
inilahmojokerto.com – Siapa yang layak disebut seniman Surabaya? Pertanyaan itu mengemuka di tengah penyelenggaraan ArtSubs yang memasuki tahun ketiga. Di balik karya-karya yang dipamerkan, proses kuratorial ternyata menyimpan persoalan yang tidak sederhana: antara memilih seniman mapan, memberi ruang bagi talenta muda, hingga mempertimbangkan kondisi pasar seni rupa.
Kurator ArtSubs, Asmujo J. Irianto, mengungkapkan bahwa pemilihan seniman berlangsung melalui proses yang penuh pertimbangan. Kurator tidak hanya berhadapan dengan kualitas karya, tetapi juga harus membaca perkembangan seniman, karakter pasar, serta kebutuhan menghadirkan representasi yang beragam.
Situasi tersebut menjadi semakin kompleks karena pasar seni rupa di Surabaya dinilai belum berkembang secara optimal. Karena itu, ArtSubs tidak ingin membatasi pilihan hanya berdasarkan nama besar atau pertimbangan komersial.
“Kurator memang subjektif, tetapi aspek objektivitas tetap harus dikedepankan,” menjadi prinsip yang mendasari proses pemilihan tersebut.
Asmujo bahkan menggambarkan dilema yang bisa terjadi dalam proses kuratorial. Ada seniman yang secara pribadi disukai, tetapi karya yang ditawarkan belum tentu masuk dalam pertimbangan. Sebaliknya, bisa saja terdapat seniman yang secara personal tidak menjadi pilihan, tetapi memiliki karya yang dinilai kuat dan relevan untuk pameran.
Perdebatan lain muncul dari pemaknaan nama ArtSubs. Sebagian publik memahami “Subs” sebagai Surabaya. Konsekuensinya, muncul pertanyaan mengapa pameran tersebut tidak lebih banyak menghadirkan seniman yang tinggal atau berasal dari Surabaya.
Asmujo menilai pemahaman tersebut tidak serta-merta dapat dijadikan dasar kuratorial.
ArtSubs, menurut dia, ditempatkan sebagai pameran dengan cakupan yang lebih luas daripada sekadar representasi geografis sebuah kota. Bahkan, bukan tidak mungkin format serupa nantinya hadir di kota lain.
Jika pun “Subs” dimaknai sebagai Surabaya, menurut Asmujo, hal itu tidak otomatis berarti mayoritas seniman yang dipilih harus berasal dari Surabaya. ArtSubs justru dirancang sebagai ruang perjumpaan berbagai latar belakang seniman.
Dengan perspektif tersebut, ukuran geografis bukan satu-satunya dasar dalam menentukan siapa yang tampil. Kualitas dan relevansi karya menjadi bagian penting dari keputusan kuratorial.
Nirwan Dewanto menambahkan bahwa persoalan tentang siapa yang disebut sebagai seniman Surabaya juga tidak sesederhana melihat nama-nama yang selama ini telah dikenal publik.
Ia menyebut sejumlah seniman muda Surabaya yang belum memiliki popularitas besar, tetapi mendapat ruang dalam ArtSubs.
Nana Yap dan Gabfriel Eva menjadi contoh yang disebut Nirwan. Keduanya menunjukkan bahwa ekosistem seni Surabaya tidak hanya terdiri dari nama-nama yang sudah mapan.
Nirwan menggunakan istilah “Pulau Balai Pemuda” untuk menggambarkan bagaimana ekosistem seni di Surabaya memiliki kantong-kantong yang beragam. Menurutnya, seniman yang tumbuh dari ruang-ruang di luar pusat perhatian tetap merupakan bagian dari perkembangan seni Surabaya.
Nama lain yang disebut adalah Benny Wicaksono. Bahkan muncul pertanyaan yang lebih luas: ketika seorang seniman berasal dari Sidoarjo, apakah ia tidak bisa ditempatkan dalam ekosistem seni Surabaya?
Pertanyaan itu memperlihatkan bahwa batas geografis dalam dunia seni tidak selalu sesederhana batas administratif wilayah.
Memasuki tahun ketiga, ArtSubs tidak hanya berbicara tentang siapa yang dipamerkan. Nirwan mengatakan penyelenggaraan ini dirancang sebagai sebuah proyek eksperimental yang memiliki orientasi jangka panjang.
Di dalamnya terdapat pertemuan tiga karakter dengan latar belakang berbeda: Pak Rambat, Asmujo J. Irianto, dan Nirwan Dewanto.
Pak Rambat membawa pengalaman sebagai art dealer yang merintis perjalanan dari tingkat akar rumput hingga mendirikan galeri dan menginisiasi pameran berskala besar. Sementara Asmujo dan Nirwan membawa perspektif kuratorial dan pemikiran seni.
Pertemuan ketiganya melahirkan proses tarik-menarik gagasan dalam menentukan bentuk ArtSubs. Dari proses tersebut, pameran kemudian mencoba menggabungkan berbagai model penyelenggaraan seni, mulai dari art fair, artist fair, biennale hingga format kunsthalle atau ruang pamer yang berfungsi seperti museum tanpa koleksi permanen.
Format tersebut membuat ArtSubs tidak berhenti pada pola pameran seni rupa yang konvensional.
Eksperimentasi ArtSubs juga terlihat dari keberanian memasukkan unsur lintas disiplin ke dalam ruang pamer. Arsitek dilibatkan untuk memperkuat pengalaman ruang, sehingga karya seni tidak hanya dipandang sebagai objek yang berdiri sendiri.
Pendekatan tersebut menjadi penting karena pameran seni pada akhirnya bukan hanya persoalan karya, tetapi juga bagaimana publik berinteraksi dengan karya.
Tantangannya tidak ringan. Surabaya masih menghadapi keterbatasan infrastruktur pendukung ekosistem seni, termasuk minimnya tenaga art handler profesional.
Perbedaan karakter budaya dan ekosistem seni Surabaya dengan kota-kota seperti Yogyakarta, Bandung maupun Bali juga menuntut kurator untuk menggunakan pendekatan yang lebih adaptif.
Karena itu, tata letak pameran menjadi salah satu perhatian penting. Karya tidak hanya dipikirkan untuk dinikmati oleh kalangan yang telah akrab dengan seni rupa, tetapi juga oleh masyarakat dari berbagai latar belakang.
ArtSubs berupaya menjaga keseimbangan antara gagasan dan tontonan. Wacana seni dibangun melalui teks kuratorial dan wall text, tetapi tidak dibuat sedemikian berat hingga menjauhkan publik dari pengalaman visual.
Perubahan itu juga terlihat dalam perjalanan ArtSubs. Jika edisi pertama tampil sangat eksperimental, penyelenggaraan tahun ketiga diarahkan menjadi lebih komunikatif dan ramah bagi publik.
Di titik inilah ArtSubs mencoba memperluas fungsi pameran seni. Ia bukan semata tempat seniman memajang karya, tetapi juga ruang pertemuan antara gagasan, pasar, seniman, kurator, arsitek dan masyarakat.
ArtSubs pun perlahan diposisikan bukan sekadar sebagai peristiwa seni di Surabaya. Orientasinya diarahkan menjadi ruang perjumpaan antarkota, bahkan menuju skala nasional.
Bagi penyelenggara, keberlanjutan menjadi bagian penting dari eksperimen tersebut. Setiap edisi menjadi ruang evaluasi untuk menentukan bagaimana ArtSubs dapat terus berkembang, sekaligus menjalankan fungsi edukasi publik melalui seni.
Pada akhirnya, perdebatan tentang siapa yang layak disebut “seniman Surabaya” justru membuka persoalan yang lebih besar: bagaimana sebuah kota membangun ekosistem seni yang tidak hanya bertumpu pada nama-nama besar, tetapi juga memberi kesempatan kepada generasi dan ruang-ruang baru untuk muncul.
Dan di situlah ArtSubs menemukan salah satu relevansinya—bukan hanya memamerkan karya, tetapi ikut mempertanyakan bagaimana seni sebuah kota didefinisikan, diperluas, dan diwariskan.










































