
inilahmojokerto.com – Guruh Soekarno Putra telah meninggalkan panggung kehidupan. Namun, jejak yang ditinggalkannya melalui musik, tari dan pertunjukan justru menghadirkan pesan yang masih relevan: kebudayaan Indonesia tidak harus memilih antara menjaga tradisi atau mengikuti perubahan zaman. Keduanya dapat berjalan bersama.
Guruh Soekarno Putra, putra bungsu Presiden pertama RI Soekarno dan Fatmawati, meninggal dunia pada Sabtu (26/9/2026) pukul 04.16 WIB di RS MRCCC Siloam Hospitals Semanggi, Jakarta, dalam usia 73 tahun. Kabar wafatnya disampaikan pihak keluarga dan dikonfirmasi melalui sejumlah laporan media.
Tetapi mengenang Guruh hanya melalui kabar kematiannya terasa terlalu singkat untuk perjalanan seorang seniman yang sejak kecil menjadikan seni sebagai bagian dari hidupnya.
Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) mencatat, Guruh telah mengenal berbagai kesenian tradisional sejak kecil. Ia belajar tari Jawa, Sunda, Bali, Minang dan sejumlah tari daerah lainnya. Pada masa sekolah ia juga telah tampil bersama kelompok musik dan bermain piano.
Dari sana terlihat bahwa hubungan Guruh dengan kebudayaan bukan sesuatu yang muncul ketika ia dewasa. Seni tumbuh bersamanya.
Salah satu jejak penting perjalanan Guruh terlihat ketika pada 1965 ia membentuk The Beat-G. Satu dekade kemudian, ia bersama sejumlah musisi melahirkan Guruh Gipsy, karya yang mempertemukan musik modern dengan unsur gamelan Bali. ANRI mencatat album tersebut sebagai bagian penting dari perjalanan musikal Guruh.
Di titik inilah pesan karya Guruh mulai terasa. Ia tidak menempatkan tradisi sebagai sesuatu yang harus disimpan di masa lalu. Sebaliknya, unsur tradisional dibawa masuk ke ruang musik yang lebih modern.
Tradisi tidak sekadar dipelihara. Ia diolah.
Cara pandang tersebut kemudian terus muncul dalam perjalanan Guruh di dunia seni pertunjukan. Pada 1977 ia mendirikan Swara Maharddhika, yang kemudian berkembang menjadi Yayasan Swara Maharddhika. Sejumlah pergelaran besar lahir dari perjalanan tersebut, termasuk Untukmu Indonesiaku, Cinta Indonesia dan Gilang Indonesia Gemilang.
Karya-karya Guruh tidak hanya berbicara melalui lagu. Ia bergerak di antara musik, tari, koreografi, pertunjukan hingga film. Arsip ANRI bahkan mengelompokkan jejaknya sebagai pencipta lagu dan komposer, ilustrator musik, koreografer serta aktor film.
Dari berbagai bidang tersebut muncul benang merah yang sama: Indonesia menjadi sumber gagasan.
Guruh seperti menunjukkan bahwa identitas kebudayaan tidak selalu harus disampaikan dengan cara yang lama. Musik bisa berubah. Tata panggung bisa berkembang. Gerak tari bisa dieksplorasi. Teknologi dan bentuk pertunjukan dapat mengikuti zaman.
Namun, akar kebudayaannya tetap dapat dibawa. Itulah salah satu pesan penting yang dapat dibaca dari perjalanan karyanya. Pesan tersebut menjadi semakin penting setelah Guruh meninggal dunia.
Sebab persoalan kebudayaan tidak berhenti pada bagaimana generasi sekarang mengenang karya seniman sebelumnya. Tantangannya justru bagaimana karya dan gagasan itu diteruskan dalam bentuk yang dapat dipahami generasi berikutnya.
Guruh telah memberikan contoh melalui perjalanan panjangnya: mengenal tradisi, mempelajarinya, kemudian mengolahnya menjadi ekspresi baru.
Dengan demikian, mencintai kebudayaan tidak harus berarti menolak perubahan. Sebaliknya, perubahan juga tidak harus membuat seseorang kehilangan akar.
Dalam sebuah kesempatan bersama ANRI pada 2024, Guruh juga berbicara mengenai pentingnya arsip dan pelurusan sejarah. Ia berharap dokumen-dokumen tentang Presiden Soekarno dan keluarga dapat dikumpulkan serta dijadikan sumber sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan.
Pandangan itu memperlihatkan sisi lain dari sosok Guruh: perhatian terhadap kebudayaan tidak hanya berada di atas panggung, tetapi juga pada bagaimana ingatan tentang bangsa disimpan dan diwariskan.
Kini Guruh telah pergi. Panggung tempat ia menari, musik yang ia susun, pertunjukan yang ia gagas dan kebudayaan yang ia olah menjadi bagian dari jejak yang ditinggalkan.
Maka pesan dari perjalanan Guruh mungkin bukan tentang bagaimana sebuah karya harus dikenang. Pesannya justru tentang bagaimana karya itu dilanjutkan.
Bahwa kebudayaan Indonesia tidak cukup hanya diwariskan sebagai peninggalan. Ia perlu dipelajari, dirawat, kemudian diberi ruang untuk tumbuh bersama zaman.
Guruh telah menutup satu babak kehidupannya pada Sabtu pagi. Tetapi panggung kebudayaan Indonesia masih terbuka.
Dan generasi setelahnya yang akan menentukan apakah musik, tari dan kekayaan tradisi yang pernah ia perjuangkan hanya menjadi kenangan, atau kembali menemukan bentuk baru di tangan zaman.










































