Kebakaran di timbunan lama TPA Belahantengah, Mojosari, Kabupaten Mojokerto terus dibasahi. Penanganannya seperti lahan gambut sehingga petugas harus memastikan tidak ada lagi titik api di bawah timbunan.

inilahmojokerto.com – Bagi kebanyakan orang, kebakaran dianggap selesai ketika tidak lagi terlihat kobaran api. Tetapi di TPA Belahantengah, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, ukuran “padam” ternyata tidak sesederhana itu.

Setelah kebakaran menghanguskan sekitar 60 persen area zona nonaktif pada 26–27 September 2026, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Mojokerto masih harus melakukan pembasahan selama satu hingga dua pekan.

Alasannya sederhana, tetapi penting, api bisa saja masih hidup di bawah permukaan.

Kepala DLH Kabupaten Mojokerto Rachmat Suharyono menyebut timbunan lama di zona nonaktif memiliki kondisi kering. Ia bahkan mengibaratkan penanganannya seperti lahan gambut karena petugas harus memastikan tidak ada lagi titik api di bawah timbunan.

Gambaran tersebut memiliki penjelasan ilmiah.

Bersandar pada kajian jurnal Science Direct yang mengkaji tentang karakter sampah kota, kebakaran bawah permukaan pada TPA dapat berlangsung sebagai ‘smoldering’, yakni pembakaran yang tidak selalu menghasilkan kobaran api besar. Panas tetap diproduksi dan proses dapat terus berlangsung di dalam timbunan.

Penelitian mengenai kejadian subsurface smoldering menunjukkan kondisi semacam ini dapat berlangsung tanpa api atau asap yang terlihat jelas pada tahap awal.

Karena itu, air yang disemprotkan ke permukaan belum tentu langsung menyelesaikan persoalan.

Air harus mencapai bagian timbunan yang mengalami pemanasan. Jika masih terdapat kantong panas, material mudah terbakar dan suplai oksigen, bara dapat bertahan lalu kembali muncul setelah permukaan terlihat aman.

Kajian mengenai kebakaran TPA juga menunjukkan bahwa propagasi api bawah permukaan dipengaruhi komposisi sampah, kadar air, dan ketersediaan oksigen.

Indikasi kebakaran tersembunyi antara lain munculnya asap dari permukaan, peningkatan temperatur gas dan perubahan komposisi gas.

Inilah yang menjelaskan mengapa kebakaran Belahantengah kembali muncul sehari setelah sempat dinyatakan padam pada Sabtu malam sekitar pukul 23.30 WIB.

Peristiwa itu sekaligus memperlihatkan perbedaan antara api yang terlihat dan panas yang tersimpan. Angin kemudian menjadi faktor yang mempercepat penyebaran ketika api telah mencapai permukaan. Penelitian tentang kebakaran TPA menunjukkan arah angin juga berperan dalam penyebaran partikulat hasil pembakaran.

Masalahnya tidak berhenti pada pemadaman. Pembakaran sampah dapat menghasilkan partikulat dan berbagai polutan udara.

Kajian terhadap kebakaran fasilitas sampah di Kochi, India, misalnya, menunjukkan kebakaran TPA dapat menghasilkan PM10, PM2.5, karbon monoksida, nitrogen oksida, senyawa organik volatil dan gas rumah kaca dalam jumlah besar.

Karena itu, pembasahan selama berhari-hari bukan sekadar tindakan tambahan. Itu merupakan upaya memastikan panas tidak kembali menjadi api.

Dan dari TPA Belahantengah muncul satu pelajaran penting, ketika kobaran sudah hilang dari pandangan, pekerjaan pemadaman belum tentu selesai. Bisa jadi justru bagian tersulit berada di bawah permukaan.

6

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini