan selalu bertumbuh. Kini ia memiliki 8 tenaga kerja untuk menyanggupi pesanan.

Dari bisnis ini, bapak 2 anak  ini bisa meraup omzet hingga Rp 200 juta per bulan. Adapun laba bersih dari bisnis ini sebesar 10 sampai 20 persen.

“Kalau sepi setiap bulan omzetnya sampai Rp 70 jutaan,” ujarnya.

Sebenarnya Anwar secara tak sengaja terjun dalam bisnis mesin roaster. Pengalamannya bekerja di bengkel bubut produsen mesin roasting membuatnya tertarik membuka bengkel sendiri.

Sebelum tahun 2016, ia berdiskusi dengan temannya yang berprofesi barista. Dalam disukusi itu, temannya mengutarakan terkait keluhan para podusen kopi yang kesulitan mendapat mesin roasting kopi dengan harga terjangkau. Lantas, Anwar menangkap peluang itu dan membuat sendiri mesin roasting.

“Jadi waktu itu ya saya riset, mesin rosting itu seperti apa,” tukasnya.

Ia tidak punya latarbelakang pendidikan teknik mesin. Namun, pengalaman bekerja di bengkel bubut selama  5 tahun membuatnya optimis jika mampu merakit beberapa mesin roasting.

Beruntungnya, pria yang hanya lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) itu juga pernah bekerja sebagai kasir toko. Sehingga ia sedikit mengerti tentang manajemen bisnis.

“Saya hanya lulusan SMA. Tapi saya kalau ke ahlian mesin dari sana (bengkel), kalau ke ahlian manajemen bisnis dari kerja di toko,” Anwar.

Akhirnya, bengkel bubut yang ia beri nama Roykan Teknik itu mulai berkembang dan memproduksi mesin roasting pada tahun 2016.

Anwar menjelaskan, untuk terjun dalam bisnis ini memang harus punya sumber daya yang memahami teknik pembuatan mesin. Ia mengingatkan, tak mudah menemukan tenaga teknisi seperti ini.

“Kebanyakan roaster dijual dengan harga mahal karena memang tak sembarangan teknisi yang mampu mengerjakan,” terangnya.

Untuk pemasaran, Anwar mengenalkan produknya melalui market place dan memnafaagkan jaring yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

“Pemasaran sampai sekarang masih memakai marketplace dan memanfaatkan jaringan di setiap jaring yang dulu jadi pelanggan, hampir seluruh provinsi besar ada,” pungkasnya. (cw)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here