Heri Lento Ketua Komunitas Surabaya Juang menjelaskan arsip sejarah Bung Karno lahir di Surabaya
Ketua Komunitas Surabaya Juang Heri Lento tegaskan bukti otentik arsip primer bahwa Bung Karno lahir di Surabaya. Simak riwayat lengkapnya di sini

inilahmojokerto.com – Ruang publik kembali diramaikan oleh diskusi musiman seputar tanah kelahiran Proklamator RI, Soekarno, setiap kali mendekati peringatan Bulan Bung Karno.

Situs berita pdiperjuangan-jatim.com baru-baru ini turut memicu perhatian publik lewat ulasannya mengenai aspek legalitas rumah tempat lahir Sang Fajar di Surabaya sebagai situs cagar budaya.

Kendati isu ini terus menuai silang pendapat, jajaran akademisi, dokumen resmi negara, hingga arsip media massa sejak dulu bersepakat bahwa Soekarno dilahirkan di Kota Pahlawan.

Salah satu figur yang paling gigih mengawal keabsahan sejarah ini adalah Heri “Lento” Prasetyo, yang kini menakhodai Komunitas Surabaya Juang. Ia menilai runtunan dokumen primer sudah menyuguhkan bukti kuat yang tak terbantahkan.

“Seluruh rujukan arsip otentik sudah mengunci satu fakta: Bung Karno lahir di Surabaya. Siapa pun pihak yang mencoba memutarbalikkan fakta itu, mereka tidak hanya melawan sejarah, tetapi juga menyangkal pengakuan tertulis dari Bung Karno sendiri,” cetus Heri.

Meski begitu, budayawan ini menganggap dinamika perbedaan pandangan sebagai hal lumrah dalam studi sejarah. Ia memaklumi jika sebagian kelompok masyarakat masih berpegang pada tradisi lisan atau cerita rakyat setempat dalam melacak asal-usul Sang Proklamator.

“Perbedaan itu wajar dan silakan saja karena masing-masing punya pijakan. Namun bagi saya, hal paling krusial adalah bagaimana memori sejarah ini bisa dipetik untuk menguatkan karakter generasi muda dan menghidupkan api perjuangan,” lanjutnya.

Alur Validasi Sejarah: Dari Catatan Kaki hingga Menjadi Museum

Melihat ke belakang, penetapan bangunan di kawasan Pandean, Surabaya, sebagai tempat lahir Soekarno rupanya harus melewati proses panjang yang sarat perdebatan akademis.

Petunjuk awal tertuang dalam biografi karangan Solichin Salam tahun 1966 berjudul Bung Karno Putra Fadjar. Di buku tersebut, Bung Karno secara gamblang membeberkan bahwa dirinya lahir di kawasan Lawang Seketeng, Surabaya. Namun, letak presisi rumah dan nomor gangnya belum terperinci.

Menariknya, lewat catatan kaki di buku yang sama, Solichin Salam menyisipkan opsi lokasi lain, yaitu Pandean Gang III.

Riwayat perdebatan ini juga terekam jelas di lembar media cetak lawas. Surat kabar Kompas edisi 5 Oktober 1970 sempat mengangkat kesaksian Sumodihardjo yang menguatkan klaim Pandean Gang III.

Di sisi lain, laporan mendalam koran Suara Merdeka pada 6 Juni 1978 mengindikasikan bahwa warga lokal belum satu suara. Tokoh pergerakan sekaligus mantan Walikota Surabaya perdana, Doel Arnowo, bahkan mengarahkan telunjuknya ke rumah Pandean IV Nomor 31, bukan Nomor 40.

Kepastian mengenai rumah di Pandean IV Nomor 40 baru mendapatkan momentum kuat pada tahun 2002. Kala itu, sejarawan Ki Nurinwa melampirkan dokumentasi foto rumah tersebut dalam buku Ayah Bunda Bung Karno, walau statusnya masih dilabeli sebagai lokasi “dugaan kuat”.

Langkah konkret baru bergulir masif pada tahun 2009. Komunitas Surabaya Juang menginisiasi rembuk kebangsaan yang mengumpulkan para peneliti serta pemerhati sejarah untuk menguji validitas situs tersebut.

Pada momen yang berdekatan, tepatnya 9 Juni 2009, harian Jawa Pos mempublikasikan tulisan feature mendalam tentang rumah Pandean IV Nomor 40 dan kisah juru kuncinya, Pak Asyari.

Menindaklanjuti forum diskusi tersebut, pada 28 Oktober 2009, jurnalis legendaris Peter A. Rohi bersama Heri Lento dan Ki Nurinwa turun langsung ke lokasi guna mengecek bangunan.
“Saya sendiri yang waktu itu mengetuk pintu rumah tersebut untuk pertama kali,” tutur Heri mengenang momen bersejarah itu.

Titik inilah yang melahirkan gerakan serius untuk meluruskan sejarah lokal. Puncaknya, Peter A. Rohi menggelar Seminar Pelurusan Kota Kelahiran Bung Karno di Balai Pemuda Surabaya pada 28 Agustus 2010 dengan mendapuk Ki Nurinwa sebagai pembicara utama.

Setahun setelahnya, pada 5 Juni 2011, kelompok masyarakat mengarak sebuah prasasti penanda yang kemudian dipasang di area luar Gang Pandean IV.

Ikhtiar kolektif ini akhirnya mendapat pengakuan formal dari negara. Pada 12 September 2013, Tri Rismaharini yang saat itu menjabat sebagai Walikota Surabaya meneken Surat Keputusan yang meresmikan Pandean IV Nomor 40 sebagai bangunan cagar budaya.

Penyelamatan situs bersejarah ini berlanjut pada Agustus 2020 ketika Pemkot Surabaya merogoh anggaran APBD sebesar Rp1,32 miliar untuk membeli aset rumah tersebut. Hingga akhirnya pada tahun 2023, Walikota Eri Cahyadi meresmikan bangunan ikonik itu sebagai Museum Rumah Lahir Bung Karno.

Menjaga Identitas Sejarah di Kota Pahlawan

Bagi Heri Lento, seluruh dinamika ini bukan sekadar ajang adu argumen mengenai titik koordinat geografis atau nomor urut rumah, melainkan sebuah ikhtiar besar dalam merawat memori kolektif warga kota.

“Sejarah tidak melulu tersimpan mati di lembaran buku teks. Ia hidup berdenyut lewat memori kolektif warga, arsitektur kota, dan kegigihan orang-orang yang sudi merawat rekam jejak masa lalu,” ucapnya bijak.

Berangkat dari prinsip tersebut, lewat wadah Komunitas Surabaya Juang dan Sekolah Kebangsaan, Heri tiada henti membumikan nilai-nilai historis Surabaya melalui diskusi publik, refleksi budaya, dan edukasi karakter bagi generasi penerus.

Menghadapi polemik tahunan yang kerap meletup setiap bulan Juni, Heri Lento berharap publik tidak terjebak pada perdebatan lokasi semata. Ia mengajak masyarakat untuk meneladani esensi utama dari warisan pemikiran Soekarno, yakni rasa nasionalisme yang radikal, ketajaman visi, serta mentalitas pejuang yang berakar kuat dari bumi Surabaya. (kim/uyo)

1

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini