Salah satu aplikasi dengan platform EJISC yang diluncurkan Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Jatim.

IM.com – Pemerintah Provinsi Jawa Timur rupanya sudah menyadari persaingan usaha yang semakin ketat di era revolusi industri 4.0 sekarang ini adalah sebuah keniscayaan. Untuk menghadapi tantangan era ekonomi digital tersebut, pemprov telah mengembangkan platform aplikasi marketplace untuk memfasilitasi produksi dan penjualan produk industri kecil dan menengah di Jatim.

Pemprov Jatim membuat sistem berbasis website East Java Investment Super Coridor (EJISC). Sistem yang dikembangkan pemprov bekerja sama dengan Prof Hariadi dari ITS ini memuat semua informasi tentang potensi daerah di Jawa Timur secara daring.

“Kami (Jatim) juga membuat aplikasi marketplace, tapi tugasnya bukan transaksi. Tugasnya kerja sama dengan marketplace lain,” kata Gubernur Jatim Soekarwo di Surabaya, Kamis (25/10/2018).

Menurut Soekarwo, saat ini, produk dari 400 ribu Industri Kecil Menengah di Jawa Timur sudah masuk dan terintegrasi di aplikasi kerja sama dengan para pelaku ekonomi digital yang sudah ada.


“Sasarannya 2 juta IKM. Seru ini, seru,” ujar gubernur yang juga Ketua DPD Partai Demokrat Jatim ini.

Gubernur yang akrab disapa Pakde Karwo itu mengatakan, saat ini aplikasi Pemprov Jatim itu sudah bekerja sama dengan sejumlah platform digital baik e-commerce maupun platform media massa daring. Tidak menutup kemungkinan, lanjut Pakde Karwo, Jatim bekerja sama dengan platform digital lainnya yang lebih luas.

Permintaan Pakde Karwo cuma satu, Industri Kecil Menengah (IKM), UKM yang dilibatkan di dalam platform ini diulas dan diberi rating di setiap platform yang ada.

“Saya minta dirating, rating itu misalnya begini, sampeyan jualan kerupuk udang. Jualannya ke mana saja? Kapasitas produksinya berapa? Nah, itu semua ditampilkan, supaya nanti ditransfer ke Fintech supaya dapat modal,” katanya.

Pada 8 Oktober lalu, kata Pakde, Pemprov Jatim sudah melakukan langkah spesifik terkait dengan ekonomi digital. Namun, Pakde Karwo tidak ingin platform itu hanya menjadikan IKM di Jatim menjadi trader atau pedagang saja.

“Saya ingin ada proses produksi, misalnya jualan pisang, bagaimana supaya pisangnya ada terus sepanjang tahun. Supaya tidak terganggu bisnisnya. Nah, ini didatangkan dari daerah lain,” tuturnya.

Jatim membuka aplikasi itu untuk sumber bahan baku, supaya bahan baku terus tersedia. Kalau tidak ada, Jatim akan menurunkan tim riset dan pengembangan (R&D) untuk meneliti soal pasokan bahan baku.

Sifat aplikasi itu, kembali ditegaskan oleh Pakde Karwo, sebagai jembatan penghubung antardaerah terutama dalam hal proses produksi dan raw material (bahan baku utama).

Tidak ada sedikitpun, kata Pakde, tujuan dari pembuatan aplikasi itu untuk menyaingi platform para pelaku ekonomi digital yang sudah ada. Dengan aplikasi dan sistem database digital Jatim itu, Soekarwo ingin Jatim menjadi hub atau penghubung/pusat ekonomi digital Indonesia.

“Ya, pemerintah kemudian jangan bertengkar dengan rakyatnya untuk cari rezeki,” ujarnya. (sun/im)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here