
inilahmojokerto.com – Cucu-cucuku, mari keluar bersamaku, dan lihatlah apa yang tumbuh di kebun kita!
Di negara-negara Barat, banyak orang mempunyai cukup lahan untuk mengembangkan apa yang mereka inginkan. Di Amerika dan Eropa terdapat petani-petani yang mempunyai lima ratus atau bahkan seribu hektar tanah. Banyak panenan bermanfaat yang bisa di dapat di tanah pertanian itu, dan semuanya itu dapat memberi makan banyak orang.
Tetapi tidak banyak lahan yang tersedia di negera-negara Timur. Banyak orang begitu miskin sehingga mereka tidak mempunyai rumah dan tanah, serta hidup mereka sangat sulit. Mereka biasanya menanam pohon pisang, sayur-sayuran, atau lainnya yang dapat membantu mereka untuk bertahan hidup pada sepetak tanah yang sempit.
Namun, ada sedikit orang kaya yang memiliki rumah besar dan tanah lapang, dengan halaman yang indah dan dipenuhi bunga yang berwarna-warni. Mereka membuang begitu banyak uang untuk menanam sesuatu semata-mata tanpa memperhitungkan kegunaannya.
Mungkin berguna menanam bunga seandainya engkau ingin mendapat wewangian untuk membuat parfum, dan tentu saja berguna juga menanam rumput jika engkau ingin memberi makan sapimu. Tanah berumput juga bisa menjadi tempat bermain bagi anak-anak.
Namun betapa banyak kearifan dan kesadaran yang akan diperoleh anak-anak dengan mengamati sebatang pohon pisang yang ditanam dan dipupuk, dan bagaimana daun-daunnya tumbuh dari batangnya, yang akhirnya memberi buah.
Cucu-cucuku, ada banyak pelajaran yang dipetik dari berkebun. Ada kebajikan yang jelas yang bisa kita ambil dalam setiap perbuatan kita. Dari kerja kita sendiri kita dapat mempelajari keterbatasan maupun baik dan buruknya masing-masing hal. Tetapi orang-orang yang bergantung kepada pembantu, tukang masak, dan tukang kebun tidak menyadarinya, karena mereka tidak melakukan pekerjaannya itu dan mereka tidak pernah mengambil hikmah apa pun dari pekerjaan tersebut.
Mereka tidak mengetahui rahasia-rahasia kehidupan yang dapat dipelajari dari kerja keras, kemiskinan, kehilangan, dan kesulitan. Jadi, bagaimana mereka dapat memperoleh kearifan dan mengoreksi diri mereka sendiri ketika mereka hanya tertarik pada permainan dan hiasan?
Cucu-cucuku, ketika engkau menanam semak-semak hiasan tersebut di dekat rumah, semak-semak itu dapat menyebabkan banyak persoalan. Di negara Timur, terdapat seekor kelabang berbulu dan beracun, yang disebut maskutti yang hidup di pohon dan semak-semak.
Selama musim tertentu, mereka sangat banyak. Angin meniup mereka dan menyebarkan mereka ke segala tempat, bahkan di dinding-dinding rumah. Engkau harus berhati-hati agar tidak menyentuh mereka, ada salah satu di antara maskutti yang membahayakan, kulitmu akan bengkak dan gatal serta terasa panas hingga kulitmu akan melepuh yang membuatmu menangis karena kesakitan.
Semak hiasan juga mengandung serangga yang sangat beracun yang akan menyebabkanmu dibawa ke rumah sakit jika serangga itu menggigitmu. Semakin banyak kesulitan yang disebabkan orang menanam semak-semak hias dan pepohonan di dekat rumah, hanya karena pikiran mereka untuk mencari kepuasan atas keindahan yang dilihatnya.
Tetapi lihatlah pohon pisang itu. Orang-orang mungkin tidak berpikir bahwa pohon pisang itu indah, tetapi kita mengaguminya karena pohon pisang itu lebih berguna daripada semak atau rumput. Kita dapat memakan pisang ketika kita lapar. Kita pun dapat belajar banyak hal dari perkembangan pohon pisang.
Lihatlah, bagaimana cabang-cabangnya saling melengkapi? Ketika pohon pisang mencapai ketinggian tertentu dan dua puluh lima atau tiga puluh cabang tumbuh, sekuntum bunganya akan muncul dari batang.
Pada saat yang sama batang akan terpecah dan pisangnya pun akan muncul. Lalu orang-orang, binatang, dan burung-burung datang menikmatinya. Bahkan bonggol pisang dan bunga [jantung]nya pun dapat dimakan. Apakah engkau mengetahuinya? Tetapi sebelum pohon pisang dewasa, kegunaannya belum tampak.
Cucu-cucuku, seperti halnya pohon pisang, setiap cabang pada dunia membungkus erat kebenaran. Kebenaran harus berkembang sampai ia membuka batang, muncul, dan menunjukkan kegunaannya pada kita.
Sebagaimana batang pisang yang terbelah, yang membiarkan buah-buahnya untuk tampak, kita juga harus membelah kegelapan, kebodohan, kelambanan, dan ilusi. Kita harus membelah pikiran, hasrat, dan kecintaan kita.
Kita harus bekerja untuk menemukan suatu cara untuk menjadikan kebenaran itu tampak. Ketika akhirnya kebenaran itu menampakkan dirinya, buah kebajikan kita juga akan tampak, dan kebaikan tersebut dapat dibagi kepada sesama.
Kasihku padamu, cucu-cucuku. Apakah engkau memahami hal ini? Kita sudah meninggalkan kegelapan kekecewaan dan penderitaan, dan menjadikannya berguna. Jika kebenaran muncul, semua akan diuntungkan dari kebaikannya. Kita harus memikirkan hal ini. Amin.
Sumber:
Buku Kebun Ma’rifat Vol. 4
Oleh M. Rahim Bawa Muhaiyaddeen







































