inilahmojokerto.com – Salam sayangku padamu, cucu-cucuku. Datanglah dan duduk di dekat pohon mangga. Aku mempunyai pertanyaan yang ingin kutanyakan pada pohon itu.
“Duhai pohon mangga yang indah yang memberi kami bayangan yang teduh, apakah kau mempunyai kedamaian? Jika kau punya, dapatkah kau ajarkan kepada kami bagaimana memiliki kedamaian? Kau tampak begitu sejuk dan tenang. Apa yang membuatmu seperti ini? Dapatkah kau katakan kepada kami?”
Anak-anak, mendekatlah dan dengarkan dengan seksama jawaban pohon mangga itu.
“Aku adalah anggota dari keluarga pohon, dan kalian adalah keluarga manusia. Aku tidak tahu jika kalian dapat memahami kedamaian kami. Meskipun Tuhan sudah memberi kalian pertimbangan, kearifan yang lembut, kearifan analitis, cahaya kearifan Ilahi, kalian juga memiliki sifat yang menyebabkan kalian mengambil buah kami, menebang kami, dan merusak kami.
Jika kalian ingin memperoleh kedamaian, janganlah menebang suatu pohon, meskipun itu berguna ataupun tidak. Dan jangan membunuh manusia, meskipun dia berbuat baik ataupun buruk.
Jika, karena rasa bangga dan mementingkan diri sendiri, kalian berpikir tentang balas dendam atau menipu dan menjatuhkan orang lain, atau membuat orang lain menderita, itu akan merusak kedamaianmu.
Keadaan pikiranmulah yang akan merusak kedamaian kalian. Tetapi jika kalian dapat mencegah pikiran-pikiran jelek, maka kalian akan mendapatkan kebahagiaan dan kedamaian. Inilah nasihatku untuk kalian.
Lihat padaku. Di sini aku berdiri di persimpangan jalan. Banyak orang berlaku seperti ini. Segera setelah aku mulai merekah, mereka melempar batu ke arahku dan membuat bungaku berguguran.
Mereka memanjat dan menggoyang cabang-cabangku, tetapi aku tak mempedulikannya. Bahkan ketika mereka memukul dan menggoyangku dan mengambil buahku, aku tetap merasa bahagia.
Sebagian manusia, burung-burung dan binatang lainnya menyukai buahku ketika masih mentah. Yang lainnya menyukai setelah matang. Sewaktu mereka menggigit buahku dan merasakannya, mereka bersuka ria dan damai, itulah yang memberiku kedamaian. Mereka menemukan kedamaian dengan memakan buahku dan merasa kenyang, itulah yang memberiku kedamaian.
Di saat aku merasa bahagia, maka aku merasa begitu sejuk dan kuberikan naungan kepada lainnya, yang menambah kedamaian dan kebahagiaan meraka. Ketika mereka merasa damai, aku pun damai. Itulah rahasiaku. Itulah yang membuatku tumbuh, menghasilkan buah, dan memberikan keteduhan yang sejuk.
Jika kalian manusia ingin bahagia, seharusnya kalian seperti aku ini. Apa pun yang terjadi di dunia ini, meskipun kalian disakiti atau diserang oleh musuh, seharusnya kalian tetap sabar dan menunjukkan cinta dan kasih.
Bila kalian menolong musuh-musuh kalian, maka kedamaian yang mereka peroleh akan kalian peroleh juga. Inilah nasihatku untuk kalian.”
Cucu-cucuku, apakah engkau mendengar dengan cermat apa yang dikatakan pohon mangga? Apakah engkau mengerti? Pepohonan itu mempunyai sifat-sifat baik yang banyak, meskipun mereka hanya diciptakan dengan tiga tingkat kesadaran.
Mereka hanya mempunyai perasaan, kesadaran dan kepandaian, tetapi Tuhan menciptakan kalian dengan empat tingkat kesadaran lebih tinggi yang baik. Tuhan memberi kalian kearifan yang agung. Bila kalian gunakan kearifan ini untuk mencapai kedamaian seperti paling tidak yang dinyatakan pohon mangga, kalian akan menemukan kedamaian dan ketenangan.
Cucu-cucuku, dalam perjalanan hidupmu, gunakan kearifanmu dengan cara ini. Jangan gunakan kepandaianmu untuk membalas dendam kepada orang lain, karena sementara engkau memburu orang lain, tanggung jawabmu sendiri akan porak-poranda.
Ketika kalian melakukan pekerjaan yang menyimpang itu, kalian akan tersesat dari jalan kalian. Jarak yang memisahkan kalian dengan Tuhan akan semakin lebar dan lebar, kalian pun akan sangat menderita.
Inilah yang terjadi di dunia. Seseorang yang memusatkan perhatian untuk menyakiti yang lain akan menghalangi jalannya sendiri. Dia melalaikan doa dan penyembahan serta melupakan sifat-sifat mulianya.
Karenanya, dia kehilangan kedamaian dan ketenteraman, dan hidupnya penuh dengan duka cita dan penderitaan. Tetapi siapa yang berpaling kepada Tuhan dan memusatkan diri pada sifat-sifatnya sendiri, pekerjaannya sendiri, dan jalannya sendiri, akan merasakan hidup yang istimewa dan abadi.
Kita datang ke alam ini atas perintah Tuhan, dan kita di sini harus hidup dengan perintah-Nya dan membangun hubungan kepada-Nya. Kita harus menjalankan kewajiban dengan cara ini untuk memenuhi perintah-perintah Tuhan dan kemudian kita harus kembali kepada-Nya.
Ini adalah tugas kita. Jika kita mampu mengerjakan itu, kita akan meraih kedamaian di dunia ini, di dunia nanti dan di dunia jiwa.
Cucu-cucuku, renungkanlah secara mendalam tentang hal ini. Tunaikan pekerjaan dan tugasmu. Bahkan ketika engkau diserang orang lain, jika engkau berbaik kepadanya, itu akan membawa kedamaian untukmu. Kasihku padamu. Jadilah seperti pohon mangga.
Sumber:
Buku Kebun Ma’rifat Vol.3
Oleh M. Rahim Bawa Muhaiyaddeen










































