
inilahmojokerto.com – Di tengah derasnya arus budaya digital yang terus mengubah cara generasi muda menikmati seni, sebuah ruang alternatif hadir di Dewan Kesenian Surabaya (DKS). Selama dua malam berturut-turut, Selasa dan Rabu (28–29 April 2026), panggung seni ini menjadi tempat bertemunya tradisi dan inovasi dalam pertunjukan Wayang Indie Kontemporer.
Digelar tanpa biaya tiket masuk, pertunjukan ini menjadi langkah nyata dalam membuka akses budaya yang lebih inklusif bagi masyarakat. Publik diajak menikmati kembali kisah-kisah agung dari Ramayana dan Mahabharata—bukan sekadar sebagai warisan cerita, melainkan sebagai refleksi nilai kehidupan yang tetap relevan hingga kini.
Namun, yang ditawarkan bukanlah pertunjukan wayang dalam bentuk konvensional. Wayang dihadirkan sebagai ruang dialog antara masa lalu dan masa kini, menjelma menjadi medium yang mampu berbicara tentang moralitas, konflik batin, hingga pencarian makna manusia modern.
Rangkaian acara dibuka dengan Tari Remo, tarian khas Jawa Timur yang dibawakan melalui kolaborasi dengan Sanggar Seni Omah Ndhuwur dari Dupak Bangunrejo, Surabaya. Gerak dinamis para penari seolah menjadi pintu masuk menuju suasana pertunjukan yang sarat makna.
Suasana kemudian beralih ke pembacaan puisi oleh Rara J.R. yang menghadirkan nuansa reflektif. Puisinya menjadi jembatan naratif, mengantarkan penonton memasuki tema-tema yang akan diangkat dalam lakon wayang.
Memasuki inti pertunjukan, dalang Heru Dharma tampil dengan pendekatan yang lebih bebas, komunikatif, dan eksperimental. Meski demikian, ia tetap menjaga pijakan pada pakem cerita, menghadirkan keseimbangan antara tradisi dan inovasi. Narasi, dialog, visual, serta elemen teatrikal dirangkai menjadi pengalaman yang terasa dekat dengan realitas sosial masa kini.
Tak kalah penting, iringan musik hidup menjadi denyut emosional sepanjang pertunjukan. Sigit Laksono bersama Arul Lamandau menghadirkan komposisi yang memadukan gamelan dengan instrumen modern seperti keyboard, gitar, dan drum. Perpaduan ini menciptakan lanskap bunyi yang segar dan dinamis, menjembatani selera lintas generasi.
Lebih dari sekadar tontonan, Wayang Indie Kontemporer menjadi upaya reinterpretasi. Wayang tidak lagi diposisikan sebagai artefak masa lalu, melainkan sebagai medium hidup yang terus berkembang. Di panggung inilah, pewayangan menemukan napas barunya—tetap berakar kuat pada tradisi, namun berani tumbuh mengikuti zaman. (uyo)








































