Beberapa ikan tersebut melompat dengan sekuat tenaga dan mereka mencapai sepuluh hingga dua puluh kaki dalam satu lompatan.

inilahmojokerto.com – Salam sayangku padamu, cucu-cucuku, putra-putriku, saudara-saudaraku. Haruskah kita menjelajah? Saat ini sedang hujan lebat, dan air mengalir dari gunung ke laut.

Lihatlah! Apakah engkau melihat ikan yang berenang melawan arus sungai, mengapa ia meninggalkan samudera yang begitu banyak air? Mengapa ia harus meninggalkan tempat yang tidak pernah kering, tempat yang terus-menerus digenangi oleh air hujan?

Di sinilah, ikan berenang dengan gembira ke hulu, jauh dari laut. Ia tidak sendirian, cucu-cucuku. Lihatlah semua ikan yang lain, mereka jauh lebih banyak yang berenang ke hilir, mengikuti aliran sungai. Ikan ini suka berenang naik ke hulu. Di Amerika ikan ini dinamakan salmon, tetapi mereka dinamai dengan nama yang berbeda-beda di negara-negara seluruh dunia. Beberapa orang menamainya ikan pendaki, dan yang lainnya menamai ikan pelompat.

Anak-anakku, di mana kita berdiri di ketinggian ini setidaknya sekitar 40 kaki lebih rendah darinya, di situlah mula-mula sungai mengalir. Salmon berjuang untuk berenang sampai ke atas! Beberapa diantaranya berenang dengan kencang dan mereka dapat mencapai sepuluh sampai dua puluh kaki dalam satu lompatan. Mereka tampak seperti terbang. Kemarilah, ayo kita daki ke puncak gunung dan tanyakan pada ikan itu mengapa mereka melakukan hal ini.

Lihatlah ikan yang terbesar di sana, cucu-cucuku! Pergilah dan tanyakan kepadanya. Dengar dengan seksama apa yang ia katakan!

“Hai ikan! Sekarang kau sudah mendaki begitu tinggi, apakah kau merasa bahagia di sini?”

“Duhai tuan, aku tidak pernah merasa begitu puas. Dua tuan, apakah Anda seorang bijak?”

Tidak, aku hanyalah orang biasa. Hanya Tuhan-lah Yang bijaksana. Meski demikian, aku akan menanyakan sesuatu padamu. Dengan menggunakan otak yang dianugerahkan Tuhan padamu, kau mampu mendaki ke tempat yang tinggi. Aku ingin mengetahui bagaimana kau melakukannya. Dan apakah hal ini merupakan hidup yang baik bagimu? Apakah ini membuatmu bahagia?

“Oh ya! Istri dan keluargaku bersamaku di sini, dan kami tidak pernah begitu bahagia. Air di sini sangat jernih, laksana cahaya. Ketika kami berada di lautan, air terasa gelap dan suram. Kami tidak dapat melihat ke dasar air, kami tidak dapat melihat hal yang berada di atas kami, dan kami tidak melihat apa yang menempel di kepala kami.

Terkadang air berubah hitam atau merah. Terkadang kami pun tidak mengetahui di mana kami berada. Hal ini amat sulit! Tetapi di sini kami dapat memperlihatkan kekuatan kami dan menggunakan semua kekuatan kami. Dan di sini kami dapat bertahan dengan keseimbangan yang sempurna. Cukup bahagia kami di tempat ini!”

Duhai ikan, kau sudah meninggalkan tempat yang selalu banyak airnya, dan kau sudah datang ke tempat di mana volume air selalu berubah. Kelihatannya kau sudah menyimpulkan bahwa tempat di sini cukup air. Tetapi, kau sudah benar-benar pergi dari sesuatu yang banyak menuju sedikit, dari besar menuju kecil. Kau sudah pergi melawan tujuan hidupmu. Ketika kau meninggalkan alammu dan pergi ke tujuan yang berlawanan dengan arus air, bukankah kesulitan akan menimpamu?

Duhai ikan, genangan air jernih ini tidaklah abadi. Ketika kau mendaki lebih tinggi, kau mungkin mendatangi tempat yang tidak ada airnya. Ketika hujan berhenti, aliran air akan berkurang dan sungai menjadi kering. Lantas ke manakah kau akan pergi? Jenis kebebasan apakah yang akan kau miliki kemudian? Kebahagiaan jenis apa? Kau mungkin akan ditangkap oleh burung-burung atau ular, reptil atau manusia.

Dan yang demikian hanya akan membawa kesengsaraan, bukan kebahagiaan. Sebenarnya lebih baik jika kau kembali ke tempat aslimu dan tinggal di sana sampai akhir hayatmu. Jika kau tinggal di sini, maka kau akan mati sebelum waktunya. Apakah kau mengerti?

“Duhai manusia, jangan berusaha untuk menasihatiku! Aku tahu apa yang baik untuk diriku. Aku tahu apa yang akan memuaskan diriku. Tidak pernah sebelumnya aku mengalami kebahagiaan yang panjang seperti ini. Lihatlah betapa senangnya kami di sini, melompat dan berenang.

Aku tidak pernah merasakan kebebasan dan kesenangan di laut yang dalam. Engkau hanya berusaha mendorongku untuk meninggalkan tempat yang indah ini. Engkau seperti halnya manusia yang lain. Engkau tidak pernah membiarkan ikan mereguk kebahagiaan! Jangan percaya kepada manusia, itu yang selalu aku katakan!”

“Hai ikan, berpikirlah sedikit dan kau akan mengerti. Kau berenang terus menyusuri arus air, dengan mempercayai air ini, tetapi ia tidak selalu ada di sini. Ia tidak abadi. Ia tidak akan ada selamanya. Ketika kau melihatnya pertama kali maka kau kira indah. Nafsumu mengira hal ini adalah sumber kesenangan. Itu tidak berlangsung lama, sebelum kepalamu akan terlempar ke lumpur yang dangkal, maka kau akan terengah-engah. Barulah kau akan mengerti. Kenapa kau tidak mempunyai pemikiran demikian?”

“Wahai idiot yang terlahir sebagai manusia, engkau masih berusaha untuk merusak kedamaian dan kebahagiaan kami! Siapa sebenarnya dirimu yang datang ke mari dan membingungkan kami? Pergilah menjauh, hai tolol! Pikir urusanmu sendiri. Jangan beri kami nasihat, kami tidak ingin mendengarkannya. Segala sesuatu yang engkau katakan bertentangan dengan apa yang kami sukai.”

Baiklah. Aku akan meninggalkanmu, tetapi kita akan bertemu lagi.

Kemarilah cucu-cucuku, mari kita berjalan sedikit lagi. Suatu hari kita akan kembali ke sini.

Beberapa saat kemudian….

Oh, semenjak terakhir kami ada di sini, semua air bergerak turun ke laut, dan hanya ada sedikit air yang masih tersisa. Dapatkah engkau lihat semua ikan terjebak dalam tempat yang dangkal? Lihatlah, bagaimana mereka menggeliat dalam lumpur, menggapai-gapai masalah serius.

Burung-burung elang dan burung hering sedang berputar-putar di atas kepala mereka, menunggu mereka mati, dan orang-orang sedang melemparkan jala-jala mereka ke air, yang menjerat ikan-ikan itu. Mereka (ikan-ikan itu) cukup untuk memenuhi tiga truk.

Lihatlah! Di atas sana ada ikan besar yang kita temui sebelumnya. Ia dan keluarganya terjebak, tidak lagi dapat pergi ke atas atau bawah aliran sungai. Lihatlah, bagaimana mereka berkumpul bersama-sama untuk bersembunyi di genangan air yang berlumpur?

Oh ikan, bagaimana kau membebaskan dirimu sekarang? Apakah kau masih senang di sini? Bahagiakah kau sekarang?

“Bahagia? Kebanyakan anak-anak kami mati!” jerit ikan salmon besar.

Tetapi bagaimana bisa demikian? Kau telah mengatakan kepada kami bahwa kau bebas. Kau bersikeras bahwa kau telah mengetahui apa yang baik bagimu ketika kau meninggalkan tempat alamimu dan pergi ke arah yang berlawanan. Apakah kau masih berpikir bahwa tempat inilah yang terbaik bagimu?

“Aku tidak mau berbicara denganmu sekarang. Pergilah!”

Anak-anak, apakah engkau tahu mengapa ikan tersebut tidak bisa berbicara? Karena ikan itu tersengal-sengal. Lihatlah semua ikan tergeletak di palung sungai yang kering, terengah-engah, dengan mulut mereka yang terbuka.

Oh ikan, apakah ini yang kau sebut kebebasan? Makhluk sepertimu menjauh dari tempat yang tepat dan pergi ke arah yang bertentangan, yang mendorong ikan-ikan lain untuk mengikuti.

Kau tidak hanya membawa kematian bagi dirimu sendiri, tetapi juga kematian bagi mereka yang kau sesatkan. Sekarang kau terjebak dalam genangan kotor ini. Apakah kau memahami keadaanmu yang menyedihkan ini?

Lihatlah di sana. Sekelompok orang datang untuk menangkapmu. Burung-burung elang dan hering yang sedang melayang-layang di angkasa di atas kepalamu. Bahkan semut-semut sedang menunggu di dekatmu, siap untuk mengganyangmu. Keadaan ini adalah neraka, hai ikan.

Nafsumu, kedunguan yang kau banggakan, dan kesombonganmu telah membimbingmu ke arah kehancuran ini. Tidak ada sesuatu pun yang dapat menyelamatkanmu sekarang. Di sini tidak cukup air bagimu untuk bernafas. Kau harus pergi jauh untuk mendapatkan air yang cukup, dan kau tidak dapat hidup lama. Jika kau mendengarkan aku sejak semula, aku dapat menyelamatkanmu dan keluargamu, tetapi sekarang sudah terlambat.

“Tinggalkan kami sendirian, bodoh! Pikirkan dirimu sendiri dan berhentilah berusaha untuk membuat kami lebih buruk. Mungkin kelihatannya kami menghadapi masalah sekarang, tetapi kami akan segera dapat menyelamatkan diri. Engkau akan lihat! Tidak lama lagi air di sini akan melimpah.”

Baiklah, ikan, kami akan meninggalkanmu.

Anak-anak, apakah engkau melihat bagaimana ikan itu berusaha terus untuk menceburkan diri mereka dengan ekornya meskipun ia tersengal-sengal dan selain itu pula di sini airnya sangat sedikit? Oh baiklah, tidak ada sesuatu pun yang dapat kita lakukan di sini. Saatnya kita pergi.

Cucu-cucuku, demikianlah keadaan makhluk ini, dan manusia juga seperti ini. Dia menemukan kebahagiaan dalam luapan air ilusi yang merepotkan, seperti ikan salmon yang senang melompat ke hulu. Segala sesuatu yang dia pikir sebagai kebahagiaan dia lihat terbentang di hadapannya, seolah-olah dia berada di depan sebuah cermin.

Dia melihat sesembahannya, cinta, kekayaan, permainan seksual, seluruh hasratnya terpenuhi. Dia membayangkan emas, perak, tanah, dan rumah yang menunggunya. Semua yang dia lihat dengan matanya menyenangkan hatinya. Tetapi setelah ilusi itu menghilang, dia terjebak dalam neraka, tersengal-sengal dalam selokan hawa nafsu. Keadaannya kemudian lebih rendah daripada keadaan ikan itu. Dalam keadaan inilah manusia dan makhluk-makhluk lain terlempar ke neraka dalam air yang dijauhi kebenaran.

Ketika manusia berada dalam kebenaran, dia tidak melihat segala hal yang sekarang dia anggap menyenangkan. Tetapi dalam keadaannya sekarang, dia hanya merebut kesenangan-kesenangan kecil, karena sungguh sulitlah untuk mencerna lapisan-lapisan kebenaran.

Cucu-cucuku, kebenaran mengalir pada satu arah, tetapi pikiran dan nafsu mengalir dengan arah yang berlawanan, yakni arah kejahatan. Mereka tidak dapat mengalir dengan arah yang sama dengan kebenaran.

Pikiran dalam kelambanannya itu senang menyaksikan keajaiban-keajaiban dunia. Ia tidak memahami bahwa apa yang ia lihat di luar hanyalah cermin dari apa yang ada di dalam. Pikiran dapat terbang lebih cepat dari angin, dan di mana saja ia terbang, nafsu senantiasa mengikuti di belakang dengan penuh gembira, mencari keajaiban-keajaiban.

Pikiran kera melihat kebahagiaan dalam ras dan agama serta melompat ke arah itu. Dan dengan mengikuti pikiran serta nafsunya, harta benda dan kecintaan-kecintaannya, manusia berenang menjauhi tempat cahaya di mana Tuhannya, berada dalam kesempurnaan.

Dia meninggalkan barat dan mengembara ke timur. Manusia, yang seharusnya berenang menuju Tuhan, berenang dalam arah yang berlawanan menuju neraka. Makhluk berenang menuju selokan gelap kebodohan dan neraka. Jadi, manusia menderita seperti ikan salmon yang terlempar dalam tempat yang dangkal.

Tetapi engkau tidak bisa mengatakan apa pun kepadanya. Dia menolak untuk memahami wilayah Tuhan dan sifat-sifat-Nya. Dia tidak akan berpaling pada keadilan Tuhan, demikian pula dia tidak akan berperilaku secara benar melayani Tuhan dengan cinta, kebenaran, dan kearifan.

Akalnya hanya melihat pada apa yang dipikirkannya itu dapat menyenangkannya. Tiada masalah seberapa banyak engkau menasihatinya, dia akan mencaci-makimu, seperti halnya ikan mencaci kita. “Tinggalkan aku sendirian!” jeritnya.

“Memangnya siapa engkau ini, berani menasihati aku? Aku tahu segala segalanya dan engkau hanyalah seorang yang tolol! Aku tidak pernah sebahagia ini. Cara hidup inilah yang disebut kebebasan, dan kebahagiaan ini akan abadi.” Manusia berkata seperti ini.

Cucu-cucuku, tidaklah mudah untuk hidup di sisi Tuhan, untuk hidup dengan kebenaran, cinta, kearifan, keadilan, kasih sayang, toleransi, kedamaian, kesadaran, kesatuan, dan sifat-sifat baik. Sepanjang musim ketika air ilusi sedang meluap, sangat mudahlah untuk berjalan menuju ilusi, menuju timur. Sungguh mudah untuk hidup di sisi dunia.

Jadi, manusia berjalan ke arah tersebut dan mereka bahagia, tetapi hanya untuk waktu yang singkat. Segera air berhenti mengalir dan sungai berubah jadi lumpur. Maka, karena tidak tahu bagaimana menghindar atau ke mana akan pergi, manusia menjadi mangsa bagi ular, burung, iblis, dan setan.

Tidak ada makhluk yang mencintai karma dan hawa nafsu sebesar manusia mencintainya.

Dari semua makhluk, manusia adalah makhluk yang paling sombong dan congkak serta memiliki ego yang paling besar. Dia juga sangat bodoh. Tidak ada makhluk yang sifat-sifatnya lebih berbahaya atau lebih jahat. Tidak ada makhluk apa pun yang seperti manusia.

Anak-anakku, jangan melemparkan diri ke aliran pikiran dan hawa nafsu yang gemerlapan Pada mulanya mereka menjanjikan kebahagiaan dan keajaiban, tetapi penderitaan akan mengikutinya. Ketika engkau mencapai kearifan, maka engkau akan memahami.

Dengan keyakinan, kepastian, dan keteguhan hati yang dikenal dengan iman, pelajarilah sifat-sifat Tuhanmu. Tidak ada sesuatu pun yang dapat dibandingkan dengan keindahan Tuhan. Dia adalah kekuatan abadi, tidak berakhir, tidak berkurang, tidak berubah, kekal abadi. Dia adalah keindahan Yang asli dan alami, Sang Kebenaran.

Setelah engkau pelajari keindahan-Nya sedikit demi sedikit, maka kekuatan-Nya akan terbentang tak berakhir. Keindahan ini merupakan kekayaan hidupmu, harta keagungan, cinta, kearifan, dan kasih sayang. Pahamilah ini, cucu-cucuku.

Saksikan, apakah engkau melihat semua ikan yang mati? Inilah cara petualangan mereka berakhir. Tidak ada yang tersisa dari mereka kecuali bau busuk dari daging yang membusuk, bau busuk dari neraka yang paling hina. Semuanya itu bertentangan dengan kebenaran. Pahamilah apa yang bertentangan pada dirimu, dan jalanilah kehidupanmu dengan benar.

Kasihku padamu, cucu-cucuku. Renungkanlah tentang hal ini. Pahamilah keadaan yang menyedihkan dari ikan di atas.

 

 

Sumber:
Buku Kebun Ma’rifat Vol.4
Oleh M. Rahim Bawa Muhaiyaddeen

6

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini