Kulit tidak lebih dari selembar kertas tisu tipis yang menempel pada manusia. Jika terkelupas, warna itu akan sirna.

inilahmojokerto.com – Salam sayangku padamu, cucu-cucuku, saudara-saudaraku, putra-putriku. Hari ini kita pergi ke Eropa untuk melihat pertemuan istimewa di mana tujuh atau delapan kelompok orang telah berkumpul.

Lihatlah, mereka memisahkan diri dalam tempat-tempat yang berbeda di ruangan itu sesuai warna kulit mereka yang berbeda. Kemarilah, mari berdiri di sini dan melihat apa yang sedang terjadi.

Apakah engkau melihat kelompok orang putih berdiri bersama? Dengarkanlah mereka secara seksama. Mereka semua mengatakan satu hal yang sama dengan bahasa yang berbeda-beda.

“Kami tidak ingin orang berkulit hitam di negeri kami. Ayo kita suruh mereka pergi. Kita semua orang putih, dan menganut agama yang sama. Kita harus bersatu! Kita hendaknya menjadi satu-satunya penduduk di negeri ini!”

Inilah yang dikatakan mereka, tetapi lihatlah apa yang dikenakan orang-orang putih itu. Tiga perempat dari mereka mengenakan pakaian hitam! Beberapa orang dari mereka bertopi hitam dan sebagian dari kalangan perempuan mereka itu mungkin mengenakan celana dalam berwarna hitam. Dan lihatlah pelayan yang menyuguhkan kopi dan teh. Seragam mereka adalah hitam dan putih.

Sekarang kemarilah, dan kita akan melihat keluar sebentar. Apakah engkau melihat anjing-anjing di luar sana? Anjing-anjing itu adalah kepunyaan orang-orang yang ada dalam pertemuan itu. Sebagian diikat dengan tali dan sebagian lainnya dikunci dalam mobil mereka.

Apakah mereka semua berbeda? Mereka adalah anjing hitam dan putih, anjing besar dan kecil. Bahkan sebagian mobil itu berwarna hitam dan sebagian berwarna putih. Tetapi, apakah orang-orang itu menyuruh mobil atau anjing mereka meninggalkan negeri ini?

Sekarang mari kita kembali ke dalam ruang pertemuan. Lihatlah, orang-orang dalam kelompok kulit hitam. Mari kita dengarkan apa yang mereka katakan. “Kita harus mengusir orang-orang kulit putih! Kita harus menghancurkan mereka!”

Mereka berbicara keras seperti halnya orang-orang berkulit putih. Tetapi mereka juga mengenakan pakaian yang berwarna-warni. Mereka juga mempunyai anjing, mobil, rumah, dan lain-lainnya yang semuanya berbeda warna, tetapi mereka menolak umat manusia karena warna kulit.

Orang akan memakai pakaian yang beraneka warna, tetapi mereka menyerang orang yang berwarna kulit lain dengan mereka. Mereka memakai pakaian pink, hijau, kuning, merah, dan biru. Gelas dan cangkir yang mereka gunakan untuk minum juga beragam warna.

Di rumah mereka tersimpan barang-barang dengan warna yang mereka benci. Mereka juga berkata, “Kita harus membasmi orang-orang itu. Kita harus menyingkirkan dan menghancurkan mereka!” Kelompok-kelompok itu membenci karena warna kulit.

Anak-anakku yang terkasih, Tuhan menciptakan kulitmu sebagaimana pakaianmu. Ia hanyalah jaringan kulit yang tipis dan halus yang mengandung zat warna. Namun, setiap orang ingin bertarung karena [perbedaan] warna kulit. Jika ia terkelupas, warna ini akan sirna. Kulit tidak lebih dari selembar kertas tisu tipis yang menempel pada manusia.

Dan juga, lihatlah berapa lama mereka telah mendebatkan masalah ini. Mereka mengadakan pertemuan yang membiarkan satu kelompok untuk menyerang kelompok lain. Pertemuan seperti ini akan merusak kesatuan dan kasih sayang Tuhan. Pertemuan semacam demikian menghancurkan cinta Tuhan.

Cucu-cucuku, jangan tumbuh seperti orang-orang tersebut! Jika kulit hitam atau putih dikelupas, maka tiap-tiap manusia akan tampak seperti ayam yang dikuliti. Tuhan melindungi manusia dengan jaringan kulit dengan cara yang paling indah, sebagaimana manusia melindungi diri dengan pakaian yang indah.

Tuhan juga menganugerahi ciptaan-Nya kemampuan untuk berbicara dengan indah. Dengarkanlah semua orang ini berbicara dengan bahasa yang berbeda. Tetapi, apakah yang mereka katakan? “Usir orang lain itu! Hancurkan mereka! Mereka tidak kelihatan seperti kita, Mereka tidak berbicara seperti kita.”

Orang-orang ini mempertengkarkan perbedaan dengan bahasa mereka yang beragam, meskipun suaranya sama. Apakah manusia itu aneh, anak-anakku? Mereka gunakan hidupnya untuk menyerang orang lain.

Lihatlah orang-orang yang dianggap pintar ini! Tetapi apa yang telah mereka pelajari tentang diri mereka, tentang cinta, kasih, atau kesabaran, tentang persatuan atau kebersamaan? Tidak ada. Mereka telah belajar apa pun, tetapi kebajikan macam apakah itu? Mereka tidak belajar tentang Tuhan dan sifat baik-Nya. Apa yang akan berhasil mereka lakukan adalah menghancurkan kedamaian Tuhan.

