Mereka di antara caleg incumbent Dapil 5 Kabupaten Mojokerto yang lolos dan gagal pada kontestasi Pemilu Legislatif 2019. Dari kiri Ismail Pribadi (lolos), Ayni Zuhroh (lolos) dan Suher Didieanto (tidak lolos.

IM.com – Dominasi calon incumbent di Dapil 5 Mojokerto (Bangsa, Mojoanyar, Kutorejo, Dlanggu) rupanya masih cukup kuat pada Pemilu Legislatif 2019. Ada enam petahana yang bakal kembali duduk di kursi DPRD Kabupaten Mojokerto 2019-2024, sedangkan empat orang lainnya tumbang.

Enam caleg incumbent yang merengkuh kursi DPRD yakni Ismail Pribadi (PDIP), Ayni Zuhroh (PKB), Hendun Nuryani (NasDem), Abu Rojad (PKS), Abdul Khoirul Fattah (Golkar) dan M Syaikhu Subhan (Hanura). Ayni Zuhroh yang sekarang duduk sebagai Wakil Ketua DPRD Kabupaten Mojokerto tercatat sebagai peraih suara terbanyak 8.213.

Sementara petahana yang gagal mempertahankan kursinya adalah Darman (PAN), Suher Didieanto (Demokrat), Saifuddin (Gerindra) dan Hamim Ghozali (PPP). Mereka kalah bersaing dengan empat wajah baru yang akan menggantikan kedudukan di parlemen yakni Yugus Tanti Arini (Demokrat), Mustakim (PAN), Achmad Anwar (PDIP) dan Mustakim (PPP).

Hasil rekapitulasi suara ini berdasarkan kalkulasi pemerhati dan praktisi riset politik, Didik Hendro. (Perolehan suara 10 caleg lolos lihat gambar).


Ada beberapa hal menarik yang bisa disorot dari pertarungan para caleg incumbent di Dapil 5 ini merujuk pada data rekap suara dari Didik Hendro.

Sebagai informasi, Ismail Pribadi yang berstatus incumbent dan urutan nomor 1, justru kalah suara dari pendatang baru Achmad Anwar. Ketokohan Ismail Pribadi di tingkat elit politik yang lebih mentereng ketimbang Achmad Anwar bukan jaminan pendongkrak suara di Pileg.

Politisi yang kini menjabat Ketua DPRD itu hanya berhasil mengumpulkan 5.775 suara.

Malah, suara Achmad Anwar yang melejit. Dengan 8.180 suara, mantan Kades Karangdieng, Kutorejo itu bahkan hanya satu tingkat di bawah Ayni Zuhroh, kalah 33 suara saja.

Bahkan boleh dibilang, lolosnya Sekretaris PDIP Kabupaten Mojokerto itu karena sedikit mujur mendapat berkah suara partainya yang tertinggi di Dapil 5. Betapa tidak, Ismail baru dipastikan lolos setelah pembagian bilangan ganjil tahap kedua atau yang terakhir di Dapil 5 (suara partai dibagi 3) dalam metode Sainte Lague Murni (SLM). (Baca: Ini Penjelasan Hitung Suara Kuota Hare Pemilu 2014 dan Sainte Lague 2019).

Hasilnya, Ismail lolos di peringkat ke sembilan. Kendati suaranya tetap kalah dengan M Syaikhu Subhan (Hanura) yang lolos urutan buncit karena suara partainya terendah di peringkat lolos parlemen.

“Kelolosannya sama saja terbantu caleg lain dari PDIP di Dapil 5,” kata Didik Hendro.

Artinya dalam metode penghitungan SLM ini, suara caleg meski kecil tetap punya kontribusi untuk partai. Apalagi bisa menolong rekan caleg dari partainya di dapil sama yang suaranya mendekati tingkat kelolosan tadi.

Cerita menarik lain tersaji dari kegagalan empat caleg incumbent. Caleg Partai Demokrat, Suher Didieanto disisihkan Yugus Tanti Arini.

Yang juga mengejutkan, sejak awal posisi Suher di daftar caleg Demokrat Dapil 5 lebih inferior dibanding Yugus. Tidak seperti lazimnya, sebagai satu-satunya calon petahana di dapil itu Suher malah ada di urutan kedua di bawah Yugus.

Bagaimanapun, nomor urut caleg di satu partai tetap menggambarkan status prestisius sang kandidat. Kendati urutan itu tidak berpengaruh langsung pada elektabilitas atau bukan penentu caleg tersebut lolos.

“Tapi nomor urut masih memberi dampak psikologis bagi pemilih. Kebanyakan pemilih, utamanya yang pengetahuan politiknya rendah, tidak mau repot-repot menyisir daftar nomor urut di surat suara,” jelas pengamat Komunikasi Politik Universitas Indonesia Lely Arrianie.

”Apalagi di pedesaan, mereka (pemilih) yang floating (tak punya pilihan pasti) biasanya banyak yang malas membaca seksama surat suara yang panjang, sering asal saja tak mau terlalu repot.”

Incumbent lain yang peruntungannya tak kalah buruk adalah Saifuddin dari Gerindra. Pada Pemilu 2014 lalu, Saifuddin masih bisa mengumpulkan
4.427 suara. Parahnya, partai pengusung capres Prabowo Subianto itu bahkan tak meloloskan satu pun calegnya ke DPRD Kabupaten Mojokerto.

Kemudian caleg PAN, Darman, harus tersingkir dari parlemen karena suaranya terbenam oleh pendatang baru, Mustakim. Ada faktor keberuntungan juga rupanya turut mengiringi Mustakim sukses menyisihkan Darman.

Sebab, caleg nomor urut 4 itu tercatat memperoleh suara paling rendah di antara 10 kontestan Pileg Dapil 1 Kabupaten Mojokerto yang akan melenggang ke Gedung DPRD. Nasib Mustakim yang hanya meraih 3.958 suara terangkat oleh suara partainya 13.362 di rangking keempat.

“Ini salah satu contoh lain bagaiamana partai besar dengan perolehan suara besar sangat diuntungkan oleh metode penghitungan SLM,” kata Didik Hendro.

Mustakim lain, caleg dari PPP meninggalkan cerita lain di balik keberhasilannya masuk rangking 10 besar di dapil 5. Berbekal nomor urut sama dengan caleg PAN tadi, pundi suara Mustakim PPP lebih baik (4.339) mengalahkan koleganya yang berstatus incumbent di urutan nomor 1, Hamim Ghozali.

Capaian itu ia peroleh setelah memutuskan hengkang dari Demokrat. Sebelum bergabung ke partai berlambang Ka’bah, Mustakim pernah menjabat sebagai Sekretaris PD Kabupaten Mojokerto.(im)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here