Banjir menggenangi ratusan rumah warga di sejumlah desa di Mojokerto menyusul hujan deras yang mengguyur seharian pada Selasa (19/3/2019). Banjir dan longsor akibat hujan deras itu juga menyebabkan bantaran Sungai Kedung Sumur longsor dan jalan Desa Pageruyung, Kecamatan Gedeg ambrol.

IM.com – Guyuran hujan deras yang merata di Kabupaten Mojokerto sejak siang hingga malam hari, pada Selasa kemarin (19/3/2019), membawa dampak serius. Sejumlah lahan sawah terendam serta ratusan rumah tergenang air rata-rata setinggi 1-1,5 meter.

Lahan pertanian yang paling parah terdampak luapan air sungai akibat hujan deras ada di Desa Kepuhanyar, Kecamatan Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto. Sawah yang berubah seperti danau di desa tersebut menyebabkan bibit padi yang sudah ditanam rusak.

“Bibit padi baru berusia 3 pekan rusak, tak bisa tumbuh lagi,” kata salah satu petani Desa Kepuhanyar, Edi Suprapto (48), Rabu (20/3/2019).

Akibatnya, Edi dan sekitar 100 petani lain di desanya yang gagal tanam merugi puluhan juta rupiah. Sehingga mereka harus lebih berhemat untuk menyambung hidup.


“Saya merugi hingga Rp 25 juta. Dampaknya buat makan sulit, saya harus berhemat,” tuturnya. Pihaknya berharap pemerintah bisa turun tangan mengatasai persoalan ini.

Kepala Desa Kepuhanyar, Surya, membenarkan jika mayoritas petani di Desa Kepuhanyar telah menanam benih terpaksa merugi. Ia mengatakan, air yang merendam sawah petani di desanya berasal dari luapan Sungai Afur yang mengalir ke Sungai Brantas.

“Karena kemarin Mojokerto diguyur hujan deras, Sungai Afur tak dapat menampung air kemudian meluber ke lahan persawahan. Memang daerah ini langganan banjir,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Mojokerto, Sulistyowati tak menampik bila beberapa wilayah area pertanian di Kabupaten Mojokerto langganan terendam banjir saat musim penghujan, termasuk Kepuhanyar. Akan tetapi, ia mengaku hingga kini belum mendapat laporan terkait jumlah keseluruhan area persawahan yang tergenang banjir.

“Hingga kini kami belum mendapat laporan area sawah yang tergenang banjir,” ungkap Sulistyowati.

Ia juga menerangkan selama ini rutin memberikan bantuan kepada petani secara bergiliran. Dari data Dinas Pertanian di Kabupaten Mojokerto terdapat 320 kelompok Gapoktan di setiap desa. Sedangkan untuk poktan hampir 900 kelompok.

“Setiap tahun kami berikan bantuan di antaranya benih padi dan traktor bajak sawah. Sistem bantuannya secara bergantian. Kalau kami berikan bantuan untuk area persawahan yang langganan tergenang banjir setiap tahunnya, kasihan petani yang lain,” jelasnya.

Sementara di daerah lain, hujan deras yang mengguyur sepanjang hari kemarin mengakibatkan jalan Desa Pageruyung, Kecamatan Gedeg terputus. Ratusan rumah di desa itu pun tergenang.

Jalan yang menghubungkan Pageruyung Kulon dan Pageruyung Wetan rusak akibat banjir dari luapan Sungai Kedung Sumur. Kondisi itu kemudian diperparah dengan longsor di bantaran Sungai Kedung Sumur yang menyebabkan separuh jalan penghubung itu ambrol.

“Longsoran sepanjang 18 meter dengan kedalaman 5 sampai 7 meter. Kami langsung menindaklanjuti dengan melaporkan kepada pihak perairan setempat,” kata Kepala Dusun Pageruyung Wetan Andi Wibowo.

Pihaknya sudah peristiwa ini ke Perum Jasa Tirta Surabaya. ”Kami mohon segera dilakukan perbaikan,” ucapnya.

Saat ini, akses jalan penghubung dusun di Desa Pageruyung masih ditutup. Untuk pejalan kaki dan pengendara sepeda motor, akses dialihkan ke jalan alternatif di dekat lokasi. Sedangkan mobil akan dialihkan ke jalan lain.

Luapan air sungai menyusul hujan deras kemarin juga merendam ratusan rumah warga di Desa Pungging, Kecamatan Pungging. Air sekira 1 meter menggenangi rumah warga di Dusun Pungging Krisik. (son/im)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here