Survei SMRC Juli 2026 menunjukkan 49,4 persen warga menilai kondisi ekonomi Indonesia memburuk. Tingkat kepuasan terhadap Presiden Prabowo Subianto turun menjadi 51,1 persen.

inilahmojokerto.com – Survei terbaru Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) menunjukkan persepsi masyarakat terhadap kondisi ekonomi Indonesia mengalami penurunan tajam. Dalam survei yang dilakukan pada 5–19 Juli 2026, sebanyak 49,4 persen responden menilai kondisi ekonomi nasional berada dalam kategori buruk hingga sangat buruk.

Temuan tersebut juga diikuti penurunan tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Presiden Prabowo Subianto, yang kini berada di angka 51,1 persen, turun sekitar 30,1 poin persentase dibandingkan hasil survei pada November 2025 yang mencapai 81,2 persen.

Berdasarkan hasil survei SMRC, sebanyak 37,9 persen responden menilai kondisi ekonomi Indonesia dalam keadaan buruk, sedangkan 11,5 persen menyebut sangat buruk. Artinya, hampir separuh masyarakat memandang kondisi ekonomi nasional sedang mengalami kemunduran.

Sementara itu, hanya 15,7 persen responden yang menilai kondisi ekonomi berada dalam kategori baik, sedangkan 33,9 persen lainnya menganggap situasi ekonomi masih dalam kondisi biasa saja.

Direktur Eksekutif SMRC, Deni Irvani, mengatakan persepsi negatif terhadap ekonomi kini telah menjadi pandangan dominan di masyarakat.

“Hanya sekitar 15,7 persen warga yang melihat kondisi ekonomi nasional secara positif. Sebaliknya, sekitar separuh masyarakat, 49,4 persen, menilai kondisi ekonomi buruk atau sangat buruk,” ujar Deni, dikutip dari Kompas.com, Minggu (26/7/2026).

Menurut Deni, perubahan persepsi tersebut terjadi sangat cepat. Pada survei November 2025, hanya 22,7 persen responden yang menilai kondisi ekonomi buruk atau sangat buruk. Angka itu meningkat menjadi 31,7 persen pada Februari–Maret 2026 sebelum melonjak menjadi 49,4 persen pada Juli 2026.

Survei yang sama juga menunjukkan tingkat kepuasan publik terhadap pemerintahan Presiden Prabowo mengalami penurunan signifikan.

Sebanyak 4,8 persen responden mengaku sangat puas, sedangkan 46,3 persen menyatakan cukup puas, sehingga total tingkat kepuasan mencapai 51,1 persen.

Di sisi lain, 35 persen responden menyatakan kurang puas, 11,9 persen mengaku tidak puas sama sekali, sementara 2,1 persen tidak memberikan jawaban.

SMRC juga mencatat kelompok masyarakat yang menyatakan tidak puas atau sangat tidak puas terhadap pemerintahan Prabowo meningkat drastis, dari 16 persen pada November 2025 menjadi 46,9 persen pada Juli 2026.

Menurut Deni Irvani, penurunan tingkat kepuasan publik tidak terjadi secara terpisah, melainkan berkaitan dengan persepsi masyarakat terhadap berbagai aspek pemerintahan.

“Approval rating tidak datang dari hampa. Penurunan kepuasan terhadap kinerja Presiden Prabowo terjadi bersamaan dengan memburuknya penilaian masyarakat terhadap kondisi ekonomi, politik, dan penegakan hukum,” katanya.

Survei bertajuk “Kondisi Ekonomi Politik dan Approval Rating Presiden” melibatkan 749 responden yang dipilih secara acak dari seluruh warga negara Indonesia yang telah memiliki hak pilih.

Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara tatap muka dan telepon pada 5–19 Juli 2026.

SMRC menyebut survei tersebut memiliki margin of error ±3,7 persen. Dengan tingkat kesalahan tersebut, perbedaan hasil survei baru dinilai signifikan secara statistik apabila mencapai sedikitnya 7,4 persen atau dua kali margin of error.

Temuan ini menunjukkan bahwa persepsi masyarakat terhadap kondisi ekonomi menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi tingkat kepercayaan publik terhadap pemerintah. Di tengah tantangan pemulihan ekonomi dan dinamika kebijakan nasional, hasil survei tersebut menjadi indikator penting dalam evaluasi kebijakan pemerintah ke depan.

7

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini