Perjalanan hidup Syekh Yusuf Al-Makassari dinilai menyimpan sejumlah nilai yang masih relevan bagi generasi muda saat ini. Dua di antaranya adalah sikap kosmopolitan dan ketekunan dalam menuntut ilmu.

inilahmojokerto.com – Perjalanan hidup Syekh Yusuf Al-Makassari dinilai menyimpan sejumlah nilai yang masih relevan bagi generasi muda saat ini. Dua di antaranya adalah sikap kosmopolitan dan ketekunan dalam menuntut ilmu.

Hal itu mengemuka dalam temu narasi refleksi 400 tahun Syekh Yusuf Al-Makassari yang digelar di Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Timur di Trowulan Kabupaten Mojokerto Rabu (16/09-2026). Diskusi tersebut tidak hanya membahas sejarah perjuangan Syekh Yusuf, tetapi juga bagaimana nilai kehidupannya diterjemahkan dalam konteks generasi masa kini.

Kyai Ahmad Kholili Kholil mengatakan, salah satu karakter kuat Syekh Yusuf adalah keterbukaannya terhadap dunia luar.

Menurutnya, Syekh Yusuf tidak hidup dalam ruang yang terbatas. Ia melakukan pengembaraan, mencari pengetahuan, bertemu berbagai tokoh dan membangun jaringan lintas wilayah.

“Syekh Yusuf itu tidak seperti katak dalam tempurung. Artinya Syekh Yusuf ini keluar dari zona nyaman,” ujarnya.

Karakter tersebut dinilai relevan di tengah kehidupan generasi muda yang saat ini sangat terhubung melalui teknologi dan media sosial.

Bagi Kholili, keterbukaan terhadap dunia tidak cukup hanya diwujudkan melalui kemampuan berinteraksi, tetapi juga harus dibarengi tujuan, integritas dan penggunaan pengaruh untuk hal yang bermanfaat.

Nilai lain yang dinilai menonjol adalah kemampuan Syekh Yusuf menerjemahkan pengetahuan keagamaan dan tradisi keilmuan ke dalam kehidupan masyarakat.

“Bagaimana menerjemahkan alam keulamaan yang harus kita kembali ke zaman Syekh Yusuf. Apa yang berkembang hari ini, bagaimana kita terjemahkan ke dalam kehidupan masyarakat yang hari ini berkembang. Itu adalah salah satu pelajaran dari Syekh Yusuf,” katanya.

Akademisi Dr. Ahmad Ginanjar Sa’bah kemudian menyoroti sisi lain yang menurutnya sangat relevan bagi generasi muda, yakni ketekunan Syekh Yusuf dalam menuntut dan mengembangkan ilmu.

Ia menyebut terdapat manuskrip yang menunjukkan Syekh Yusuf masih menghasilkan karya ketika berada dalam situasi perang gerilya sebelum akhirnya ditangkap.

Menurut Ginanjar, kondisi tersebut memperlihatkan bahwa aktivitas intelektual tidak ditinggalkan meskipun situasi yang dihadapi sangat sulit.

“Di tengah perang gerilyanya, Syekh Yusuf masih sempat-sempat mengarang kitab,” ujarnya.

Ia merujuk pada salah satu manuskrip dalam koleksi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia yang mencatat karya Syekh Yusuf ketika berada di wilayah Tasikmalaya.

Bagi Ginanjar, fakta tersebut menjadi pesan kuat untuk generasi sekarang: keterbatasan situasi tidak semestinya menjadi alasan untuk meninggalkan proses belajar.

Ia kemudian mengibaratkan ketekunan tersebut seperti kisah yang sering dilekatkan pada budaya belajar masyarakat Jepang, ketika seseorang tetap membaca dalam perjalanan meski berada dalam kondisi sulit.

“Artinya dalam kondisi sesulit apa pun, jangan tinggalkan ilmu pengetahuan,” tegasnya.

Dari Mojokerto, Menarik Kembali Jejak Syekh Yusuf

Diskusi tersebut kemudian berkembang pada upaya melihat kemungkinan jaringan intelektual Syekh Yusuf di Jawa Timur, termasuk Mojokerto.

Mojokerto menjadi salah satu wilayah di Jawa Timur yang dipilih dalam rangkaian kegiatan refleksi 400 tahun Syekh Yusuf Al-Makassari.

Pertanyaan mengenai kemungkinan hubungan jaringan keilmuan Syekh Yusuf dengan ulama-ulama di Jawa Timur dan Mojokerto menjadi salah satu hal yang menarik untuk ditelusuri lebih lanjut.

Ginanjar sebelumnya menjelaskan bahwa perjalanan Syekh Yusuf mempertemukannya dengan berbagai pusat keilmuan dan tokoh ulama. Salah satu wilayah penting dalam perjalanan tersebut adalah Banten yang pada masa itu berkembang sebagai pusat perdagangan, keilmuan dan hubungan internasional.

Karena itu, penelusuran jaringan intelektual Syekh Yusuf di berbagai wilayah Nusantara dinilai masih membuka ruang penelitian lebih lanjut.

Pembahasan mengenai Syekh Yusuf juga diarahkan pada bagaimana masyarakat memaknai kembali warisannya, bukan sekadar memperingati 400 tahun kelahirannya.

Ginanjar menilai salah satu aspek yang perlu diperkuat adalah budaya dan literasi wisata, terutama jika situs atau makam tokoh sejarah dikembangkan sebagai tujuan wisata religi dan intelektual.

Ia mengambil contoh sejumlah kota di luar negeri yang mengelola peninggalan tokoh agama dan intelektual sebagai bagian dari ekosistem wisata sejarah.

Menurutnya, pengembangan wisata religi perlu dibarengi budaya berkunjung yang baik, literasi sejarah serta pengelolaan situs yang memadai.

Dengan pendekatan tersebut, warisan Syekh Yusuf dapat ditempatkan bukan hanya sebagai objek ziarah, tetapi juga sebagai pintu masuk untuk mempelajari sejarah, pemikiran, perjalanan intelektual dan hubungan budaya Nusantara dengan dunia.

Bagi generasi muda, pesan Syekh Yusuf kemudian dapat dirangkum dalam nilai yang sederhana: berani keluar dari ruang yang terbatas, terus belajar, membangun pengetahuan lintas budaya dan tetap memegang integritas meski berada dalam situasi sulit.

7

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini