Harga bawang merah turun dampak musim penghujan

IM.com – Cuaca Buruk dua minggu terakhir membuat hasil panen bawang merah di Kabupaten Nganjuk dan Mojokerto anjlok. Kondisi ini membuat puluhan warga yang berprofesi menjadi tengkulak asal Desa Tambakagung, Kecamatan Puri menderita kerugian. Diperparah harga jual bawang merah di pasar juga murah.

Dusun Tambaksari, Desa Tambakagung terkenal sebagai sentra tengkulak bawang merah. Puluhan warganya sejak belasan tahun yang lalu menjelajahi sejumlah daerah penghasil bawang merah di Jawa Timur. Setelah menebas bawang dari petani, di kampung ini para tengkulak hanya memisahkan buah dari daunnya untuk dijual kembali ke pasar dan para pengecer.

Namun, sejak dua minggu yang lalu pedasnya keuntungan dari bawang merah tak lagi dirasakan para tengkulak. Mereka mengaku rugi akibat turunnya hasil panen di lahan petani.

Seperti yang dirasakan Mudaliyah (36), salah seorang tengkulak. Sejak dua minggu yang lalu dia memilih berburu bawang merah ke Kabupaten Nganjuk. Pasalnya, musim panen bawang merah di Kabupaten Malang telah usai. “Hasil panen dari Nganjuk banyak yang rusak karena hujan. Bawang menjadi busuk karena terkena air hujan, otomatis hasil tebasan turun,” kata ibu dua anak ini saat ditemui di rumahnya, Senin (10/10.

Sebagai tengkulak, Mudaliyah mengaku membeli bawang merah petani dengan sistem borongan. Sekali ambil, istri Fatkhurrohim (40) ini biasanya membawa pulang satu bak penuh mobil L 300 dengan bobot kotor 1,8 ton. Setelah dibersihkan dari daunnya, dalam kondisi normal bawang merah yang dia dapatkan bisa mencapai 1,5 ton.

Namun, sejak cuaca buruk menerjang hampir seluruh wilayah Jawa Timur, bawang merah yang dia dapatkan turun hingga 6 kwintal. Kondisi ini diperparah dengan anjloknya harga bawang merah di pasar yang hanya Rp 17.000 per Kg.
“Sekali borong biasanya keluar duit Rp 30 juta. Karena banyak yang busuk, saya hanya dapat 9 kwintal. Harga jual hanya Rp 17 ribu, jadi kerugian saya sampai Rp 15 juta,” terangnya.

Kondisi lebih parah dialami Supri (35), tengkulak bawang merah yang biasa memborong ke Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto. Menurut dia, angka susut bisa mencapai 50% dari bawang merah yang dia ambil dari petani.
“Bawang merah dari Pacet harganya lebih murah, rata-rata Rp 9 ribu per kilogram. Namun, jenis bawang lokal ini tak tahan terhadap hujan, banyak yang busuk, susutnya lebih tinggi,” tuturnya.

Selain dampak cuaca buruk, lanjut Supri, para tengkulak harus menanggung rugi akibat anjloknya harga bawang merah di pasar. Sekitar sebulan yang lalu, harga bawang merah masih bertengger di angka Rp 25 ribu per Kg. Saat ini, harga bumbu dapur itu hanya Rp 17 ribu per Kg. “Anjloknya harga karena saat ini stok bawang merah melimpah, banyak yang panen raya. Otomatis harganya turun,” ungkapnya. (bud/uyo)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here