
inilahmojokerto.com – Salam sayangku padamu, cucu-cucuku, cahaya mataku yang berkilauan. Kemarilah, ayo kita istirahat di bawah pohon ini dan berlindung dari sengatan matahari.
Jika kita duduk di bawah dahan-dahan pohon ini, kita akan terlindungi dari terik matahari dan hujan. Tapi jika kita tetap menjaga jarak, kita tidak akan pernah mendapatkan kenyamanan.
Malahan kita akan mengeluh, “Oh, matahari begitu panasnya!” atau “Hujan telah membasahiku! Aku tidak tahan lagi! Pohon tak berguna ini tidak memberiku perlindungan apa pun!”
Mengapa menyalahkan pohon itu, ini salah kita karena tidak berlindung di bawah naungannya yang nyaman?
Manusia juga menyalahkan Tuhan seperti ini. Dia tidak mencari tempat berlindung di tempat di mana Tuhan berada. Dia belum mencari tempat berlindung dalam tindakan-tindakan Tuhan, sifat-sifat-Nya, atau keindahan-Nya.
Manusia justru berdiri bebas melawan penderitaan, kepanasan dan kedinginan, badai dan demam dunia. Dia berdiri dalam bayangan kegelapan dan menyalahkan Tuhan dan sang kebenaran karena tidak melindunginya.
“Apakah Tuhan itu?” tanyanya.
“Di mana Dia sekarang, ketika aku menghadapi banyak bahaya dan penderitaan dari berbagai macam kesulitan? Badai dan terik matahari menyiksaku,” tangisnya.
“Mengapa Tuhan tidak menolongku?”
Cucu-cucuku, adalah kebodohan jika kita menyalahkan Tuhan. Itulah yang dilakukan dunia. Inilah kesalahan diri kita jika kita berdiri di tengah-tengah ilusi, neraka, dan kegelapan.
Hanya jika kita berdiri di bawah naungan kebenaran Tuhan dan bertindak dengan sifat-sifat dan kearifan-Nya, kita akan terlindungi. Kalian harus merenungkannya.
Kasihku padamu, duhai kilau cahaya mataku yang sangat mulia. Berdirilah dalam naungan-Nya dan terimalah perlindungan-Nya. Amin.
Sumber:
Buku Kebun Ma’rifat Vol.1
Oleh M. Rahim Bawa Muhaiyaddeen






































