Penghuni Pondok 99 sebagian besar mengidap psikotik katimbang gangguan jiwa

IM.com – Stres dan depresi bisa menyerang siapa saja. Tak jarang disebabkan oleh masalah sepele. Orang-orang yang mengalami stres atau memiliki beban pikiran sebenarnya sudah memahami masalah yang dihadapi, apakah menyangkut finansial, hutang, masalah keluarga, atau apapun.

Namun karena meremehkan, malas mengatasi lalu membiarkanya hingga masalahnya membesar. Lantas mencari pelarian yang sebenarnya justru memperburuk keadaan sehingga masalah itu menjadi beban yang sulit dihilangkan. Akhirnya mengalami depresi, kondisi mentalnya terganggu, perasaan hatinya memburuk, aktivitasnya kacau balau.

Adalah sepasang suami istri, Suwoto (66) dan Sriasih yang merasa tergugah untuk mengulurkan tangan bagi orang-orang yang tengah mengalami despresi. Mereka ditampung dalam “Pondok 99” yang didirikan tahun 1999 di Dusun Pandantoyo, Pandankrajan, Kemlagi, Kabupaten Mojokerto.

Yang ditampung bukan hanya kalangan dewasa tapi juga terdapat anak-anak muda, yang sekarang jumlahnya mencapai 37 orang. “Saya merasa kasihan jika melihat orang-orang yang mengalami gangguan jiwa terlantar di pinggiran jalan, untuk itu saya rawat di pondok,” tutur Suwoto.


Sementara Sriasih menuturkan bahwa daya tampung pondoknya sangat terbatas karena hanya memiliki tujuh kamar dan satu mushalah, yang enam diperuntukkan bagi pasien laki-laki sedang satunya untuk perempuan. Dari pasien yang ada, 35 orang mengidap depresi psikotik.

Depresi psikotik merupakan gangguan depresi kelas berat yang disertai dengan gejala psikotik. Gejala yang biasa dialami antara lain halusinasi, serasa mendengar suara-suara yang menghasut atau menjatuhkan kepercayaan diri. Depresi psikotik juga sering marah tanpa sebab, dan parahnya lagi si penderita merasa tidak perlu merawat diri dan sulit untuk diajak berkomunikasi. Pada saat berkomunikasi, penderita malah cenderung mengatakan hal-hal yang tidak masuk akal.

Beberapa faktor yang bisa memicu terjadinya psikosik di antaranya, stres berat, depresi berat, pengalaman buruk yang membuat trauma, gangguan bipolar, penyakit skizofrenia, tumor otak, penyakit Parkinson, epilepsi, penyakit Alzheimer, stroke, kecanduan minuman beralkohol dan penyalahgunaan obat-obatan psikotropika.

Penghuni Pondok 99 sebagian besar mengidap psikotik katimbang gangguan jiwa.”Malah ada psikotik akibat narkotik, jika sedang sakau, ketagihan, biasanya berteriak-teriak,” tutur Sriasih saat ditemui di tengah kesibukannya, Rabu (18/10/2017).

Sriasih menjelaskan, diantara orang-orang yang ditampung pondok ada yang diantar oleh anggota keluarganya. Untuk perawatan, setiap orang dikutip biaya sebesar Rp 25 ribu per hari. “Mereka mendapat jatah konsumsi sebanyak tiga kali, berupa nasi, lauk pauk, buah dan camilan. Kami memberikan yang terbaik bagi kesembuhan mereka, hanya saja pondok tidak bisa menampung lebih banyak karena fasilitasnya terbatas,” tutur pengabdi sosial tersebut.

Ditanya tentang pola penyembuhannya, Suwoto menuturkan, metode yang digunakan adalah tradisi ritual keislaman. Para pasien disibukan dengan kegiatan religi, yakni diajak melaksanakan sembahyang lima waktu serta sejumlah sembahyang sunnah, disamping itu diajarkan membaca wirid yang sesuai dengan kebutuhan terapi.

Penelitian yang dilakukan Lisa Miller, profesor sekaligus direktur Clinical Psychology, Universittas Pennsylvania, AS menemukan bahwa orang-orang yang menjunjung tinggi agama dan berdoa secara teratur memiliki korteks atau bagian terluar dari otak lebih tebal dibandingkan mereka yang tidak melakukan tradisi ritual.

Penipisan korteks, khususnya di bagian tertentu di otak merupakan indikator semakin memburuknya kesehatan, terutama karena depresi. Praktik kerohanian bisa mengusir depresi dan menjauhkan seseorang dari berbagai penyakit. (ning/uyo)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here