Tarmuji (70), warga Dusun Pelem, Desa Temon, Kecamatan Trowulan korban tabrakan tengah diangkut ke rumah sakit.

inilahmojokerto.com – Kawasan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur  kembali menjadi sorotan setelah kecelakaan lalu lintas yang menimpa seorang pesepeda lanjut usia.

Jalur arteri yang padat kendaraan besar itu dinilai semakin tidak ramah bagi pengguna jalan rentan, terutama pada jam-jam sibuk pagi hari.

Kecelakaan terjadi sekitar pukul 06.00 WIB di Jalan Raya Dusun Tegalan, Desa Trowulan, Kecamatan Trowulan. Korban diketahui bernama Tarmuji (70), warga Dusun Pelem, Desa Temon, Kecamatan Trowulan.

Saat itu, dia mengendarai sepeda angin dari arah timur ke barat atau dari Mojokerto menuju Jombang. Setibanya di lokasi kejadian, korban ditabrak dari belakang oleh mobil pikap yang melaju searah.

Benturan keras membuat Tarmuji mengalami luka serius di bagian kepala dan harus mendapatkan penanganan medis.

Adi, sopir pikap Suzuki Carry, mengaku baru selesai berjualan lontong di Pasar Balongbendo, Kabupaten Sidoarjo dan dalam perjalanan pulang saat insiden terjadi.

“Tidak ada muatan karena saya baru selesai jualan lontong. Bukan nyebrang, bapak ini (korban) ada di depan saya,” ujarnya.

Kecelakaan tersebut juga memicu tabrakan lanjutan. Sebuah mobil Honda Brio yang berada di belakang pikap tidak sempat mengerem ketika kendaraan di depannya berhenti mendadak.

Pengemudi Brio, Agus Sujatmiko (37), mengatakan dirinya baru saja mengantar istrinya ke Bandara Juanda dan hendak pulang ke Tulungagung.

“Tiba-tiba pikap berhenti di depan, saya tidak sempat mengerem sehingga saya nabrak pikap. Bahu kiri agak sakit,” katanya.

Peristiwa ini kembali menegaskan tingginya risiko di jalur Trowulan yang menjadi bagian dari arteri nasional dengan arus kendaraan berat yang dominan.

Minimnya fasilitas keselamatan bagi pesepeda dan pengguna jalan non-motor menjadi persoalan yang terus berulang tanpa solusi konkret.

Data kepolisian menunjukkan, sepanjang 2025 terjadi 363 kecelakaan lalu lintas di wilayah hukum Polres Mojokerto Kota, meningkat 1 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 358 kejadian. Dari jumlah itu, 48 orang meninggal dunia di jalanan Mojokerto.

Trowulan kerap disebut sebagai titik rawan kecelakaan, namun hingga kini belum terlihat langkah signifikan untuk menekan risiko, terutama bagi kelompok rentan.

Kecelakaan yang menimpa Tarmuji menjadi pengingat bahwa ruang jalan belum sepenuhnya berpihak pada keselamatan manusia.

Tanpa pembenahan serius, mulai dari penyediaan jalur khusus hingga pengendalian kendaraan berat, jalur ini akan terus menyisakan cerita luk, bukan hanya bagi korban, tetapi juga bagi keluarga yang menanggung dampaknya. (kim)

33

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini