IM.com – Puluhan anggota komunitas Mojokerto Jalan-jalan (MJJ) membagikan tong sampah di Wisata Waduk Tanjungan (WWT) di Desa Tanjungan, Kecamatan Kemlagi, Kabupaten Mojokerto.

Pemberian tong sampah tersebut karena Komunitas MJJ menilai jika WWT saat ini sudah dikenal dan banyak didatangi masyarakat.

Puluhan tong sampah beraneka gambar tersebut disebar di sejumlah titik di WWT yang dinilai masih minim tempat sampah. Sebelumnya, tong sampah bekas tempat cat tembok tersebut digambar untuk memberikan kesan indah. Kemudian mereka berkeliling waduk dengan luas lahan sekitar 25 hektar tersebut untuk menempatkan tong sampah.

Kepala Desa (Kades) Tanjungan, Suparlik mengungkap rasa terima kasih kepada komunitas MJJ. “Karena kedatangan MJJ ke WWT, promo wisata tidak jauh-jauh tapi lewat MJJ bisa terekspos. Selain itu, kita terima kasih karena dapat bantuan tong sampah sehingga pengunjung tidak membuang sampah sembarangan,” ungkapnya, Senin (11/12/2017).


Masih kata Kades, meski di WWT sudah ada tempat sampah namun masih dibutuhkan banyak lagi tempat sampah di WWT. Menurutnya komunitas MJJ dinilai cukup bagus, selain itu juga ada kerjasama dengan WWT dan bantuan tong sampah merupakan tindak lanjut dari bantuan sebelumnya yakni angsa dan penanaman pohon.

“Kita sudah ada kerjasama sebelumnya dengan komunitas MJJ. WTT sendiri merupakan milik Pemkab Mojokerto kerja sama dengan pihak desa, kita dapat 40 persen dari pengelolaan parkir yang kita perdayakan karang taruna tapi untuk tiket dikelola Dispora. Selain kelola parkir, juga ada penjualan produk dari tiga dusun di Desa Tanjungan,” katanya.

Sejak tiga bulan lalu, pihak desa kerjasama dengan pihak ketiga untuk kembali mengenalkan WWT ke masyarakat. Sehingga pengunjung naik secara signifikan, saat Minggu sampai 1.000, sementara hari biasa antara 100 sampai 200 pengunjung. Tak hanya dari Mojokerto sendiri tapi juga dari luar kota seperti Lamongan, Gresik, Sidoarjo sampai Banyuwangi.

“WWT menawarkan beberapa spot selfie, kita buat spot selfie yang lagi ngetrend. Kita bukan meniru tapi kita memang mengaca dari desa lain tapi untuk memberikan spot selfie yang belum ada. Untuk waduknya sendiri luasnya sekitar 12 sampai 13 hektar tapi untuk luasnya sendiri mencapai 25 hektar, memang fungsinya sejak dibuat tahun 1980 untuk irigasi,” ujarnya.

WWT bisa mengairi sawah milik para petani yang ada di tiga desa, Tanjungan Kemlagi dan Mojokumpul serta Mojorejo, Kecamatan Jetis. Kades menambahkan, jika musim kemarau masyarakat masih mengambil air dari WWT, namun berkembang menjadi wisata.

Saat ini, WWT sudah memiliki agenda tahunan yakni Kirap Sewu Takir yang digelar setiap bulan Suro penanggalan Jawa.

Sementara itu, Humas Komunitas MJJ, Sholeh Afandi mengatakan, komunitas MJJ mempunyai kegiatan setiap tahun yang terus ditindaklanjuti.

“Di WTT di tahun pertama, kita melakukan penanaman pohon, tahun kedua kita berikan angsa dan tahun ini kita berikan tong sampah. Karena WTT sudah banyak pengunjung,” urainya.

WTT saat ini sudah mulai dilirik masyarakat sehingga pengunjung cukup banyak yang datang karena banyak spot baru. Meski sudah ada tempat sampah, namun masih dibutuhkan tong sampah lebih banyak agar pengunjung tidak buang sampah sembarangan. Menurutnya, komunitas MJJ tidak hanya mengekspor wisata baru saja tapi juga yang sedang berkembang.

“MJJ mlaku bareng artinya MJJ juga mengandeng wisata yang sudah ada sesuai visi kita untuk mengekspor wisata baru dan berkembang. Kita juga berharap komunitas MJJ lebih dikenal masyarakat luar karena komunitas MJJ bukan sekedar jalan-jalan tapi juga mrmpunyai kegiatan positif. Yakni mengekspor wisata baru dan mengenalkan destinasi wisata baru,” urainya.

Sholeh menjelaskan, komunitas MJJ berdiri sejak dua tahun lalu dengan anggota hanya 20 orang dan saat ini berkembang menjadi 40 anggota aktif.

Mereka wajib mengisi kas dan mempunyai tiga agenda rutin seperti kopdar, trip dan evaluasi. Anggotanya sendiri tidak hanya dari Mojokerto tapi juga dari luar Mojokerto. Seperti Jombang, Gresik dan Sidoarjo.

“Untuk anggota di medsos ada sekutar 60 ribu. Dari dua tahun perjalanan, kita berhasil mengenalkan wisata baru yakni Akar Seribu Begagan Limo di Gondang. Dulu jalannya belum enak tapi kita ekspelor sehingga sekarang terkenal kemudian Air Terjun 7 Bidadari di Jatirejo. Meski bukan kita yang menemukan tapi kita ikut mengekspor,” tuturnya.

Selain itu, tegas Sholeh, ada Air Terjun Watu Gedeg di Desa Nogosari, Kecamatan Pacet. Menurutnya, wisata di Mojokerto tidak ada yang luar biasa seperti pantai tapi Mojokerto punya gunung. Dengan sumber daya alam yang ada, lanjut Sholeh, jika diekspor maka akan bisa menarik wisatawan.(ning/uyo)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here