Drs. Akhmad Setiawan, Kepala Sekolah SMAN 1 Kutorejo yang baru saja purnatugas.

inilahmojokerto.com – Adagium mengatakan, gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang. Lalu, apa yang ditinggalkan seorang kepala sekolah ketika memasuki masa purnatugas?

Di SMAN 1 Kutorejo, jawabannya terasa nyata dalam denyut aktivitas sekolah, semangat guru, dan mimpi para siswa yang terus tumbuh.

Adalah Akhmad Setiawan, atau akrab disapa Pak Wawan, yang per 1 Februari 2026 resmi mengakhiri masa baktinya sebagai Kepala SMAN 1 Kutorejo.

Meski tongkat estafet kepemimpinan telah diserahkan kepada pelaksana tugas, Johan Bahrudin, S.Kom., M.T, Kepala SMAN 1 Gondang, sosok Pak Wawan masih kuat terasa di lingkungan sekolah yang dipimpinnya sejak 2021 itu.

Pak Wawan sendiri bukan figur asing. Sebelum bertugas di Kutorejo, ia juga berasal dari SMAN 1 Gondang.

Lima tahun lalu, SMAN 1 Kutorejo kerap dipandang sebagai “sekolah pinggiran”, seiring letak geografisnya yang memang berada di luar pusat kota.

Namun persepsi itu perlahan berubah melalui pendekatan kepemimpinan yang menekankan kerja kolektif dan penguatan potensi.

Di bawah kepemimpinannya, para guru didorong untuk menggugah semangat belajar siswa, tidak hanya di bidang akademik, tetapi juga kegiatan ekstrakurikuler.

Hasilnya pun nyata. Dari 24 SMA Negeri di Kabupaten Mojokerto, SMAN 1 Kutorejo berhasil menempati posisi runner up sekolah terbaik sekaligus favorit, sebuah capaian yang sebelumnya sulit dibayangkan.

Prestasi lain tampak dari  jumlah siswa yang diterima di perguruan tinggi negeri dari tahun ke tahun meningkat. Juga terjadi peningkatan siswa yang melanjutkan kuliah di perguruan tinggi swasta, hampir 90 persen.

Salah satu program yang dinilai berpengaruh adalah Tour to Campus, di mana siswa kelas XII diajak mengunjungi langsung kampus tujuan.

Pada November 2025, ITS dan Politeknik Kesehatan menjadi destinasi, memberi kesempatan siswa mengenal dunia kampus secara riil di Surabaya.

“Dengan melihat langsung, siswa tidak lagi memilih kuliah seperti membeli kucing dalam karung,” guru pembina kesiswaan, Fajar Bagus, menjelaskan.

Hal serupa juga tampak dalam kegiatan Campus Expo, yang membuka ruang dialog bebas antara siswa dan perwakilan kampus.

Menurut Humas, Indah Sari Wulan, berbagai program tersebut merupakan bagian dari strategi Pak Wawan dalam membangun kesadaran masa depan siswa, di samping penguatan karakter melalui spiritualitas dan budaya.

Tak hanya program pendidikan, sentuhan Pak Wawan juga terlihat pada aspek fisik sekolah.

Zainul Arifin, petugas keamanan sekolah, menyebut sejumlah pembangunan dilakukan selama masa kepemimpinan tersebut, mulai dari lapangan, taman, peningkatan gedung, hingga pagar sekolah bercorak Majapahit.

Sementara itu, Ferry, pembina ekstrakurikuler fotografi dan videografi, mengenang Pak Wawan sebagai pemimpin yang akomodatif terhadap ide pengembangan siswa.

“Tanpa prosedur berbelit, beliau langsung menyetujui program pelatihan. Sekarang kegiatan itu berkembang dan bermanfaat,” ujarnya.

Pasca purna tugas Pak Wawan, pihak sekolah memastikan seluruh program berjalan berkelanjutan. “Tahun ini fokusnya melanjutkan yang sudah dirintis,” kata Indah.

Hingga berita ini diturunkan, penetapan kepala sekolah definitif masih menunggu keputusan lebih lanjut.

Jejak kepemimpinan Pak Wawan pun tertinggal bukan sekadar pada bangunan atau angka prestasi, melainkan pada perubahan cara pandang: bahwa sekolah di pinggiran pun mampu bermimpi besar, dan mewujudkannya. (kim)

207

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini