Warga Dusun Sidowangi, Desa Mojolebak, Kecamatan Jetis tersangka pembunuhan Ananda Putra Wiyanto (18), Mako Abrianto Kartika Yudha (19), diinterogasi di depan awak media di Mapolres Mojokerto, Senin (25/1/2021).

IM.com – Pelaku pembunuhan terhadap pegawai kafe di Pacet, Ananda Putra Wiyanto (18), akhirnya ditangkap. Mako Abrianto Kartika Yudha (19) diduga memukul kepala belakang korban dengan benda keras hingga meninggal dunia.

Penganiayaan ini terjadi pada 27 Desember 2020 di rumah bos pemilik kafe tempat korban bekerja, Gama (GM), di Jalan Raya Jasem, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto. Di rumah itu, korban bersama bosnya dan dua orang lain sedang berpesta.

Insiden terjadi ketika salah satu teman perempuan korban menghubungi kekasihnya, Mako Abrianto Kartika Yudha, karena merasa diganggu oleh korban. Mendengar keluhan pacarnya, pemuda yang belum genap berusia 20 tahun itu langsung mendatangi korban.

Setibanya di rumah GM, warga Dusun Sidowangi, Desa Mojolebak, Kecamatan Jetis itu, langsung memukul kepala belakang korban menggunakan perkakas yang terbuat dari besi (kunci inggris). Pukulan itu mengakibatkan tengkorak bagian belakang korban pecah.

Setelah pukulan itu, korban sempat mendapat perawatan singkat di sebuah klinik di Ngoro. Pemuda asal Dusun Soso, Desa Cempokolimo, Kecamatan Pacet itu kemudian dilarikan ke RSUD Sidoarjo dan mengalami koma selama delapan hari sebelum akhirnya meninggal dunia pada 3 Januari 2021 lalu.

Dua kemudian, Selasa (5/1/2021), Satreskrim Polres Mojokerto dibantu forensik RS Bhayangkara Pusdik Sabhara Porong sempat membongkar makam tersebut setelah menerima laporan dari orang tua korban. Dari hasil autopsi tersebut terungkap tengkoran belakang korban rusak parah jaringan syaraf otak mengalami pendarahan akibat  pukulan benda tumpul keras.

Akibat perbuatannya, pelaku Mako Abrianto Kartika Yudha dijerat Pasal 338 KUHP. Ancaman hukumannya 15 tahun penjara.

Diberitakan sebelumnya, seorang pegawai di Pacet, Ananda Putra Wiyanto (18) meninggal dunia setelah mengalami koma selama 8 hari di RSUD Sidoarjo. Orang tua korban yang mencurigai ada yang tidak beres dari kematian anaknya melaporkan peristiwa tersebut ke polisi.

Kecurigaan Wiwik Nur Astutik (37), ibu korban, ditandai dari sejumlah kejanggalan dalam rangkaian peristiwa yang mengiringi kematian anaknya. Mulanya, korban memberi kabar dirinya tidak pulang dan akan menginap di tempat bosnya, GM (24) di Kecamatan Ngoro pada Sabtu (26/12/2020) malam. Nanda baru tiga hari bekerja di sebuah kafe milik GM di kawasan Pacet.

“Anak saya baru tiga hari bekerja di kafe, biasanya pulang jam 21.30 WIB. Tapi malam itu dia pamit mau nginap di tempat bosnya yang katanya mess untuk pegawai kafe di  Ngoro,” ungkap Wiwik.

Namun pada siang harinya, kabar buruk datang dari bos kafe yang dikirim melalui pesan WA kepada orang tua Nanda.

Untuk meyakinkan orangtuanya dalam pesan melalui aplikasi whatsapp (WA) itu, korban juga memberitahu kalau dia menumpang mobil bosnya. Sementara motor miliknya masih berada di kafe.

“Dia juga kirim foto bersama bosnya di dalam mobil. Karena saya melarangnya pergi ke Ngoro kalau naik motor,” ujar Wiwik.

Wiwik mencurigai ada fakta yang ditutup-tutupi GM dalam keterangannya. Selain tidak ada penjelasan lebih rinci terkait kronologi peristiwa, kondisi korban juga menyiratkan kalau Nanda meninggal bukan sekadar akibat kecelakaan biasa. (Baca: Ini Kejanggalan Tewasnya Pegawai Kafe di Pacet).

“Anak saya seminggu koma sampai meninggal. Katanya dokter, karena sarafnya terlambat ditangani, darahnya sampai membeku di otak,” ujar Wiwik.

Selama korban dirawat di RSUD Sidoarjo dalam keadaan koma, GM tak pernah menampakkan batang hidungnya. Wiwik hanya bisa menghubungi bos anaknya itu melalui pesan whatsapp dan telepon.

“Lalu Selasa (29/12/2020) saya telepon GM, tanya lagi kejadian sebenarnya, jawabannya beda dari sebelumnya. Dia bilang Nanda dipukul dua orang, tapi dia ngaku tidak tahu pelakunya karena tidak mengetahui peristiwa pemukulannya,” tukas Wiwik.

Dalam percakapan itu, Wiwik berujar, nada bicara GM terkesan ketakutan dan merasa terancam dituduh sebagai pelaku pemukulan. GM bahkan mengaku akan menghilang jika terus disudutkan. (Baca: Pegawai Kafe di Pacet Meninggal Misterius).

“Setelah itu dia sudah tidak bisa dihubungi lagi. Padahal saya hanya ingin penjelasan bagaimana sih kejadian sebenarnya, siapa pelakunya. Kami ingin pelaku yang menyebabkan anak saya meninggal ditangkap dan dihukum seberat-beratnya,” tandas Wiwik. (im)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here