Petani cabai di Jombang saat menunjukkan hasil panennya. /Karimatul Maslahah/

IM.com – Bertani cabai di musim penghujan, mempunyai resiko yang sama seperti saat musim kemarau. Di musim penghujan seperti saat ini tanaman cabai beresiko busuk akibat curah hujan tinggi.

Hal itu dialami Mamad (35) petani cabai asal Desa Sukorejo, Kecamatan Perak, Kabupaten Jombang Jawa Timur. Menurutnya, setiap petani yang bertanam cabai mempunyai pertimbangan resiko tersendiri.

Hingga keuntungan menanam cabai pun tidak bisa diprediksi. Dikarenakan harga cabai bisa melambung bila banyak yang gagal panen. Atau malah sebaliknya cabai melimpah di pasaran dan harganya anjlok.

“Saya rugi akibat cuaca, terhitung Rp 5 juta kerugian, padahal harga cabai di pasar saat ini lumayan bagus,” ujar Mamad saat ditemui. Selasa (30/1/2024).

Mamad mengungkapkan bahwa cabai yang sejatinya sudah siap panen daunnya mengunung, buahnya juga rusak akibat guyuran hujan. Luas cabai yang ditanam pun mencapai hektaran.

“Cabainya sudah mulai berkembang eh malah hujannya turun,” jelasnya.

Untuk mensiasati hal itu, Mamad memutar otak untuk memilah cabai busuk, kering dan segar. Sebab nilai jual masing-masing kondisi cabai berbeda-beda.

“Cabai kering masih laku dijual, dengan harga Rp 20 per kilogram, sementara cabai segar Rp 38 ribu perkilogram,” bebernya.

Tak ingin terus merugi, Mamad ingin berpindah ke tanam padi di sawah miliknya. “Ini mau saya beralih ke tanam padi,” pungkasnya. (ima)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini