Iftikhar Ahmad Radjwie memaparkan tantangan pelestarian keterampilan perajin gerabah Sitiwinangun, Cirebon, dalam Wicara Seniman ARTSUBS 2026 di Balai Pemuda, Surabaya, Minggu (25/10/2026).

inilahmojokerto.com – Tradisi gerabah Sitiwinangun, Cirebon, menghadapi ancaman yang tidak terlihat dari bentuk benda-benda yang masih diproduksi: hilangnya keterampilan yang diwariskan antargenerasi. Salah satu contohnya, menurut seniman dan pendamping perajin Iftikhar Ahmad Radjwie, keterampilan membuat momolo kini hanya dikuasai satu orang.

Persoalan tersebut mengemuka dalam Wicara Seniman bertajuk “Desa Gerabah: Antara Tradisi, Modernitas, dan Seni Rupa Kontemporer” di Balai Pemuda, Surabaya, Minggu (25/10/2026), dalam rangkaian ARTSUBS 2026.

Pengalaman Iftikhar mendampingi perajin Sitiwinangun memperlihatkan bahwa keberlangsungan tradisi tidak cukup diukur dari masih adanya produk gerabah. Di balik benda-benda yang bertahan, terdapat pengetahuan tentang teknik, bentuk, dekorasi, dan pengolahan tanah liat yang belum tentu dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

Iftikhar mengingat kunjungan pertamanya pada 2020. Saat itu, perajin masih menghasilkan beragam produk, mulai dari mangkuk, piring, hingga gentong. Namun, menurut pengamatannya, pilihan produk yang bertahan kini semakin terbatas. Gentong untuk kebutuhan tertentu dan kowi, wadah tahan panas untuk proses peleburan emas, termasuk yang masih diproduksi. Produk lain umumnya dibuat berdasarkan pesanan.

Perubahan tersebut tidak terlepas dari bergesernya kebutuhan masyarakat. Peralatan rumah tangga berbahan plastik dan material lain menggantikan sebagian fungsi gerabah. Ketika permintaan menurun, perajin kehilangan alasan ekonomi untuk mempertahankan ragam produksi, sementara regenerasi keterampilan ikut terhambat.

Di tengah situasi itu, seni kontemporer membuka kemungkinan baru. Iftikhar melihat praktik tradisional tidak harus terkurung dalam bentuk dan fungsi lama. Gerabah dapat dikembangkan menjadi benda dekoratif, suvenir, maupun karya artistik melalui eksplorasi bentuk dan penyelesaian akhir.

Dalam kolaborasinya, ia memesan produk dari perajin, kemudian mengembangkan bentuk atau tampilannya agar memiliki nilai artistik yang lebih kuat. Sebagian hasil penjualan dikembalikan kepada perajin untuk membantu keberlanjutan usaha mereka.

Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa perajin bukan sekadar pemasok bahan bagi seniman. Keterampilan mereka merupakan fondasi penciptaan karya, sekaligus pengetahuan yang perlu dipertahankan agar tradisi tetap memiliki kehidupan di luar ruang pamer.

Meski demikian, kolaborasi artistik tidak otomatis menyelesaikan persoalan regenerasi. Pelatihan, dukungan akademisi dan pemerintah, serta pengembangan produk perlu berjalan bersama dengan penciptaan pasar yang mampu memberikan penghasilan layak.

Penggunaan cetakan, misalnya, dapat membantu menjaga konsistensi bentuk. Namun, teknologi itu tidak sepenuhnya menggantikan pengetahuan yang diperoleh melalui pengalaman panjang seorang perajin.

Kisah Sitiwinangun menunjukkan bahwa tradisi dapat kehilangan sebagian kemampuannya bahkan ketika gerabah masih diproduksi. Ketika keterampilan tertentu hanya tersisa pada satu orang, persoalannya bukan lagi sekadar mempertahankan produk, melainkan memastikan pengetahuan di baliknya dapat diteruskan.

Seni kontemporer bisa menjadi salah satu jalan untuk memperluas nilai gerabah. Namun, keberhasilannya pada akhirnya bergantung pada apakah kolaborasi tersebut ikut menjaga kehidupan para perajin dan membuka kesempatan bagi generasi baru untuk belajar.

5

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini