Pembukaan pameran seni rupa kontemporer ARTSUBS 2026 di Balai Pemuda Surabaya, Sabtu (19/9/2026), ditandai dengan pengguntingan pita oleh jajaran kurator, penyelenggara, Pemkot Surabaya dan board advisory ARTSUBS.

inilahmojokerto.com – Sebanyak 500 karya dari 113 seniman memenuhi ruang-ruang Balai Pemuda Surabaya dalam pameran seni rupa kontemporer ARTSUBS 2026. Digelar selama tujuh pekan, pameran ini tidak hanya menawarkan pengalaman menikmati karya seni, tetapi juga membawa gagasan tentang kebutuhan Surabaya terhadap ruang kebudayaan yang lebih besar.

Pameran yang melibatkan tujuh peserta kolektif itu resmi dibuka pada Sabtu (19/9/2026) sore dan berlangsung hingga 8 November 2026. Beragam karya ditampilkan, mulai dari lukisan, instalasi, karya interaktif hingga karya yang mempertemukan seni dengan gagasan arsitektur.

Besarnya skala ARTSUBS menjadi bagian dari upaya menjawab tantangan sebuah kota besar yang memiliki dinamika ekonomi, sosial dan budaya yang terus berkembang.

Kurator ARTSUBS, Nirwan Dewanto, mengatakan sekitar 500 karya yang ditampilkan bukan sekadar angka untuk menunjukkan besarnya sebuah pameran.

Sebanyak 500 karya dari 113 seniman hadir dalam ARTSUBS 2026 di Balai Pemuda Surabaya. Berlangsung selama tujuh pekan

Menurut dia, jumlah tersebut mencerminkan kebutuhan Surabaya terhadap ruang kebudayaan yang mampu mempertemukan seni dengan masyarakat serta berbagai bidang kehidupan.

“Surabaya merupakan kota dengan kekuatan ekonomi terbesar kedua di Indonesia. Di dalamnya terdapat banyak potensi ekonomi sekaligus potensi budaya yang masih perlu terus dikembangkan,” kata Nirwan dalam pembukaan ARTSUBS di halaman Balai Pemuda, Sabtu (19/9-2026).

Nirwan yang lahir di kawasan Gubeng, Surabaya, menilai perkembangan kota yang semakin cepat perlu diimbangi dengan keberadaan ruang publik untuk kebudayaan.

Derasnya arus budaya massa, perkembangan teknologi informasi dan perubahan kehidupan masyarakat membuat ruang kebudayaan menjadi semakin penting.

Menurut dia, masyarakat membutuhkan tempat untuk berhenti sejenak dari berbagai kesibukan, menikmati karya seni, sekaligus melakukan refleksi terhadap kehidupan.

“Masyarakat yang beradab membutuhkan ruang semacam itu,” ujarnya.

Dalam pandangan Nirwan, seni tidak harus ditempatkan sebagai sesuatu yang rumit dan hanya bisa dinikmati kalangan tertentu. Seni kontemporer juga dapat menjadi bentuk hiburan yang memberikan pengalaman emosional sekaligus merangsang daya pikir.

Karena itu, ARTSUBS tidak hanya menampilkan karya eksperimental.

Sebagian karya memang mengeksplorasi bentuk dan medium secara bebas, tetapi ada pula karya yang secara visual masih dekat dengan pemahaman masyarakat mengenai seni. Keragaman tersebut menjadi bagian dari pengalaman yang ditawarkan kepada pengunjung.

Publik dapat melihat beragam cara seniman menerjemahkan dunia melalui karya mereka.

ARTSUBS juga memperluas batas pengertian pameran seni rupa. Karya yang ditampilkan tidak hanya berupa lukisan atau karya dua dimensi.

Sejumlah seniman menghadirkan instalasi dan karya interaktif. Bahkan, terdapat arsitek yang menyampaikan gagasan melalui karya instalasi.

Dengan pendekatan tersebut, ARTSUBS berusaha membangun perjumpaan yang lebih luas antara seni rupa dan bidang kebudayaan lainnya.

“Yang dibangun bukan hanya jejaring seni rupa, melainkan jejaring kebudayaan yang lebih luas,” kata Nirwan.

Gagasan mengenai kebutuhan ruang kebudayaan juga terlihat dari kehadiran Kantor Bersama Urusan Seni Rupa (KBUSR) dalam ARTSUBS.

Kelompok seniman tersebut menghadirkan konsep museum alternatif sebagai ruang bersama untuk mengembangkan praktik seni, mengarsipkan karya dan gagasan, serta memperluas hubungan antara seniman dan publik.

Kehadiran KBUSR menunjukkan bahwa museum tidak selalu harus dipahami sebagai institusi formal. Ruang untuk menyimpan, merawat, memamerkan dan memperbincangkan seni juga dapat tumbuh dari inisiatif komunitas.

Konsep tersebut sekaligus memperlihatkan salah satu persoalan yang menjadi perhatian ARTSUBS: bagaimana Surabaya dapat memiliki lebih banyak ruang yang memungkinkan masyarakat mengalami kebudayaan secara langsung.

Kurator ARTSUBS lainnya, Asmujo Jono Irianto, mengatakan persoalan ruang kebudayaan menjadi hal yang perlu dipikirkan bersama.

Menurut Asmujo, kota besar tidak hanya membutuhkan bangunan untuk aktivitas ekonomi dan pemerintahan. Ruang yang tersedia juga dapat dimanfaatkan sebagai museum maupun pusat kegiatan kebudayaan.

Surabaya memiliki perguruan tinggi dan lembaga pendidikan seni seperti STKW dan Unesa. Namun, keberadaan lembaga pendidikan tersebut, menurut Asmujo, perlu didukung ruang kebudayaan yang lebih memadai.

Tujuannya agar aktivitas seni tidak hanya hidup di ruang akademik, tetapi juga memiliki ruang perjumpaan dengan masyarakat luas.

“Ekosistem seni itu membutuhkan rumah kebudayaan yang lebih memadai,” ujarnya.

Direktur ARTSUBS, Rambat, menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Kota Surabaya atas dukungannya terhadap penyelenggaraan pameran, terutama dalam pemanfaatan Balai Pemuda sebagai lokasi pameran.

Apresiasi juga disampaikan kepada para seniman dan seluruh pihak yang terlibat dalam ARTSUBS 2026.

Sementara itu, Staf Ahli Bidang Kemasyarakatan dan SDM Wali Kota Surabaya, Sukma Kurniawati, mengapresiasi penyelenggaraan ARTSUBS.

Ia berharap masyarakat Surabaya dapat datang, menikmati dan menghayati karya-karya yang ditampilkan.

Dengan jumlah karya yang mencapai sekitar 500, Sukma menyebut pengunjung membutuhkan waktu lebih dari satu hari untuk melihat seluruh sajian pameran.

“Tidak cukup sehari untuk menyaksikan semuanya. Mari beramai-ramai menikmatinya, semoga tahun berikutnya lebih bagus lagi,” ujarnya.

Pembukaan ARTSUBS ditandai dengan pengguntingan pita bersama oleh Asmujo Jono Irianto, Nirwan Dewanto, Rambat, Sukma Kurniawati, Aris Utama selaku board advisory ARTSUBS, dan selebritas Olga Lydia.

Selama 19 September hingga 8 November 2026, Balai Pemuda Surabaya tidak hanya menjadi tempat memajang ratusan karya. Ruang tersebut juga menjadi titik pertemuan seniman, masyarakat dan gagasan tentang masa depan kebudayaan di sebuah kota besar.

15

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini