Ika Puspitasari cabenisasi Mojokerto tanam cabai Kampung KB Meri pengendalian inflasi
Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari saat meninjau pelaksanaan program cabenisasi di Kampung KB Kelurahan Meri, Kota Mojokerto, sebagai upaya memperkuat ketahanan pangan dan mengendalikan inflasi daerah.

inilahmojokerto.com – Pemerintah Kota Mojokerto tancap gas menekan laju inflasi dengan cara tak biasa. Lewat program “cabenisasi”, warga didorong menanam cabai sendiri di rumah sebagai solusi menghadapi gejolak harga bahan pangan.

Langkah ini kini digencarkan hingga tingkat kelurahan, salah satunya di Kampung KB Kelurahan Meri. Program tersebut menjadi bagian dari strategi konkret Pemkot Mojokerto dalam memperkuat ketahanan pangan sekaligus menjaga stabilitas harga di pasar.

Wali Kota Mojokerto, Ika Puspitasari, menegaskan bahwa cabenisasi merupakan dukungan terhadap program nasional yang diinisiasi Presiden Prabowo Subianto, khususnya dalam penguatan ketahanan pangan dan pengendalian inflasi.

“Cabai memang bukan bahan pokok, tetapi termasuk komoditas penting yang sangat memengaruhi inflasi. Kenaikan harga cabai sering terjadi karena faktor cuaca dan gagal panen, terutama menjelang hari besar,” ujarnya.

Melalui program ini, masyarakat diajak memanfaatkan pekarangan rumah untuk menanam cabai menggunakan pot maupun polybag. Setiap rumah tangga ditargetkan memiliki tanaman cabai sendiri agar kebutuhan sehari-hari dapat dipenuhi tanpa bergantung pada pasar.

Menurutnya, strategi ini menjadi langkah antisipatif ketika pasokan dari daerah produsen menurun. Dengan begitu, lonjakan harga cabai di pasaran dapat ditekan.

“Harapannya ketika terjadi gagal panen di beberapa daerah, harga tidak melonjak tinggi karena warga Kota Mojokerto sudah punya cabai sendiri,” jelasnya.

Program cabenisasi tidak hanya melibatkan masyarakat, tetapi juga berbagai unsur pemerintah, mulai dari organisasi perangkat daerah hingga pemerintah kelurahan. Bahkan, lingkungan perkantoran turut didorong memanfaatkan lahan yang ada untuk menanam cabai.

Kampung KB dipilih sebagai basis penggerak karena dinilai strategis dalam pemberdayaan masyarakat. Dengan semangat gotong royong, warga diharapkan mampu mengoptimalkan lahan pekarangan sekaligus meningkatkan kemandirian pangan keluarga.

Sebelumnya, program ini juga telah melibatkan Kelompok Wanita Tani (KWT) dan TP PKK. Cabenisasi bahkan menjadi indikator dalam pemanfaatan lahan melalui prog ram Budaya RT Berseri. (uyo)

10

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini