Akibat musim hujan biaya angkut tebu naik dua kali lipat

IM.com – Musim hujan yang turun terlalu dini berdampak terhadap proses tebang angkut tebu. Akibat, biaya angkut dari kebun naik dua kali lipat. Maka, para petani pabrik gula (PG) Gempolkrep meminta kepada PG untuk menaikkan bagi hasil gula dari 65% menjadi 70%.

Ketua Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Gempolkrep, Mubin mengatakan, musim hujan yang datang terlalu dini diluar prediksi petani. Sejak seminggu terakhir, intensitas hujan cukup tinggi, baik di Kabupaten/Kota Mojokerto, Lamongan dan Jombang.

Kondisi ini membuat lahan tebu petani di empat daerah itu menjadi becek. Truk pengangkut tak bisa masuk ke lahan tebu. Otomatis petani dipaksa mengeluarkan biaya tambahan untuk kuli angkut dari kebun ke truk.

“Biaya angkut dari lahan naik dua kali lipat, biasanya tebang angkut Rp 10-12 ribu per kwintal tebu, sekarang naik menjadi Rp 22-25 ribu per kwintal tebu. Karena harus mengangkut secara manual dari kebun. Dibutuhkan tenaga kuli dua kali lipat,” kata Mubin Rabu (5/10).


Kondisi cuaca pada musim giling tahun ini, lanjut Mubin, jauh berbeda dengan tahun lalu. Menurut dia, sejak awal buka giling Mei sampai usai panen November, intensitas hujan tak terlalu tinggi.

Padahal, menurutnya, saat ini masih terdapat 40% atau sekitar 3,7 juta kwintal tebu yang belum ditebang di 3.700 hektare lahan petani. Terlebih lagi paling besar lahan terletak di daerah Kabupaten Lamongan yang memiliki topografi pegunungan. Intensitas hujan yang tinggi menambah sulit petani untuk mengangkut tebu dari lahan.

“Terget kami tebang berakhir pada akhir November. Namun, kondisi cuaca seperti ini kami khawatir akan molor. Karena proses angkut dari lahan ke truk yang jauh, akan memakan waktu lama,” ujarnya. Kekhawatiran itu, kata Mubin, bukan tanpa alasan. Menututnya, jika proses tebang-angkut terus molor di tengah intensitas hujan yang tinggi, secara otomatis akan membuat rendemen tebu turun.

“Rendemen saat ini 7,20-7,25%, rendemen sudah turun 10-20%, normalnya 8%, bahkan ada yang 5%. Karena mutu tebangan turun, tanaman muda lagi kena hujan. Otomatis hasil gula petani turun,” terangnya.

Mewakili ribuan petani tebu di wilayah Kabupaten/Kota Mojokerto, Jombang dan Lamongan, pihaknya mendesak PG Gempolkrep agar menaikkan bagi hasil gula. “Kami meminta dispensasi dari PG Gempolkrep agar menaikkan bagi hasil gula petani dari 65% menjadi 70%. Supaya bisa sama-sama jalan,” tandasnya.

APTRI Gempolkrep saat ini menaungi 30 koperasi dengan anggota sekitar 30.000 petani tebu yang tersebar di Kabupaten Lamongan, Kabupaten dan Kota Mojokerto, serta sebagian Kabupaten Jombang. Luas lahan yang digarap mencapai 15.000 hektare.

Pada musim panen tahun lalu, petani tebu Gempolkrep menghasilkan 9,7 juta kwintal tebu. Dengan rendemen 7,5℅ dan bagi hasil dengan pabrik gula (PG) Gempolkrep 65℅, maka gula yang diperoleh petani mencapai 47.288 ton gula pasir.

Sementara musim panen tahun ini, target panen tebu petani sebesar 10,5 juta kwintal. Sementara gula bagi hasil untuk petani ditargetkan mencapai 51.187 ton. Sejauh ini tebu petani yang sudah digiling PG Gempolkrep mencapai 7,2 juta kwintal.

Sampai saat ini belum ada statemen resmi dari manajemen PG Gempolkrep terkait tuntutan para petani. Sekretaris PG Gempolkrep, Azis Rahman beberapa kali dihubungi melalui nomor ponselnya belum memberikan tanggapan. (bud/uyo)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here