Cucuku, kalian harus memahami diri kalian sendiri dalam menghadapi setiap hal dan apa saja. Untuk setiap kesalahan yang engkau lihat di dunia luar, maka engkau harus melihat ke dalam dan bertanya pada diri sendiri, “Di manakah kekuatan yang ada dalam diriku? Dari manakah hal ini berasal?”

Ketika engkau temukan kesalahan di luar, cari dalam dirimu sendiri sampai menemukan kesalahan yang sama. Kemudian engkau harus memahami dan memeranginya. Ketika engkau telah memangkas semua itu dalam dirimu, engkau akan mendapatkan kebajikan dan sifat-sifat Tuhan.

Barulah engkau akan menjadi saudara untuk semua ciptaan dan tinggal di kerajaan Tuhan. Engkau tidak akan lagi mempunyai keinginan untuk menyerang perbedaan di luar sana, sebab engkau akan menyadari bahwa apa saja yang engkau lihat di luar sana ada di dalam dirimu juga.

Begitu luas museum dalam hati dan pikiranmu. Ia berisi tulang-tulang dari banyak zaman. Manusia juga mempunyai kebun binatang dalam dirinya, di mana segala burung dan binatang berwarna-warni berbicara. Semua makhluk mempunyai bahasa sendiri, dan semua bahasa ada dalam diri kita.

Tetapi tanpa kesadaran, manusia akan selalu berteriak, “Sukuku! Negaraku! Bahasaku! Agamaku! Kerajaanku!” Manusia masih tidak menyadari bahwa semuanya itu adalah kerajaan Tuhan.

Dia hanya melihat perbedaan agama, suku, bahasa, dan warna kulit. Lihat bagaimana satu kelompok menyerang dan membunuh yang lain hanya karena perbedaan. Tuhan itu Satu, tetapi orang tidak mempelajari kearifan-Nya. Penyembah adalah satu, anak keturunan Adam a.s. adalah satu, dan umat manusia adalah satu. Sayangnya manusia tidak memahami hal ini.

Semua ciptaan menyatu dengan Kerajaan Allah. Dia memberi mereka kehidupan, Dia memberi makan mereka, Dia menyaksikan mereka. Dia memanggil mereka kembali kepada-Nya, dan Dia mengadili mereka. Inilah kerajaan-Nya. Segala sesuatu adalah ciptaan-Nya dan milik-Nya.

Tubuh kita, kehidupan kita, kedua mata kita dan cahaya di dalamnya, telinga kita, dan seluruh kemampuan kita adalah milik-Nya. Dengan cara yang sama, kebenaran dan kearifan-Nya adalah milik setiap orang. Cinta, kasih, kesucian dan kesabaran-Nya adalah milik setiap orang. Tuhan milik setiap orang.

Tak seorang pun dapat berkata, “Matahari itu milikku.” Matahari itu untuk setiap orang. Tak seorang pun dapat berkata, “Bulan dan bumi adalah milikku.” Tuhan menciptakan mereka untuk setiap orang. Demikian juga, kebenaran dan keadilan milik setiap orang. Sifat-sifat Tuhan milik setiap orang. Siapa dapat mengatakan, “Milikku!” ketika segalanya adalah milik-Nya?

Siapa saja yang berteriak, “Milikku! Milikku!” akan menjerumuskan kebenaran dan kehidupannya ke dalam neraka, mendapatkan kepemilikannya di neraka. Dia meyakini hal-hal tersebut adalah miliknya tanpa disadari bahwa dirinya adalah penghuni neraka. Hal ini merupakan sebuah kesalahan.

Seandainya dia mengerti, dia akan berkata, “Neraka ini bukanlah kerajaanku. Aku berada di tempat yang salah. Aku harus menuju tempat yang tepat.” Seandainya dia mengerti, dia akan menemukan sifat Tuhan dengan suasana damai, tenang, nikmat, kasih, dan cinta.

Hanya kepemilikan demikianlah yang sejati. Barulah kemudian dia menjadi “anak” Tuhan dan mengerti bahwa tidak satu pun adalah miliknya dan bahwa segalanya adalah kepunyaan Tuhannya.

Cucu-cucuku, jangan pergi ke pertemuan seperti yang telah kita lihat sekarang ini! Pertemuan-pertemuan demikian itu adalah sia-sia. Pertemuan-pertemuan tersebut hanyalah untuk menyerang. Masing-masing orang siap membunuh orang lain. Jangan tanamkan jenis kebencian ini dalam dirimu.

Justru, kumpulkan sifat-sifat Tuhan dan selanjutnya lakukan pertemuan dalam dirimu. Undanglah kearifan dan keadilan-Nya bagi pertemuan itu dan buanglah hal yang salah dari dalam dirimu! Pekerjaan ini dimulai dari hatimu yang terdalam.

Buanglah keragu-raguan, kesalahan, dan kebencianmu. Buanglah jauh-jauh kesombongan, karmamu, kedengkian, dan kecemburuanmu, serta perasaan keakuanmu. Buanglah jauh-jauh musuh kerajaan Tuhan! Selanjutnya engkau akan menemukan kedamaian, ketenangan, dan cinta.

Dunia ada di seputar kita, tetapi kerajaan Tuhan, kerajaan yang anggun, di sini berada dalam hati kita. Kasihku padamu, cucu-cucuku. Kalian harus berpikir tentang hal ini. Kalian harus mengembangkan kesatuan dan cinta Tuhan kalian.

Temukan kedamaian dalam rumah Tuhanmu. Temukanlah keseimbangan dalam hidup. Amin. Semoga Tuhan menolongmu.

 

Sumber:
Buku Kebun Ma’rifat Vol.4
Oleh M. Rahim Bawa Muhaiyaddeen

5

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini