inilahmojokerto.com – Ratusan pelajar SLTP Sidoarjo dari SMP PGRI 9 dan SMP Muhammadiyah 10, duduk rapi di aula sekolah sambil sesekali mengangkat tangan, berebut menjawab pertanyaan tentang kejujuran, disiplin, hingga bahaya korupsi.
Mereka tak sekadar mengikuti seminar biasa, tapi kegiatan bertajuk Goes to School – Road Show Pendidikan Anti Korupsi – itu menjadi pengalaman baru yang membekas bagi mereka
Edukasi yang digelar Inspektorat Kabupaten Sidoarjo, Selasa (19/5/2026), tersebut disambut dengan penuh antusias.
Mereka tak hanya mendengarkan materi, tetapi juga diajak memahami bagaimana perilaku kecil sehari-hari bisa menjadi cikal bakal tindakan korupsi.
Bagi Tegar Anugerah, siswa kelas 8D SMP PGRI 9 Sidoarjo, kegiatan ini membuka cara pandangnya tentang dampak korupsi terhadap masyarakat dan negara.
“Ini pengalaman pertama saya mendapat ilmu tentang antikorupsi. Penjelasannya jelas sekali, jadi kami paham kalau korupsi itu sangat merugikan masyarakat dan membuat pembangunan terhambat,” ujarnya.
Ia mengaku materi yang diterima membuat dirinya semakin memahami pentingnya menjaga integritas sejak usia muda. Bahkan, ia berharap pelajaran tersebut bisa tertanam hingga dewasa nanti.
“Kalau suatu saat jadi pejabat, kita harus ingat jangan sampai melakukan korupsi,” tambahnya.
Hal senada disampaikan Samara Lubhna dan Sabila, siswi kelas 7C SMP Muhammadiyah 10 Sidoarjo. Keduanya menilai pendidikan antikorupsi penting dikenalkan sejak dini karena berkaitan erat dengan kebiasaan sehari-hari di sekolah.
Menurut mereka, perilaku seperti menyontek, berbohong, hingga bolos sekolah merupakan bentuk kecil yang harus dihindari sejak sekarang.
“Korupsi itu perbuatan buruk dan merugikan banyak orang. Jadi kita harus mulai dari diri sendiri, belajar jujur dan tidak menyontek,” ujar mereka kompak.
Dalam kegiatan tersebut, Auditor Inspektorat Sidoarjo, Waluyani Retno D, ST MT menjelaskan bahwa pendidikan antikorupsi bertujuan membangun pola pikir, pola hati, dan pola tindak yang berintegritas pada generasi muda.
Ia menegaskan, nilai-nilai antikorupsi bukan hanya teori, melainkan kebiasaan yang perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari jujur, disiplin, mandiri, bertanggung jawab, hingga berani berkata benar.
“Karakter kuat harus dibentuk sejak dini. Dari hal kecil, mulai dari sekarang,” katanya di hadapan para siswa.
Tak hanya mendengarkan materi, para siswa juga aktif berdiskusi dan memberikan contoh-contoh perilaku korupsi yang sering ditemui di lingkungan sekolah. Suasana interaktif itu membuat penyampaian materi terasa lebih dekat dengan kehidupan mereka sehari-hari.
Kepala SMP PGRI 9 Sidoarjo, Supi’in, M.Pd, mengaku bersyukur sekolahnya dipercaya menjadi tuan rumah kegiatan tersebut. Ia melihat antusiasme siswa menjadi tanda bahwa pendidikan karakter masih sangat relevan diterapkan di lingkungan sekolah.
“Anak-anak sangat antusias. Mereka dikenalkan sembilan karakter antikorupsi seperti jujur, mandiri, tanggung jawab, disiplin, peduli hingga kerja keras. Semoga ini menjadi bekal penting bagi mereka di masa depan,” ujarnya.
Melalui kegiatan ini, Inspektorat Sidoarjo berharap pendidikan antikorupsi tidak berhenti sebagai materi sosialisasi semata, melainkan menjadi budaya yang tumbuh dalam kehidupan generasi muda.
Sebab, membangun Indonesia yang bersih dari korupsi dinilai harus dimulai dari pembentukan karakter sejak bangku sekolah. (anto)











































